back to top
Selasa, Maret 10, 2026

Prediksi Perbedaan Syawal 1447 H Antara KHGT Dengan Neo-MABIMS

Lihat Lainnya

Dr. Aji Damanuri, M.E.I
Dr. Aji Damanuri, M.E.I
Dekan FEBI UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) telah resmi digunakan oleh Muhammadiyah sejak 1 Muharam 1447 H yang bertepatan dengan 25 Juni 2025 M. KHGT kini telah menjadi sistem kalender yang digunakan oleh Muhammadiyah secara resmi untuk mengekspresikan kalender hijriah. Sebelumnya beberapa sistem kalender hijriah telah digunakan, salah satunya yang relatif dikenal adalah sistem kalender yang berdasarkan hisab hakiki Wujudul Hilal (WH).

Pada saat itu, selain Muhammadiyah, ada juga kalender Ummul Quro (Arab Saudi) yang sama dengan WH namun untuk implementasinya sedikit banyak ada perbedaan. Juga di Indonesia, saat Muhammadiyah masih berpedoman dengan WH tidak ada satupun umat Islam di Indonesia yang menggunakan sistem kalender yang berbasis WH selain Muhammadiyah. Pada saat Muhammadiyah berpedoman dengan WH, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama menggunakan kriteria MABIMS lama. Sejak tahun 2022 telah muncul kriteria MABIMS terbaru, yang pada tulisan ini penulis sebut dengan Neo-MABIMS.

Seperti tulisan awal, penggunaan sistem kalender hijriah di Muhammadiyah juga mengalami perubahan, dari Wujudul Hilal (WH) ke sistem kalender hijriah yang berbasis Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Perjalanan panjang perubahan Muhammadiyah ke KHGT tidak hanya pada tahun 2025 saat secara resmi digunakan. Jauh sebelum tanggal 25 Juni 2025, beberapa momen penting yang menjadi tonggak perjalanan KHGT di Muhammadiyah, beberapa diantara:

  1. Lahirnya rekomendasi Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar tahun 2015 yang salah satu poinnya berbunyi: “Penyatuan kalender Islam”,
  2. Keikutsertaan perwakilan Muhammadiyah, yaitu Prof. Syamsul Anwar, M.A., pada kegiatan Kongresn Penyatuan Kalender Hijriah Global di Turki pada tahun 2016,
  3. Lahirnya “Risalah Islam Berkemajuan” sebagai salah satu hasil dari Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Surakarta, pada Sub “Pengkhidmatan Global” yang menyatakan “…melakukan perbaikan sistem waktu Islam secara internasional melalui upaya pemberlakuan kalender Islam global unifikatif dalam rangka menyatukan jatuhnya hari-hari ibadah Islam, terutama yang waktu pelaksanaannya terkait lintang Kawasan.” (Buku “Risalam Islam Berkemajuan (Keputusan Muktamar ke-48 Muhammadiyah tahun 2022)” hal. 68),
  4. Musyawarah Nasional Tarjih ke-32 pada tanggal 23-25 Februari 2024 di Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan yang salah satu pembahasannya adalah “Kalender Hijriah Global Tunggal”. Yang pada saat Munas Tarjih ke-32, seluruh peserta sepakat untuk pemberlakukan KHGT sebagai sistem kalender yang digunakan oleh Muhammadiyah,
  5. Tanfidz Pimpinan Pusat Muhammadiyah nomor 86/KEP/I.0/B/2025 tentang Tanfidz Pengembangan Pedoman Hisab Muhammadiyah tentang Kalender Hijriah Global Tunggal, tertanggal 4 Syakban 1446 H/3 Februari 2025 M.
  6. Halaqoh Nasional Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) pada Sabtu-Ahad, 19-20 April 2025 di Hotel Grand Rohan Yogyakarta, yang salah satu hasilnya adalah pembentukan tim pembangunan perangkat lunak KHGT.
  7. Terbitnya SK Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah nomor 02/KEP/I.1/B/2025 tentang Pengangkatan dan Penetapan Tim Pengembang Perangkat Lunak KHGT, tertanggal 30 Syawal 1446 H/29 Mei 2025 M.
Baca Juga:  Kisah-Kisah Unik Cak Dlahom, Sufi dari Madura

Diawal penerapan KHGT oleh Muhammadiyah, langsung mendapat berbagai respon, kritik, dan masukan, ada yang substantif, ada yang tidak substantif. Secara implementasi di Indonesia, penggunaan sistem kalender hijriah yang sudah berbasis KHGT oleh Muhammadiyah juga langsung mendapat perhatian serius. Salah satunya karena jatuhnya awal bulan Ramadan sebagai permulaan menjalani ibadah shaum, dan awal Syawal atau hari raya Idul Fitri, akan berbeda. Pada tulisan ini penulis sedikit memberikan penjabaran mengenai prediksi perbedaan jatuhnya 1 Syawal 1447 H antara  sistem kalender hijriah yang berbasis KHGT dengan Neo-MABIMS.

1 Syawal 1447 H menurut KHGT

KHGT yang secara resmi telah digunakan oleh Muhammadiyah melalui Surat Keputusan (SK) dengan 86/KEP/I.0/B/2025 tentang Tanfidz Pengembangan Pedoman Hisab Muhammadiyah tentang Kalender Hijriah Global Tunggal, tertanggal 4 Syakban 1446 H/3 Februari 2025 M, memiliki Prinsip, Syarat, dan Parameter KHGT[1]. Secara ringkas, menurut KHGT awal bulan hijriah adalah:

  • Dimanapun di muka Bumi akan memasuki bulan hijriah baru jika pada tanggal terjadinya konjungsi telah memenuhi kriteria (ketinggian Bulan minimal 5° dan elongasi minimal 8°) dan terjadi sebelum pkl. 00:00 UTC, (disebut PKG1)
  • Jika pada tanggal konjungsi daerah yang memenuhi kriteria terjadi setelah pkl. 00:00 UTC, bulan hijriah baru akan tetap masuk jika konjungsi terjadi sebelum Fajar di New Zealand, dan daerah yang memenuhi kriteria berada di daratan Amerika (main-land).
Baca Juga:  Harmonisasi Nilai Islam dan Kearifan Lokal Kaili

Poin (1) diatas disebut sebagai Parameter Kalender Global pertama atau PKG1, sedangkan poin (2) disebut Parameter Kalender Global kedua atau PKG2. Awal bulan masuk jika PKG1 terpenuhi yang secara otomatis jika PKG1 terpenuhi maka PKG2 akan terpenuhi. Awal bulan tetap masuk jika PKG1 tidak terpenuhi, namun PKG terpenuhi. Jika PKG1 dan PKG2 tidak terpenuhi maka awal bulan akan masuk di hari selanjutnya.

Sebagai ilustrasi, untuk Muharam 1447 H, konjungsi terjadi pkl. 10:31:37 UTC pada tanggal 25 Juni 2025, ada suatu daerah di koordinat 63°00’00” lintang utara dan 001°03’43.02” bujur timur yang memenuhi kriteria (ketinggian Bulan minimal 5° dan elongasi minimal 8°) sebelum Pkl. 00:00 UTC, maka PKG1 terpenuhi yang secara otomatis PKG2 juga terpenuhi, dan awal bulan Muharam 1447 H jatuh pada 26 Juni 2025 M, seperti ditampilkan oleh peta KHGT untuk Muharam 1447 H pada Gambar 1 (a).

(a) (b)

Gambar 1 (a) Peta KHGT untuk Muharam 1447 H, (b) Peta KHGT untuk Jumadilawal 1447 H

Sedangkan untuk penentuan Jumadilawal 1447 H, konjungsi terjadi pada pkl. 12:25:11 UTC tanggal 21 Oktober 2025 M, Fajar di New Zealand Pkl. 15:41:14 UTC, karena tidak ada satupun daerah yang memenuhi kriteria sebelum pkl. 00:00 UTC sehingga PKG1 tidak terpenuhi, juga daerah yang memenuhi kriteria bukan berada di daratan Amerika (main-land), lihat pada pada Peta KHGT untuk Jumadilawal 1447 H lihat Gambar 1(b), daerah berwarna hijau yang merupakan perpotongan antara garis altitude 5° dan garis elongasi 8° atau merupakan daerah-daerah yang memenuhi kriteria tidak ada yang berada di daratan Amerika (main-land) tetapi berada di lautan. Jadi, walau waktu konjungsi lebih dulu dibanding waktu Fajar di New Zealand, tetapi karena tidak ada satupun lokasi yang memenuhi kriteria berada di daratan Amerika maka tidak memenuhi PKG2.

Menurut KHGT, konjungsi terjadi pada Pkl. 01:23:29 UTC tanggal 19 Maret 2026, ada lokasi dengan koordinat 64°59’57.47” lintang utara dan 42°03’03.47” bujur timur yang memenuhi kriteria, lokasi pertama yang memenuhi kriteria terjadi sebelum pkl. 00:00 UTC, sehingga PKG1 terpenuhi, maka 1 Syawal 1447 H menurut KHGT adalah tanggal 20 Maret 2026 M, seperti ditampilkan oleh Gambar 2.

Baca Juga:  Nurani yang Lumpuh

Gambar 2 Peta KHGT untuk Syawal 1447 H

1 Syawal 1447 H menurut Neo-MABIMS

Menurut Neo-MABIMS konjungsi terjadi pada pkl. 01:22:55.74 UTC tanggal 19 Maret 2026 M, untuk seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak ada satupun wilayah yang memenuhi kriteria minimal altitude toposentrik 3° dan elongasi geosentrik minimal 6.4°. Di bagian ujung paling barat Indonesia, altitudenya sekitar kurang dari 3° sedangkan elongasinya adalah lebih dari 6.19° dan kurang dari batas minimal yaitu 6.4°. Dengan tidak adanya satupun daerah di NKRI yang memenuhi kriteria Neo-MABIMS, maka menurut prediski 1 Syawal 1447 H menurut Neo-MABIMS jatuh pada tanggal 21 Maret 2026 M. Walau penetapan untuk 1 Syawal 1447 H tetap mengacu dan menunggu keputusan siding isbat yang akan digelar oleh Kementerian Agama RI pada tanggal 19 Maret 2026 M.

Gambar 3 Peta Neo-MABIMS untuk Prediksi Syawal 1447 H

Jadi, berdasarkan pemaparan data diatas, dapat diketahui kemungkinan besar untuk jatuhnya 1 Syawal 1447 H, khususnya di Indonesia menurut KHGT yang dipedomani dan digunakan oleh Muhammadiyah adalah pada tanggal 20 Maret 2026 M, sedangkan prediksi 1 Syawal 1447 H menurut kriteria Neo-MABIMS yang digunakan oleh Kementerian Agama RI dan beberapa ormas Islam lainnya, secara teori akan jatuh pada 21 Maret 2026 M, walau penetapannya akan menunggu keputusan sidang isbat yang akan diselenggarakan pada tanggal 19 Maret 2026 M. Sebenarnya, antara KHGT yang diberlakukan secara global maupun Neo-MABIMS yang diberlakukan regional (NKRI dan negara-negara anggota MABIMS) durasi hari Ramadannya sama-sama 30 hari, namun karena permulaan antara KHGT dan Neo-MABIMS berbeda, dimana KHGT lebih dulu yaitu tanggal 18 Februari 2026 M, sedangkan Neo-MABIMS pada tanggal 19 Februari 2026 M. Semoga bermanfaat.

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru