back to top
Senin, Oktober 5, 2026

PBB Sebut 11,7 Juta Perempuan di 28 Negara Terancam Krisis Pangan

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa sekitar 11,7 juta perempuan dan anak perempuan di 28 negara berisiko mengalami kerawanan pangan akibat meningkatnya konflik di Timur Tengah serta gangguan di Selat Hormuz. Kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga pangan sekaligus mengganggu sumber penghidupan masyarakat.

Dalam analisis terbarunya, UN Women memperkirakan sekitar 22 juta orang lainnya dapat mengalami kerawanan pangan dalam skenario dampak moderat. Dari jumlah tersebut, perempuan dan anak perempuan diperkirakan mencapai 53 persen.

Tambahan jumlah tersebut akan memperburuk kondisi sekitar 208 juta perempuan dan anak perempuan yang saat ini telah menghadapi kerawanan pangan atau kekurangan gizi di negara-negara yang menjadi cakupan kajian.

Dilansir dari Antara, Wakil Direktur Eksekutif UN Women, Neradzayi Gumbonzvanda, mengatakan negara-negara dengan jumlah penduduk yang besar juga memiliki populasi perempuan dan anak perempuan yang paling banyak berisiko terdampak krisis pangan.

Di sisi lain, sejumlah negara seperti Sudan, Sudan Selatan, Yaman, Palestina, dan Haiti berada dalam kategori risiko tinggi. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh berbagai persoalan yang saling berkaitan, mulai dari konflik dan pengungsian hingga lemahnya kondisi ekonomi.

Gumbonzvanda menuturkan, perempuan dan anak perempuan sering kali menjadi kelompok yang menanggung dampak paling berat ketika terjadi krisis pangan. Dalam situasi tersebut, mereka tidak jarang mengurangi porsi makanan atau bahkan memilih tidak makan demi memastikan kebutuhan anggota keluarga lainnya tetap terpenuhi.

Baca Juga:  Habib Husein: Perlu Kanalisasi dan Advokasi Isu Palestina

Kerentanan tersebut semakin diperparah oleh masih adanya kesenjangan dalam akses terhadap pekerjaan, layanan keuangan, serta berbagai sumber daya ekonomi.

UN Women menyerukan langkah penanganan yang terintegrasi untuk menghadapi ancaman tersebut. Upaya itu mencakup penguatan bantuan pangan dan bantuan tunai, program perlindungan sosial dan penghidupan, dukungan bagi sektor pertanian, serta penyaluran sumber daya ke wilayah yang paling rentan.

Selain itu, UN Women mendorong peningkatan pengumpulan data mengenai kondisi perempuan dan anak perempuan. Data yang lebih akurat dinilai penting untuk mengidentifikasi kelompok yang paling terdampak sehingga bantuan dapat diberikan secara tepat sasaran.

Gumbonzvanda menegaskan bahwa penanganan krisis pangan tidak cukup hanya mengandalkan respons kemanusiaan. Upaya tersebut juga harus disertai langkah menjaga perdamaian dan keamanan, mendorong de-eskalasi konflik, serta memperkuat dukungan terhadap solusi diplomatik guna menciptakan stabilitas di tingkat regional maupun global.

(MS)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru