Opini

Revolusi Pancasila: Pancasila sebagai Jalan Hidup Berbangsa

2 Mins read

Kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara masyarakat indonesia saat ini amat mencengangkan. Hal ini tampak dari terjadinya pembajakan demokrasi, seperti menguatnya oligarki politik, primordialisme, politik kartel, politik uang, kegaduhan politik yang tak produktif dan dangkal. Di samping itu, ketimpangan sosial semakin akut dimana sumber-sumber produksi dikuasai oleh segelintir orang sementara rakyat kian tertindas dan terpinggir dari mobilitas sosial-politik. Pun dengan konflik inter-antar agama, etnik, dan saparatisme juga tumbuh subur seakan kita lupa untuk apa kita menjalani hidup berbangsa dan bernegara. Untuk memulihkan krisis yang melandai bangsa indonesia, penulis buku ini menyuguhkan solusi dengan merevolusi pancasila.

Bagaimana merevolusi pancasila? sebelum menjelaskannya lebih jauh, perlu ditekankan bahwa ciri esensial dari revolusi bukan terletak pada kecepatannya—apalagi dikonotasikan dengan iringan kekerasan—melainkan dimensi kebaruan. Revolusi berarti suatu perubahan struktur mental dan keyakinan karena introduksi gagasan dan tatanan baru yang membedakan dirinya dari gagasan dan tatanan yang lama. Revolusi membawa perubahan mendasar pada basis material (relasi produksi perekonomian), super-struktur (nilai, ideologi, mental), dan domain politik sebagai agen perantara dalam perubahan sistem sosial (hal 20-22).

Demikian pula dengan Pancasila. Pancasila tidak hanya sebagai dasar atau falsafah Negara (philosophische grondslag), tetapi juga pandangan hidup (weltanschauung), ideologi, perekat segenap elemen bangsa, haluan dan tuntunan dinamis ke arah mana bangsa Indonesia akan melaju. Pancasila ini digali bung karno dari berbagai kearifan suku-bangsa, agama dan aliran kepercayaan yang telah berurat-berakar dalam sanubari bangsa, sebagaimana disampaikan Bung Karno dalam pidato 1 juni 1945 di depan sidang BPUPKI (hal. 29-32).

Setalah mendudukkan konsep dua kata kunci—revolusi dan pancasila—sebagaimana diterangkan di atas, kini kita akan menilik lebih luas dan dalam makna “Revolusi Pancasila”. Revolusi Pancasila adalah suatu upaya perubahan mendasar pada sistem sosial (meliputi ranah material, mental, dan politikal) berlandaskan prinsip-prinsip pancasila dalam usaha mewujudkan prikehidupan kewarganegaraan yang merdeka, bersatu, berdaulat, dan makmur. Revolusi pancasila bukanlah revolusi borjuis ala Prancis (1789) yang berlandaskan individualisme, juga bukan revolusi proletariat (buruh) ala Rusia (1917) yang melahirkan kediktatoran proletariat, akan tetapi revolusi kemanusiaan yang sealun-seirama dengan tuntutan budi nurani kemanusian yang bersifat universal dan melampaui batas-batas kelas dan golongan. Dengan demikian revolusi pancasila merupakan revolusi kemanusiaan yang bersifat multidimensional, maka cakupan revolusinya pun multikompleks. Sifat multikompleks revolusi pancasila mengandung lima dimensi: revolusi nasional, politik, ekonomi, sosial, dan budaya (hal 57-64).

Baca Juga  Cerita Mudik Lebaran 2024 (1): Kembali ke Titik Nadir

Revolusi pancasila menghendaki model yang dinamis-interaktif: bahwa material dan mental bisa saling mempengaruhi. Karena itu revolusi material harus berjalan seiringan dengan revolusi mental. Di samping itu, relasi interaktif dua revolusi ini menghendaki adanya mediasi dari kekuatan agensi (kepemimpinan moral-intelektual). Sebab revolusi material dan mental memerlukan dukungan kelembagaan dan kepemimpinan politik sebagai agen perubahan.

Orientasi dari ketiga ranah revolusi sosial itu adalah: pertama, revolusi material diarahkan untuk menciptakan perekonomian merdeka yang berkeadilan dan berkemakmuran yang berlandaskan gotong-royong; kedua, revolusi mental-kultural diarahkan menciptakan masyarakat religius yang berprikemanusiaan, egaliter, mandiri dan bebas dari berhala materialisme-hedonisme; dan ketiga, revolusi agensi diarahkan untuk menciptakan agen perubahan dalam bentuk konsentrasi kekuatan nasional (hal. 96-97). Dengan demikian ketiga ranah revolusi tersebut diarahkan untuk mencapai revolusi pancasila, yaitu mewujudkan prikehidupan bangsa dan kewargaan yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Judul: Revolusi Pancasila

Penulis: Yudi Latif

Penerbit: Mizan

Tebal: XI + 208 halaman

ISBN: 978-979-433-889-6

Tahun: 2015

Editor: Soleh

Avatar
2 posts

About author
Dosen di Universitas Paramadina
Articles
Related posts
Opini

Haji Yunus Jamaludin: Konsul Muhammadiyah Bengkulu Pertama, Penyambung Lidah Rakyat

5 Mins read
Relasi antara Bengkulu dan Minangkabau sejak lama telah terbangun. Dapat kita baca dalam Tambo Bangkahulu seorang Minangkabau dari Pagarruyung bernama Baginda Maharaja…
Opini

Indonesia Gabung Board of Peace, Langgengkan Status Quo di Palestina

3 Mins read
Indonesia akhirnya masuk Board of Peace. Dewan perdamaian yang dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Bagi sebagian orang, BoP ini berpotensi…
Opini

Jangan Sembarangan dalam Berfatwa!

3 Mins read
Di ruang publik Indonesia hari ini, agama semakin sering hadir bukan sebagai cahaya penuntun, melainkan sebagai arena perdebatan tanpa ujung. Mimbar, layar…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *