back to top
Kamis, Februari 26, 2026

Secercah Cahaya di Tengah Gelapnya Indonesia: Refleksi Kritis dari Kacamata Guru Bangsa Ahmad Syafii Maarif

Lihat Lainnya

“Meskipun kondisi bangsa ini hampir sempurna olengnya, tetap saja tersirat jelas harapan cerah untuk bangkit kembali membangun negeri yang terancam cerai berai ini. Tentu dengan syarat, semua pihak harus bekerja dengan penuh ikhlas, semata untuk kepentingan bersama, rakyat dan bangsa. Dan jangan ada lagi dusta-dusta seperti yang dipertontonkan seperti  selama ini. Sangat berbahaya, dan teramat mahal harga yang harus dibayar”. Ahmad Syafii Maarif

Di tengah riuh pikuk problematika kebangsaan yang kian kompleks, Indonesia seolah berada pada persimpangan sejarah yang genting. Krisis multidimensi, mulai dari degradasi etika politik, rapuhnya solidaritas sosial, hingga manipulasi kebenaran demi kepentingan sempit, telah membuat bangunan kebangsaan kian oleng, nyaris kehilangan arah. Namun, di balik gelapnya lanskap tersebut, kita akan coba melihat dari kacamata seorang Guru Bangsa, Ahmad Syafii Maarif, mencoba menangkap secercah cahaya harapan yang masih menyala, meski redup dan rapuh.

Pernyataan Buya akan kondisi bangsa ini “hampir sempurna olengnya” bukanlah ungkapan pesimisme, melainkan diagnosis jujur seorang intelektual moral. Ia membaca realitas dengan kejernihan nalar dan kepekaan nurani. Oleng yang dimaksud bukan semata ketidakstabilan politik atau ekonomi, melainkan kegamangan akan pelbagai nilai: korupsi dan hukum, lingkungan dan bencana alam, sosial dan infrastruktur, dan mirisnya kepentingan bersama dikalahkan oleh hasrat kekuasaan. Dalam situasi seperti ini, bangsa bukan hanya terancam stagnasi, tetapi juga perpecahan, cerai berai secara sosial, kultural, bahkan spiritual. Kiranya dengan lanskap kacamata yang coba dikedepankan oleh Buya Syafii, sangat relevan dan perlu menjadi renungan bagi kita dengan udara polemik yang tengah kita hirup saat ini.

Baca Juga:  Puasa dalam Perspektif Agama-Agama

Dalam perspektif Buya, ancaman “cerai berai” bukanlah metafora berlebihan. Ia menunjuk pada realitas rapuhnya kohesi sosial di tengah masyarakat yang semakin terfragmentasi oleh kepentingan, ideologi, dan sentimen sempit. Oleh karena itu, membangun kembali Indonesia tidak cukup dengan pembangunan fisik atau pertumbuhan ekonomi semata. Yang lebih mendesak adalah rekonstruksi moral dan intelektual: mengembalikan politik pada fungsinya sebagai sarana pengabdian, serta menempatkan kekuasaan dalam kerangka amanah dan tanggung jawab etis.

Meski demikian, Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif tidak berhenti pada kritik. Justru di sanalah letak kebesaran pandangannya. Di tengah nyaris runtuhnya kepercayaan publik, ia tetap menyiratkan harapan cerah dari secerca cahaya mentari untuk bangkit kembali membangun negeri. Harapan itu tidak bersifat utopis, apalagi naif. Ia mensyaratkan kerja kolektif seluruh elemen bangsa yang dilandasi keikhlasan, integritas, dan orientasi tunggal pada kepentingan rakyat. Bagi Buya, kebangkitan nasional hanya mungkin terjadi jika kekuasaan dipahami sebagai amanah, bukan komoditas; dan jika politik dimaknai sebagai jalan pengabdian, bukan arena tipu daya.

Penegasan akan “jangan ada lagi dusta-dusta seperti selama ini” adalah peringatan keras sekaligus refleksi etis. Dusta publik, dalam pandangan Ahmad Syafii Maarif, bukan sekadar pelanggaran moral individual, melainkan ancaman struktural bagi keberlangsungan bangsa. Kebohongan yang dilembagakan akan melahirkan kebijakan keliru, merusak kepercayaan sosial, dan menuntut harga yang sangat mahal. Baik dalam bentuk konflik horizontal, kemiskinan yang diwariskan, maupun kehancuran martabat nasional.

Baca Juga:  Ragam Respons Para Tokoh Seputar Peluncuran KHGT

Secercah cahaya yang disinggung Ahmad Syafii Maarif sesungguhnya bersumber dari kesadaran bahwa bangsa ini masih memiliki modal moral dan kultural untuk bangkit. Cahaya itu hadir dalam keberanian untuk berkata benar, dalam kesediaan untuk bekerja lintas kepentingan, serta dalam komitmen untuk menjadikan rakyat sebagai tujuan utama, bukan alat legitimasi. Ia adalah cahaya yang menuntut perawatan terus-menerus, sebab tanpa integritas dan kejujuran, harapan akan kembali tenggelam dalam gelapnya kepalsuan.

Dengan demikian, secercah cahaya yang dimaksud bukanlah cahaya instan yang datang dari luar, melainkan sinar yang harus dinyalakan dari dalam: dari kesadaran kolektif untuk kembali pada nilai-nilai dasar kebangsaan, kejujuran, keadilan, kemanusiaan, dan persaudaraan. Ahmad Syafii Maarif mengingatkan bahwa masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh retorika optimisme kosong, melainkan oleh keberanian moral untuk berubah, mengakui kesalahan, dan menata ulang arah perjalanan bangsa.

Pada akhirnya, pesan beliau adalah ajakan sunyi namun tegas: bahwa di tengah kegelapan yang pekat, bangsa ini masih memiliki kesempatan untuk menemukan jalan terang. Asalkan cahaya itu dirawat dengan keikhlasan, dijaga dengan kejujuran, dan diarahkan sepenuhnya demi rakyat dan bangsa. Bukan demi segelintir kepentingan yang fana.

Editor: Ikrima

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru