Reinvensi Islam Berkemajuan

0
54

Halaqah Kebangsaan Cendekiawan dan Ulama Muhammadiyah dengan tajuk Reinvensi Islam Berkemajuan, Konsepsi, Interpretasi, dan Aksi, dibuka dengan sambutan Direktur Eksekutif Maarif Institute, Muhd. Abdullah Darraz, dilanjutkan sambutan dari Wakil Ketua Majelis Dikti Litbang, Dr. Chairil Anwar, dan Keynote Speaker oleh Prof. Dr. Syafiq A Mughni (Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban). Berikut laporannya.

Dalam sambutannya Direktur Eksekutif Maarif Institute, Muhd. Abdullah Darraz menyebut bahwa Islam yang satu abad yang lalu, pasti berbeda dengan Islam hari ini. Ia juga menegaskan bahwa Islam satu abad satu abad ke depan tentu berbeda dengan hari lampau. Demikian pula dengan Islam Berkemajuan.

Islam Berkemajuan yang telah diperkenalkan oleh Kiai Dahlan seabad lalu tentu membutuhkan tafsir di era kekinian. Saat ini, misalnya kita menghadapi inflasi hoaks yang sangat luar biasa. Bagaimana dan apa yang dapat dilakukan oleh Islam Berkemajuan dalam mengurai masalah itu. Halaqah Kebangsaan ini ingin mencari, menafsir, dan mengembangkan Islam Berkemajuan dalam tataran konsepsi, interpretasi, dan aksi.

Lebih lanjut, dalam sambutan Wakil Ketua Majelis Dikti Litbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. Chairil Anwar menegaskan bahwa Islam Berkemajuan (Muhammadiyah) telah memiliki modal yang sangat besar untuk mengabdikan diri kepada bangsa dan negara Indonesia. Hal itu ditunjukkan hingga kini Muhammadiyah/’Aisyiyah telah memiliki 171 Perguruan Tinggi yang tersebar dari Sabang hingga Merauke.

Perguruan Tinggi itu setidaknya menampung 750.000 lebih mahasiswa. Mereka kuliah di Muhammadiyah dalam berbagai latar belakang background agama. Bahkan di Papua dan Nusa Tenggara Timur, perguruan tinggi Muhammadiyah dipercaya oleh warga Katolik dan Protestan. Lebih dari 70 persen mahasiswa di kampus itu adalah nonmuslim. Mereka dididik ala Muhammadiyah, seperti Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Namun, mereka tidak berpindah agama. Mereka tetap menganut ajaran agama yang telah diyakini sejak lama. Inilah hebatnya Muhammadiyah.

Mengapa Islam Berkemajuan?

Kehebatan Muhammadiyah itu perlu terus ditopang dengan konsepsi, interpretasi, dan aksi Islam Berkemajuan. “Mengapa Islam berkemajuan itu sangat penting? Karena kalau tidak, maka Indonesia kita akan berhenti, karena tidak maju, dan umat kita juga akan menjadi stagnant”, begitu kata Profesor Syafiq A Mughni.

Baca Juga  Abdul Mu'ti Dilantik sebagai Ketua BSNP Tahun 2019-2023

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu menambahkan bahwa pasang surutnya peradaban umat Islam selama ini perlu diambil pelajaran. Islam itu adalah apa yang ada dalam al-Quran dan Sunah Nabi. Dan di sanalah Muhammadiyah berada. Namun, dalam arti sebuah peradaban, Muhammadiyah tidak hanya mengartikan Islam secara tekstual, namun juga secara kontekstual.

Kontekstualisasi Islam itulah yang mendorong umat untuk terbuka. Tanpa keterbukaan, maka peradaban Islam akan sangat sulit berkembang. Pada masa-masa sebelumnya, bagaimana para filosof terdahulu menunjukkan sebuah tradisi, yaitu menulis dengan kebebasan. Dari perdebatan-perdebatan, melahirkan karya-karya tulis yang sangat berharga. Sedangkan bagi kita, keterbukaan menjadi sangat penting, bahwa sekarang keterbukaan bisa membawa kita pada kemajuan.

Selanjutnya adalah keluar dari batasan-batasan literalisme. Teks menjadi sesuatu yang sangat penting, namun ia tidak bisa menjadi penjelas secara utuh. Ada beberapa di antara kita yang melihat pada teks, dan teks adalah segala-galanya dan seoalah ia tidak bisa ditakwilkan. Ini merupakan tantangan bagi Islam berkemajuan. Tantangan untuk menjelaskan bahwa teks dapat menjadi pintu masuk tafsir yang lebih luas dan terbuka. Itulah ciri-ciri Islam Berkemajuan.

“Maka karakteristik ijtihad yang sudah dikembangkan oleh Muhammdiyah ialah, tanpa kita men-kontekstualkan Islam, bagaimana kita akan menjalani kehidupan kontemporer. Kita tidak mungkin bisa meletakkan nilai-nilai Islam jika kita tidak mengkontekstualkannya”. imbuhnya.

Tantangan Islam Berkemajuan saat ini memang tidak mudah. Perlu upaya sistematis dan bergerak bersama agar Islam Berkemajuan terus menjadi bagian tak terpisahkan bagi kemajuan bangsa dan negara.

Agama Rahmatan lil Alamin

Halaqah Kebangsaan, Reinvensi Islam Berkemajuan, Konsepsi, Interpretasi, dan Aksi dibuka dengan seminar dengan tiga pembicara utama, yaitu: Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, Prof. Dr. M. Amin Abdullah, dan Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin. Ketiganya memberikan arah pembicaraan tentang Islam Berkemajuan dalam perspektif sejarah, filsafat, dan sosiologi. Berikut laporannya.

Buya Syafii membuka diskusi dengan membuka labirin sejarah Islam Berkemajuan dengan sebuah pernyataan bahwa mendirikan rumah sakit dan panti asuhan pada tahun 1920-an adalah hal yang haram. Bahkan orang yang mendirikan itu dimusuhi. Tentu hal itu berbeda dengan hari ini, di mana situasi sudah sangat berbeda. Situasi saat ini jauh lebih baik.

Baca Juga  University Kebangsaan Malaysia Belajar Penanggulangan Bencana pada MDMC

Namun, Kiai Dahlan bersama Kiai Soedja’ tetap berpegang teguh dan bertekad mendirikan rumah sakit (Penolong Kesengsaraan Oemoem). Pendirian PKO yang kini menjadi PKU merupakan ijtihad yang melampaui zaman. Kiai Dahlan meletakkan dasar pengembangan pemikiran Islam yang berkemajuan dengan mendekonstruksi kemapanan warga. Artinya, Kiai Dahlan mengoyak kemapanan berpikir masyarakat saat itu, bahwa sakit adalah hal biasa dan dapat disembuhkan dengan sikap rasional (ilmu pengetahuan).

Sikap itulah yang memungkinkan Islam rahmatan lil alamin tidak lagi berada di langit saja. Namun, mewujud dalam kehidupan nyata, dan menjadi rahmat tidak hanya bagi manusia, tapi seluruh alam semesta.

Selama ini Islam rahmatan lil alamin masih saja mengawang di langit. Perlu upaya serius agar Islam dapat dinikmati oleh seluruh alam dan di amalkan di seluruh bumi. Buya Syafii menegaskan bolehlah Islam yang berjubah-jubah, tapi janganlah kearab-araban. Yang terpenting adalah Islam perlu dapat memberi solusi bagi umat manusia.

Buya Syafii menambahkan ada sebuah ungkapan, sebuah Islam yang tidak memberikan solusi bagi umat manusia bukanlah Islam yang sejati. “Kita lihat. Irak, Mesir, Yaman, mereka semua hancur, meski Muslim, mungkin hafal al-Quran. Namun mereka saling memusuhi satu sama lain. Dan belum tentu, empat sampai lima generasi berikutnya,  mereka bisa memperbaiki diri, karena mereka sudah tertinggal terlalu jauh”.

Sebagai agama rahmatan lil alamin, Islam perlu menjadi garis terdepan dalam sikap keterbukaan. Guru Besar Emeritus Univeritas Negeri Yogyakarta itu mencontohkan Hamka. Hamka dalam pandangan Buya Syafii merupakan tokoh yang sangat banyak bacaannya. Hamka juga memiliki sikap keterbukaan dalam belajar tentang banyak hal. Inilah yang menjadikan Hamka sebagai tokoh yang kuat. “Ayolah, saya harap orang-orang Muhammadiyah lebih betah membaca, terus banyak belajar dan jangan anti terhadap keterbukaan”, seru Buya Syafii.

Membaca dapat membuka cakrawala berpikir dan bersikap. Membaca catatan sejarah pun akan menjadikan warga Muhammadiyah semakin percaya diri dan mampu bersikap serta tidak mudah limbung dalam mengurai masalah zaman.

Baca Juga  Syamsul Anwar: Urgensi Penyatuan Kalender Islam Global

Prinsip al-Muwathonah

Catatan Profesor M Amin Abdullah menunjukkan hal itu. Dalam catatan sejarah, tentang Sumpah Pemuda di sana ada tokoh Kasman Singodimedjo. Dalam rumusan Sumpah Pemuda, tidak pernah ada kata Islam di sana, padahal Pak Kasman adalah tokoh Muhammadiyah terpandang. 

Demikian pula dalam proses negosiasi dan kompromi tujuh kata dalam Pancasila. Di sana ada tokoh nama Ketua Umum Muhammadiyah Ki Bagus Hadikusumo. Ki Bagus merelakan menghapus tujuh kata dalam Piagam Jakarta untuk Indonesia yang berdaulat. Ijtihad Ki Bagus ini telah menyelamatkan bangsa Indonesia dari perpecahan dan permusuhan. Inilah spirit pendiri Muhammadiyah. Mereka selalu berpikir ke depan untuk bangsa dan negara.

Keunggulan bangsa pembaca pun ditunjukkan dengan rumusan Pancasila. Mantan Ketua Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam (MTPPI) itu menegaskan bahwa Pancasila lahir dari bacaan yang luar biasa. Pancasila lahir tidak hanya dari Islam saja, namun perpaduan antara saripati spiritualitas, archipelago, dan oriental. Inilah yang menguatkan sendiri kebangsaan. Pancasila lahir dari proses kreatif bacaan yang kuat dan kokoh.

Dalam kaitan mengembangkan Islam Berkemajuan, mantan Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta itu menegaskan prinsip-prinsip Islam Wasathiyah—at-Tawasuth, al-I’tidal, Tasamuh, al-Syura, al-Qudwah, al-Muwathonah, dan lain-lain—yang pernah dirumuskan oleh Prof Din Syamsuddin menjadi penting untuk dikembangkan, eloborasi, dan mendapat penjelasan yang lebih memadai. Jika hal tersebut mampu dirumuskan oleh kader muda Muhammadiyah, maka akan ada temuan besar tentang konsepsi, interpretasi, dan aksi Islam Berkemajuan.

Menariknya, Profesor Amin Abdullah menegaskan, prinsip al-Muwathonah yang paling penting. Al-Muwathonah ini yang belum duduk di Indonesia. “Yang harus dirumuskan lagi adalah apa itu Al-Muwathonah. Apakah Al-Aman qabla Iman, atau al-Iman qabla Aman”, tanyanya. Ini pertanyaan serius yang perlu dijawab dengan diskusi yang lebih intens.

Profesor Amin Abdullah melanjutkan bahwa prinsip al-Muwathonah akan menjadi landasan penting bagi terciptanya relasi dan kontribusi kontribusi ulama dan cendekiawan Muslim Indonesia untuk kebangsaan, kenegaraan dan keindonesiaan, konvergensi keimanan agama (distinctive values) dan kemaslahatan berbangsa-bernegara (share values).

Prinsip al-Muwathonah akan melahirkan sejumlah relasi humanis dalam membangun kebangsaan dan kenegaraan yang beradab. Prinsip itu memungkin semua saling menyapa, terbuka, dan saling tolong menolong dalam ikatan kemanusiaan yang lebih kuat dan sehat.

Fresh Ijtihad

Berikutnya, ia sangat berharap munculnya fresh ijtihad dari para pemuda dalam situasi Indonesia saat ini. “Kita membutuhkan pemikiran-pemikiran segar dari para pemuda. Kita sebagai pemuda harus merumuskan jawaban atas berbagai persoalan, termasuk salah satunya adalah bagaimana cara melawan berbagai hoaks yang meraja akhir-akhir ini.  Dan juga pemuda hari ini harus mulai memikirkan bagaimana pendidikan agama hari ini dan bagaimana akhlak media sosial itu”.

Fresh ijtihad menjadi kunci bagi Islam Berkemajuan untuk menancapkan peran dan posisinya dalam keislaman, kemanusiaan, dan keindonesiaan. Inilah yang dalam bahasa Siti Ruhaini Dzuhayatin sebagai Spectrum of Religious Thought/ spectrum pemikiran agama.

Reporter: Benni Setiawan
Editor: Azaki Khoirudin


IBTimes.ID - Kanal Islam Berkemajuan, dihidupi oleh jaringan penulis yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan masyarakat, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi Kamu ke Rekening

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here