Opini

Seabad Jam’iyah Nahdlatul Ulama’

2 Mins read

Dalam buku Guruku Orang-orang dari Pesantren, KH Saifuddin Zuhri Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama’ (PBNU) pada awal 1960-an, menceritakan satu momen yang membuatnya tak kuasa menahan air mata.

Ia melihat pemuda-pemuda NU mulai berlatih drum band, belajar baris-berbaris, dan—yang paling mengejutkan memakai sepatu.

Bayangkan: anak-anak santri desa yang setiap hari bergelut dengan lumpur sawah, kulit legam terpanggang matahari, berpakaian seadanya. Bagi mereka, sabun dan alas kaki adalah barang mewah yang jarang disentuh. Melihat mereka berubah menjadi barisan pemuda yang rapi dan teratur, Kiai Saifuddin menitikkan air mata.

Itulah wajah Nahdliyyin di tahun 1950-an.

Sekarang coba kita tarik garis waktu. Seberapa jauh jarak antara “waktu itu” dengan kita hari ini?

Nahdlatul Ulama’ tak lagi sekadar surau kampung tempat anak-anak mengaji, atau pesantren sederhana yang seluruh harta santri bisa dibawa sekali angkut saat pindah. NU telah melangkah sangat jauh—bahkan terlalu jauh—jika diukur dari titik pijak awalnya.

Lihat saja data Muslimat NU tahun 2014 (dan ini baru satu badan otonom):

  • 108 rumah bersalin, rumah sakit, dan klinik
  • 104 panti asuhan
  • 9.986 TK/RA
  • 14.350 TPA
  • 4.622 PAUD
  • 1.571 PKBM
  • 144 koperasi primer berbadan hukum, 9 koperasi sekunder, serta 355 TPAK

Belum lagi ribuan perguruan tinggi di bawah LPTNU, sekolah dan madrasah binaan Ma’arif NU, program pemberdayaan masyarakat Lakpesdam, serta berbagai kiprah lembaga dan badan otonom lainnya. Pesantren? Itu sudah jadi akar dan nafas NU sendiri—jumlahnya kini mencapai puluhan ribu.

Tak perlu membandingkan NU dengan ormas lain yang memang berangkat dari titik dan lapisan sosial berbeda. Namun jika ada yang bertanya hari ini:

Siapa yang paling setia mendampingi kaum miskin di pelosok kampung, tetap membuka pendidikan dan bantuan sosial meski dengan keterbatasan?

Baca Juga  Tambang Bukan Sekedar Soal Uang, Tapi Kemaslahatan

Siapa yang terus menjahit harmoni sosial di kalangan orang-orang pinggiran lewat ritual keagamaan yang sering dicibir sebagai “bid’ah”?

Siapa yang menggerakkan santri-santri turun mempertahankan kemerdekaan Indonesia?
Siapa yang berteriak paling lantang ketika Pancasila dipertanyakan?

Siapa yang dengan nyaris sendiri melawan radikalisme ketika aparat pemerintah kesulitan membendung narasi-narasi keagamaan ekstrem?

Dan semua itu dilakukan tanpa fasilitas memadai, tanpa dukungan yang semestinya datang dari pihak yang bertanggung jawab?

Jawabannya tak diragukan lagi: Nahdlatul Ulama.

NU tak butuh pujian berlebihan. Tak juga meminta pengistimewaan. Karena yang diperjuangkan NU adalah cita-cita sederhana yang sebenarnya milik kita semua: peradaban kemanusiaan yang mulia.

Seperti tema peringatan satu abad NU tahun ini:
“Menjaga Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia”

Peradaban mulia bukanlah peradaban yang membiarkan orang miskin tetap terpuruk dalam kemiskinannya, atau orang bodoh dibiarkan tenggelam dalam kebodohannya.

Peradaban mulia bukan dibangun di atas penindasan dan penghisapan—dalam bentuk apa pun dan oleh siapa pun.

Membangun peradaban mulia berarti membangun kehidupan bersama dalam perdamaian dan keadilan.

Seabad sudah kita berjalan.
Masih jauh lagi perjalanan ke depan.
Tapi akarnya tetap sama: mengabdi kepada yang lemah, menjaga yang rapuh, dan menegakkan yang lurus.

Semoga kita semua, Nahdliyyin dan seluruh anak bangsa, terus setia pada panggilan itu.

(Editor: Assalimi)

Ahmad Zainul Hamdi
28 posts

About author
Pimpinan Umum Arrahim.id; Direktur Moderate Muslim Institute; Senior Advisor Jaringan GUSDURian Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Pada Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI
Articles
Related posts
Opini

Kemaslahatan Bukan Dogma Prosedural: Menjawab Kritik Atas Pandangan MUI tentang Pilkada Tidak Langsung

5 Mins read
Perdebatan mengenai wacana pengembalian pemilihan kepala daerah (Pilkada) kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kembali mencuat di ruang publik. Di tengah perdebatan…
Opini

Kerusakan Lingkungan dan Dampak Subsidi Ekonomi

3 Mins read
Di banyak negara, termasuk Indonesia, subsidi sering dipuji sebagai solusi ajaib: meringankan beban masyarakat, menjaga stabilitas harga, dan memicu pertumbuhan ekonomi. Namun,…
Opini

Anatomi Psikologi di Balik Korupsi

2 Mins read
Korupsi di Indonesia adalah sebuah drama kolosal yang tak pernah mencapai episode akhir. Saban hari, kita disuguhi narasi yang sama, yaitu pejabat…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *