Perspektif

Siapakah Kartini-Kartini di Muhammadiyah Saat Ini?

3 Mins read

Berbicara mengenai emansipasi erat kaitannya dengan pahlawan nasional kita, yakni RA Kartini. Beliau dalam perjuangannya menyetarakan antara hak perempuan dan laki-laki. Menjadi perempuan itu harus kuat, berani dan cerdas, itulah yang selalu ditekankan oleh Kartini.

Menerawang Sosok Kartini

Jika kita kembali ke sejarah perjuangan Kartini, permasalahan utama perempuan pada masa itu adalah peraturan adat dan ketidakadilan terhadap perempuan. Kartini melihat betapa menderitanya perempuan pada saat itu yang tidak bisa mengenyam pendidikan. Beliau berjuang tanpa menggunakan senjata dan tidak juga menggunakan kontak fisik.

Kartini berjuang dengan pena tajamnya, menuliskan hak-hak perempuan tentang kesetaraan gender. Kehidupan perempuan tidak seharusnya hanya di dalam rumah. Kartini pun berusaha untuk memperjuangkan hak-hak perempuan untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi.

Kartini banyak membaca buku dan koran Eropa yang membuka matanya tentang bagaimana perempuan di Eropa bisa maju. Kartini pun menceritakan cita-cita besarnya kepada sahabatnya di Belanda, Rosa Abendanon.  Kartini sering berkirim surat kepadanya.

Kumpulan surat-surat itu kemudian dijadikan buku yang berjudul, Door Duistermis Tox Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Buku yang terkenal itu menunjukkan betapa besar keinginan seorang Kartini untuk melepaskan kaumnya dari diskriminasi yang sudah membudaya pada zamannya.

Menimbang Siti Walidah

Perlu diketahui, tak hanya Kartini yang memperjuangkan hak-hak perempuan. Tujuh tahun sebelum Kartini lahir, ada seorang tokoh perempuan yang sangat gigih memperjuangkan kesetaraan perempuan, yaitu Siti Walidah, istri dari KH Ahmad Dahlan yang merupakan pendiri Muhammadiyah. Keterlibatan Walidah dengan Muhammadiyah dimulai ketika beliau merintis pengajian wanita Sopo Tresno.

Melalui Sopo Tresno, Siti  Walidah menyadarkan tentang kesetaraan. Menurutnya, perempuan adalah partner dari kaum laki-laki, dan mereka sendirilah yang wajib mempertanggungjawabkan kehidupannya kepada Allah di hari akhir. Pendapat ini Walidah dasarkan pada surat Al-Baqarah yang artinya, “Dan para wanita itu mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf” (QS. Al-Baqarah :228).

Baca Juga  Muhammadiyah dan Indonesia Berkemajuan

Dalam surat An-Nahl juga disebutkan, “barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman maka akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih dari apa yang mereka kerjakan” (QS. An-Nahl: 97).

Sopo Tresno berfokus mengajarkan membaca dan menulis, selain itu Walidah dan KH Ahmad Dahlan bergantian mengajarkan kelompok itu membaca Al-Qur’an dan maknanya.  Kelompok inipun mampu merambah hingga kalangan masyarakat bawah, seperti buruh dan pembantu rumah tangga, karena melihat perkembangan yang cukup signifikan dari kelompok ini.

Pada sebuah pertemuan yang dihadiri oleh tokoh-tokoh Muhammadiyah bersepakat mengembangkan kelompok pengajian ini menjadi organisasi perempuan. Haji Fachrodin mengusulkan nama organisasi ini adalah ‘Aisyiyah. Perubahan ini kemudian pada tanggal 22 April 1917 diresmikannya organisasi  ‘Aisyiyah.

Gerakan Aisyiyah

Organisasi ini bergerak dalam bidang pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Walidah menanamkan pada anggotanya bahwa perempuan bisa berdaya dan mampu sepadan perannya dengan kaum laki-laki. ‘Aisyiyah diwarnai Walidah dengan gerakan pemberantasan buta huruf bagi kaum perempuan karena ia ingin mengajari perempuan dengan aksi nyata.

Selain itu, beliau juga mendirikan rumah-rumah miskin dan anak yatim perempuan serta menerbitkan majalah bagi kaum perempuan. Pada saat kongres ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah di Surabaya pada tahun 1926, peran perempuan terlihat nyata. Walidah menjadi sorotan publik karena mampu memimpin kongres di antara kaum pria. Pada saat itu keterlibatan kaum perempuan dalam organisasi masih menjadi hal yang belum lumrah.

Kepemimpinan Walidah membuat kaum perempuan terangkat derajatnya. Beliau selalu menekankan bahwa menjadi perempuan itu haruslah cerdas. Karena seorang anak pasti mendapatkan pendidikan pertama dari orangtua, dan peran seorang ibu sangatlah penting untuk mengasuh dan mendidik anaknya.

Baca Juga  Muhammadiyah: Covid-19 itu Nyata, Bukan Konspirasi!

Walidah pun sering memberi nasihat kepada murid-murid perempuannya bahwa menjadi perempuan itu jangan memiliki jiwa yang kerdil, tapi haruslah berjiwa srikandi. Perhatiannya dalam dunia pendidikan sangat besar membuat Walidah mencetuskan gagasan tentang pendidikan yang dikenal sebagai “Catur Pusat”, yaitu  konsep pendidikan di dalam lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, dan lingkungan tempat ibadah.

Siti Munjiyah Penyambung Perjuangan Kartini

Tokoh perempuan Muhammadiyah lainnya adalah Siti Munjiyah. Beliau berhasil membawa organisasi ‘Aisyiyah dikenal oleh masyarakat. Dengan kemampuannya yang pandai berorasi pada suatu kesempatan beliau menyampaikan mengenai makna jilbab yang dikenakanya. Beliau menyampaikan bahwa jilbab yang dikenakannya itu tidak membuatnya malu karena itu adalah ajaran Islam.

Selain berbicara tentang makna jilbab beliau juga tampil sangat memukau dengan pembahasannya mengenai kedudukan perempuan dalam Islam. Menurutnya, Islam tidak hanya diperuntukkan untuk kaum laki-laki namun perempuan juga. Islam tidak hanya dijalankan oleh laki-laki, namun perempuan juga punya kewajiban untuk menjalankan dan memajukannya.

Berikut ini adalah ungkapan Siti Munjiyah yang menegaskan antara kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam Islam. “ Perempuan dan laki-laki dalam Islam itu masing-masing berhak berkemajuan dan berkesempurnaan, dan bahwasanya yang dikatakan berkemajuan dan kesempurnaan ialah menurut hak dan batas-batasnya sendiri” (dikutip dari naskah pidato Siti Munjiyah dalam Kongres Perempuan Indonesia pertama, 22-25 Desember 1928, Yogyakarta). Ungkapan itu disampaikan beliau pada Kongres Perempuan yang kala itu beliau sebagai wakil ketua ‘Aisyiyah.

Siapa Kartini Muda Saat Ini?

Nama “Kartini” sebenarnya tak hanya sekedar representasi dari sosok perempuan yang lahir di Jepara, 21 April 1879. Dan Kartini tak hanya sebagai simbol untuk menyamakan derajat perempuan di hadapan laki-laki. Namun, Kartini menjadi simbol semua perempuan yang mampu melejitkan prestasi di semua bidang tak hanya dalam wilayah domestik.

Baca Juga  Kuatkan Kapasitas Think Tank, Maarif Institute & P3M Gelar Pelatihan

Jika Kartini mewakili  kepeloporan perjuangan perempuan secara individual, secara kolektif atau organisasi kita dapat menjadikan ‘Aisyiyah simbol. Karena dalam ‘Aisyiyah berkumpul Kartini-Kartini Muhammadyah dengan perjuangan yang luar biasa. Selain ‘Aisyiyah, Muhammadiyah mempunyai Kartini muda yang kita refleksikan sebagai puan masa kini.

Jika berbicara Kartini-Kartini muda, Muhammadiyah tidak lepas dari ibunya  (baca:’Aisyiyah) di mana dari ibu lahirlah sosok anak yang akan meneladani ibunya. Kartini muda inilah terhimpun dalam Nasyiatul ‘Aisyiyah, IMMawati, dan IPMawati. Mereka adalah puan masa kini. Membawa jiwa Kartini sesuai dengan kemajuan zaman. Para Kartini muda ini tidak hanya akan menjadi sosok puan masa kini, tetapi akan menjadi inspirasi sosok puan masa depan yang senantiasa membawa perubahan.

Editor: Arif

Print Friendly, PDF & Email
1 posts

About author
Sekretaris Bidang Immawati PC IMM Kota Surabaya
Articles
Related posts
Perspektif

Jangan Mati Besok Malam

2 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Berapa banyak orang sukses yang dahulu bukan siapa-siapa? Saya adalah salah satu dari jutaan orang yang terpukau…
Perspektif

Diaspora Kader Muhammadiyah di Al-Azhar, Mesir: Langkah Konkrit Internasionalisasi Muhammadiyah

2 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Muktamar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah ke-48 yang diselenggarakan pada 18 November 2022 di Kota Surakarta, Jawa Tengah, memiliki…
Perspektif

Nggak Pakai Adu Tonjok, Belajar Adab Memilih Pemimpin dari Muhammadiyah

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Usai sudah pelaksanaan Muktamar ke-48 Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Surakarta, jutaan manusia tumpah ruah di kota Solo…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *