Pluralisme Otentik ala Muhammadiyah - IBTimes.ID
PerspektifTajdida

Pluralisme Otentik ala Muhammadiyah

4 Mins read

Pluralisme Muhammadiyah | Pada Qs. Al-Hujurat ayat 13, Allah berfirman, “Wahai Manusia! Sesungguhnya aku menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya, orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal.”

Dengan kata lain, manusia tak hanya bebeda dari segi fisiknya, manusia juga berbeda dari akal dan fikirannya.

Keragaman di Indonesia

Suku bangsa di Indonesia sangat banyak, Indonesia memiliki lebih dari 300 etnik (suku bangsa) atau lebih tepatnya terdapat 1.340 suku bangsa di tanah Air menurut sensus BPS tahun 2010.

Hal ini mengakibatkan percampuran budaya dan perbedaan paham (pluralisme), sehingga tidak semua masyarakat Indonesia bisa memahami dan menghargai perbedaan yang ada.

Makna Pluralisme

Pluralisme sering disalahartikan menjadi keberagaman paham yang pada akhirnya memicu ambiguitas. Pluralisme terdiri dari dua kata Plural (Beragam) dan Isme (Paham) yang berarti paham atas keberagaman.

Pluralisme telah menjadi jalan beragama sebagian orang maupun kelompok. Manusia diberikan segala kebebasan oleh Tuhan untuk memilih jalan hidupnya. Namun, jika kita telusuri lebih dalam lagi, Tuhan telah menggariskan jalan hidup manusia lima puluh ribu tahun sebelum manusia diciptakan. Maka, dengan pernyataan ini kita harus berpikir lebih dalam lagi mengenai jalan beragama manusia. 

Sejatinya, toleransi umat beragama bukanlah suatu masalah di dalam Islam . Karena memang Islam  telah menunjukkan dirinya sebagai agama yang rahmatan lil alamin, bermanfaat, ramah, dan mengasihi semua makhluk. Maka pluralisme bukan lagi berbicara tentang antar agama.

Di dalam agama, pluralisme telah selesai. Ia telah melekat pada kesempurnaannya yang langsung disempurnakan oleh sang pencipta. Dengan demikian, ketika kita membahas pluralisme, maka kita sudah harus berbicara pada unsur humanismenya. Bagaimana kemudian toleransi tumbuh dalam jiwa manusia dan sesuatu yang tumbuh mestilah diawali dengan proses penanaman.

Baca Juga  Norma Baru Gowes di Era New Normal

Pluralisme dan Puritanisme

Selama ini, persepsi umat Islam  tentang wacana pluralisme memang cenderung negatif. Pluralisme masih dimaknai sebagai kecenderungan untuk berpindah-pindah, mencampuradukkan, atau tidak berterus terang terhadap keyakinan agama.

Padahal, dalam implementasinya, pluralisme dapat berwujud sikap terus terang dan berpegang teguh pada suatu keyakinan. Namun, pada saat yang bersamaan, bisa menerima orang lain yang berbeda keyakinan.

Pluralisme positif ini seperti halnya prinsip Islam tengahan. Muhammadiyah patut menjadi contoh Islam tengahan yang bisa menerima kelompok lain yang berbeda keyakinan. Namun, tanpa menghilangkan jati dirinya sebagai kelompok Islam.

Hal ini dibuktikan dengan Muhammadiyah mendirikan sekolah-sekolah di NTT (Nusa Tenggara Timur) yang minoritas muslim, dan juga mendirikan Universitas di Sorong (Papua).

Lalu, apakah gerakan yang dilakukan Muhammadiyah disebut islamisasi di tengah mayoritas non muslim? Apakah para pengelola dan murid di sekolah-sekolah Muhammadiyah di NTT dapat disebut sebagai aktivis Muhammadiyah? Inilah fakta sosial yang begitu kompleks dan butuh penjelasan teoritis dan praktis tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi di sekolah-sekolah Muhammadiyah di NTT.

Dalam kasus ini Muhammadiyah mencoba mengubah cara pandang baru dalam memaknai hakikat dakwah islamiyah kepada kelompok non-muslim yang tidak mengharuskan mereka menjadi muslim.

Modifikasi penyampaian mata pelajaran Al-Islam  pun sudah dilakukan Muhammadiyah agar kelompok non-muslim cukup tau dalam mengenal Islam. Sehingga, terbangun prinsip saling memahami antar keyakinan.

Hal ini menerangkan juga, bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan Islam puritan yang pluralis atas dasar prinsip egaliter, mampu bersanding bahkan berkolaborasi dengan para penganut Agama Katolik adalah suatu keniscayaan.

Inilah praktik toleransi otentik Muhammadiyah sebagai gerakan Islam dengan manhaj salafi-reformis yang ternyata mampu berkolaborasi dengan kelompok non-muslim (puritan yang pluralis).

Baca Juga  Kejujuran Tara Basro, Kenaifan Kemenkominfo

Muhammadiyah, Pluralisme, dan Toleransi Otentik

Lebih jauh lagi, Muhammadiyah telah mempraktikan toleransi otentik lewat jalur pendidikan dengan seperangkat komponennya (manajemen, kurikulum, dan lain-lain) yang tidak bertujuan mengislamkan warga Katolik di NTT dan Papua, tetapi hanya cukup untuk mengenal Islam dan Muhammadiyah sehingga terbangun prinsip saling memahami perbedaan antar keyakinan. 

Inilah yang ditampilkan Muhammadiyah dari dulu. KH. Ahmad Dahlan tidak memilih argumentasi verbal yang justru menghasilkan debat kusir berkepanjangan, melainkan memilih sikap nyata dalam kehidupan.

Seperti saat KH. Ahmad Dahlan berpakaian menggunakan sorban disertai baju jas ala Belanda (sinyo Londo).

Sebenarnya, beliau ingin menyampaikan dua argumentasi; pertama, bahwa adaptasi dan adopsi terhadap budaya non-muslim diperbolehkan selama tidak merusak syariat, akidah, dan akhlak, serta memiliki nilai maslahah (manfaat).

Kedua, bahwa perkara yang tidak diperkenankan dalam tasyabuh adalah terkait ibadah dan akidah. Di sinilah berlaku hukum lakum diinukum walii yadiin (agamamu-agamamu, agamaku-agamaku). Itulah sebabnya rumusan tajdid Muhammadiyah ada dua hal; 1) purifiksi dalam urusan Ibadah dan Aqidah; 2) dinamisasi dalam urusan mu’amalah duniawiyah.

Seperti yang sudah dijelaskan pada Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 143, “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam ), ‘umat pertengahan’ agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.”

Baca Juga  Selamat Jalan Dr. Najamuddin Ramli, Kader Militan Muhammadiyah

Islam Wasathiyah

Islam Washathiyah (pertengahan) inilah yang menjadi gerakan Muhammadiyah dari dahulu hingga sekarang. Untuk menjadi Ummatan Washathon, setidaknya harus memiliki empat sikap.

Pertama, bersikap adil. Muhammadiyah harus menjadi umat atau kelompok (entitas) Muslim yang menjaga keadilan. Dalam kondisi apapun Muhammadiyah harus berupaya menjadikan keadilan sebagai dasar dan sikap perjuangannya.

Kedua, bersikap tawazun (seimbang). Muhammadiyah harus seimbang dalam segala hal, baik perkara dunia maupun agama. Dalam urusan dunia berlebih-lebihan sering disebut juga israf. Sementara berlebih-lebihan dalam urusan agama disebut ghuluww. Dalam wilayah keilmuan, Muhammadiyah harus objektif dengan meninggalkan fanatisme atau taqlid.

Ketiga, bersikap ihsan (yang terbaik). Dalam bahasa Arab, kata wasathan juga bermakna ihsan. Berarti, menjadi ummatan washathan adalah menjadi umat dengan sikap terbaik. Berusaha menunjukan dan menjadi yang terbaik di segala hal.

Kempat, bersikap ishlah (yang mencerahkan). Jadi, ummatan washathan adalah umat yang cinta perdamaian dalam pengertian aktif, bukan pasif. Perdamaian di sini bukan seperti toleransi dan sikap inklusif, yang membolehkan perbedaan namun di dalam hati menyimpan kecurigaan. Wallahu a’lam.

Editor: Yahya FR

Print Friendly, PDF & Email
Avatar
2 posts

About author
Kabid PIP PD IPM Brebes
Articles
Related posts
Perspektif

Bolehkah Menjual Daging Kurban?

2 Mins read
Menurut Jumhur Ulama Salaf, menjual daging atau bagian kurban hukumnya adalah makruh mendekati haram. Dalam artikel Fiqih Kurban, maksud dari bagian kurban…
Perspektif

Cara Menjaga Kesehatan Hewan Qurban

2 Mins read
Umat Islam merayakan hari raya Idul Adha setiap tahun, biasa dikenal sebagai hari raya Qurban. Hari raya Idul Adha adalah hari besar…
Perspektif

Bagaimana Pendidikan yang Ideal itu?

4 Mins read
Kemajuan suatu bangsa bergantung kepada kualitas masyarakatnya. Bangsa Indonesia memiliki jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa yang harus dikelola dengan bijaksana…

Tinggalkan Balasan