Falsafah

Tasawuf Falsafi: Menjadi Ahli Spiritual Sekaligus Rasional

4 Mins read

Tasawuf dalam ajaran agama Islam merupakan dimensi esoteris, yakni aspek intim antara manusia dan Tuhan. Tidak ada ajaran agama tanpa konsep spiritualisme, karena agama tidak hanya berbincang tentang masalah yang sifatnya hanya materi, namun juga menyentuh hal yang non-materi (adikodrati). Konsep spiritual dalam Islam merupakan konsekuensi dalam beragama, karena sebagai seorang hamba kita dituntut untuk percaya terhadap hal yang ghaib.

Tasawuf pada masa kini merupakan kebuTuhan dahaga bagi mereka yang ingin mendambakan ketenangan jiwa. Dalam kurun abad ke-19, manusia mengalami kehampaan dalam dirinya, materialisme telah membuat mata maupun hati manusia buta. Arus globalisasi layaknya mata dua mata pisau, yaitu memudahkan masalah sekaligus menambah masalah. Bahkan di negara adidaya seperti Amerika dalam beberapa dekade terakhir, memiliki kecenderungan di masyarakatnya untuk mengisi nilai spiritual dalam jiwanya.

Pada beberapa orang lebih memilih beribadah ketimbang bersenang-senang seperti ke bioskop atau bahkan berhubungan seks. Dan yang lebih mencengangkan lagi, pesona situs-situs keagamaan telah mengalahkan situs-situs pornografi.

Salah satu search engine terbesar di dunia, Altavista mengalami peningkatan pencarian tentang hal yang berbau spiritual. Pencarian kata Porn hanya menghasilkan 4.794.806 situs, sementara kata God mengahasilkan 6.396.150 situs, pencarian kata Angel mengahasilkan 1.292.520 situs, sedangkan pencarian kata satan hanya menghasilkan 295.390 situs. Bahkan menurut laporan CNN, 10 Mei 2000, tahun ini merupakan tahun para pelancong spiritual (the year of the spiritual traveler). Ribuan orang memenuhi panggilan mistis untuk mengunjungi tempat-tempat suci (Haidar Bagir, Mengenal Tasawuf Spiritualisme dalam Islam, hal. 20-21).

***

Sejatinya manusia itu tidak bisa meninggalkan Tuhan, mereka hanya beralih dari Tuhan yang satu ke Tuhan-Tuhan yang lain. Bagi para pendamba materialisme, mereka tidak meninggalkan Tuhan, namun beralih dengan menuhankan materialisme tersebut. Sebagaimana juga kaum Atheis, mereka tidak meniadakan Tuhan, namun menuhankan pemikiran mereka. Karena Tuhan adalah hal yang menjadi otoritas tertinggi dalam kehidupan manusia, kecenderungan manusia atas segala sesuatu menjadikan mereka menuhankan sesuatu tersebut.

Baca Juga  Ketika Seorang Sufi Mengancam Tuhan

Maka dari itu di bagian akhir buku Sejarah Tuhan, Karen Armstrong menutup tulisannya dengan kalimat yang menyentuh, beliau mengatakan, “Manusia tidak bisa menanggung beban kehampaan dan kenestapaan; mereka akan mengisi kekosongan itu dengan menciptakan fokus baru untuk meraih hidup yang bermakna.”

Maka sejatinya manusia hanya menciptakan Tuhan-Tuhan yang lain sebagai fokus baru dalam hidupnya.

Tasawuf dalam khazanah keilmuan Islam selalu dipandang sebagai meditasi spiritual. Bahkan tidak jarang sangat jauh dari kesan rasional. Sehingga tidak jarang sebagian kalangan menuduh Tasawuf sebagai penyebab kemunduran umat Islam.

Terlebih lagi, fatwa Al-Ghazali dalam Kitabnya Tahafut al-Falasifah, sebagai seorang sufi, tentang kafirnya filsuf karena telah menyalahi syariat.

Transformasi Tasawuf dari Teologis Ke Filosofis

Dalam pandangan tradisional, tasawuf belum mencapai ranah teoritis. Sehingga masih bersifat praktis yang mencakup ketaatan dalam beribadah, akhlakul karimah, maupun sikap asketis (zuhud). Dalam sejarah perkembangannya, tasawuf mengalami transformasi dari ajaran yang bercorak teologis menuju corak yang lebih filosofis.

Memasuki abad ke 3 H/9 M, tasawuf mencapai tahap perkembangan yang signifikan. Bahkan bisa dikatakan, tasawuf yang sebenarnya muncul di abad ini… Sejumlah pengertian dan konsep-konsep baru yang tidak dikenal sebelumnya, kini mulai diperbincangkan. Mereka mulai berbicara tentang akhlak, nafs (jiwa), dan suluk yang dimantapkan sebagai jalan menuju Sang Khalik (Said Aqil Siradj, Allah dan Alam Semesta Perspektif Tasawuf Falsafi, hal.59).

Tasawuf falsafi adalah tasawuf yang mengembangkan corak berpikir spiritual dan rasional. Akulturasi budaya di luar Islam seperti Yunani, Persia, India maupun agama Kristen mendorong perkembangan tasawuf falsafi.

Namun kendati demikian, tasawuf falsafi tetap tegak dengan identitasnya sendiri. Tasawuf falsafi tidak dapat kita pandang sebagai filsafat, karena ajarannya didasarkan pada rasa (dzauq).

Baca Juga  Umatnya Hina, Tapi Agama Islam Tetap Mulia

Tasawuf falsafi tidak dapat pula dikatakan sebagai tasawuf dalam makna tradisional, karena ada aspek rasionalitas. Para sufi pada masa ini dapat dikatakan juga sekaligus filosof, tentunya mereka berbeda dengan kaum mutakallimin (teolog) yang berkutat pada rasionalisme agama.

Seorang sufi basis epistemologinya adalah intuisi, namun intuisi mereka dalam aspek yang rasional, sehingga para sufi pada masa itu dapat kita katakan spiritualis yang rasional.

Ibnu Arabi Peletak Dasar Tasawuf Falsafi

Adapun tokoh yang menjadi peletak dasar tasawuf falsafi yaitu Abu Bakr Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Al-‘Arabi atau yang sering kita kenal dengan Ibnu ‘Arabi.

Beliau merupakan seorang Sufi dengan pemahaman yang dalam terhadap khazanah keilmuan Islam. Maka dari itu, ia diberi dua gelar, yaitu Syaikul Akbar (Guru Agung) dan Muhyiddin (Pembangkit Agama).

Ibnu ‘Arabi menulis tidak kurang dari 363 karya, diantara karyanya yang menjadi Magnus Opus adalah Al-Futuhat Makkiyah dan Fushush al-Hikam. Ibnu ‘Arabi menulis hasil karyanya tidak menggunakan pikirannya, melainkan semua itu adalah Ilham dari Allah Swt.

Bahkan seorang filosof besar bernama Ibnu Rusyd (Averroes) yang merupakan kunci utama kebangkitan rasionalisme di dunia Barat, mengakui kedalaman ilmu Ibnu ‘Arabi. Dalam kitabnya yang berjudul Al-Futuhat al-Makkiyyah, beliau mengisahkan pertemuannya dengan Ibnu Rusyd:

Setelah itu, ia (Ibnu Rusyd) meminta kepada ayahku supaya dapat bertemu denganku, untuk menyampaikan kepadaku apa yang telah dicapainya; apakah ia sejalan ataukah bertentangan (dengan pencapaianku)? Sebab, ia termasuk ahli pikir dan rasional. Ia bersyukur kepada Allah karena hidup di suatu masa, yang didalamnya ia dapat menyaksikan seseorang (maksudnya: Ibnu ‘Arabi sendiri) yang memulai khalwah dalam keadaan tidak tahu apa-apa, lalu keluar dalam keadaan seperti yang didapatnya saat ini, tanpa belajar, meneliti, dan tidak pula membaca…

Baca Juga  Fatwa Muhammadiyah tentang Tarekat Shiddiqiyyah

(Haidar Bagir, Semesta Cinta Pengantar kepada Pemikiran Ibn ‘Arabi, hal, 91-92)

Apa Itu Wahdatul Wujud?

Konsep dari tasawuf Ibnu ‘Arabi adalah Wahdatul Wujud, yaitu ketunggalan wujud. Konsep ini menjelaskan tentang kesepaduan antara Khalik dan makhluk. Segala perwujudan di alam semesta adalah manifestasi dari wujud Allah.

Walaupun terkesan seperti pantheisme (persamaan antara Tuhan dan Makhluk), sejatinya konsep ini bukanlah arogansi terhadap Allah, namun meniadaan entitas nisbi (makhluk) kepada entitas murni yaitu Allah sebagai wujud tunggal yang menjadi penyebab dari segala sebab.

Layaknya sebuah sungai, danau atau perairan lainnya, sejatinya itu berasal dari satu yang kita sebut sebagai samudra. Maka Allah adalah wujud yang hakiki, selain daripada itu hanyalah entitas nisbi.

Editor: Yahya FR

Print Friendly, PDF & Email
8 posts

About author
Mahasiswa S1 Program Studi Pendidikan Agama Islam di Fakultas Agama Islam UM Palangka Raya. Ketua Bidang Organisasi PC IMM Palangka Raya 2019-2020
Articles
Related posts
Falsafah

Kenapa Gerakan Sosial Profetik Susah Gapai Tujuannya?

4 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Diskursus mengenai Ilmu Sosial Profetik masih belum mendapatkan benang merah yang terang baik pada persoalan relevansi maupun…
Falsafah

Proyek Besar Al-Jabiry Merekonstruksi Nalar Arab

8 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Mengkaji sebuah diskursus ilmu pengetahuan lebih-lebih yang berkait kelindan dengan peradaban Islam merupakan hal yang sangat menarik….
Falsafah

Efek Kupu-Kupu: Kita adalah Rangkaian Keputusan Masa Lalu

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Teori efek kepak sayap kupu-kupu adalah sebuah teori yang melihat alam ini sebagai sebuah sistem. Setiap peristiwa,…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *