Tawakal, Etos Hidup Minimalis - IBTimes.ID
Tafsir

Tawakal, Etos Hidup Minimalis

5 Mins read

Gara-gara wabah Corona  narasi umat Islam terbagi menjadi dua, kelompok pasrah (tawakal) dan kelompok ikhtiar. Meskipun pembagian ini masih dapat diperdebatkan, tetapi fakta keumumannya seperti itu. Kelompok yang pro tawakal, merasa paling dekat dengan Tuhan, sehingga tidak membutuhkan usaha. Bahkan usaha-usaha tersebut dianggap bentuk pengingkaran terhadap Tuhan. 

Sebelum masuk pada pembahasan, kita perlu flashback terlebih dahulu. Sebenarnya pertarungan antara tawakal dan ikhtiar ini telah terjadi abad kedua hijriyah, yakni antara qadariyah dan jabariyah. Qadariyah merupakan representasi umat Islam yang mengandalkan iradah (usaha) manusia secara ekstrem, dan jabariyah sebaliknya mencoba mengangkat iradah (usaha) manusia menjadi hak Tuhan semata. 

Qadariyah menuntut manusia memberikan perubahan dalam dunia ini secara utuh, sementara Jabariyah tidak ikut andil dalam perubahan di dunia ini. Perubahan ini dibuat oleh Tuhan sepenuhnya, baik dan buruk semua atas kehendak Tuhan. Termasuk Covid-19, adanya atas kehendak Tuhan. Kita ikuti saja kemana Tuhan berkehendak. 

Penulis heran, mengapa perdebatan usang seperti ini sekarang masih terjadi? Padahal sudah sekian  abad, dan kondisi zaman sudah sangat berbeda. Berarti ada masalah yang belum tuntas dalam konsep berteologi umat Islam, dan masalah itu terletak pada tawakal dan ikhtiar. Berikut ini beberapa telaah terhadap ayat yang berbicara tentang tawakal.

Takwa: Tawakal Ditambah Ilmu

Permasalahan tawakal dibicarakan di banyak ayat. Salah satunya Al-Baqarah/2: 167. Ayat ini ditujukan kepada orang Yaman, yang memiliki kebiasaan pergi haji tanpa berbekal. Orang-orang ini diperingatkan oleh Allah dengan pesan “berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” Namun, di akhir ayat dijelaskan “bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.”

Kalimat pertama memuat pesan, bahwa modal utama berangkat haji adalah takwa. Jika dibaca hanya sampai sini, takwa akan dimaknai sebagai bentuk tawakal (pasrah). Jadi kalau musim haji, berangkat saja, tidak ada duit tidak masalah. Sakit berangkat saja. Pasrahkan kepada Allah semua akan beres. Allah yang akan menjamin rezeki dan kesehatan kita selama di perjalanan. Toh, mati dalam perjalanan ibadah adalah syahid, dan surga ganjarannya. 

Baca Juga  Hermeneutika: Ulasan Ringkas Dan Hukum Menggunakannya

Namun, jika dibaca sampai bagian akhir maknanya akan berbeda. Takwa dalam ayat ini dikaitkan dengan ulul albab, yaitu orang-orang berilmu. Jadi, orang berilmu, kalau pergi haji modal utamanya adalah takwa. Namun, takwanya orang berilmu berbeda dengan yang tidak berilmu. Bagi yang berilmu siapkanlah kendaraan agar tidak kepayahan di jalan. Siapkan perbekalan agar tidak kelaparan. Siapkan obat-obatan, sehingga ketika sakit tidak membebani yang lain. Toh, akhirnya mati juga dalam perjalanan, tetap syahid. Surga adalah ganjarannya. 

Ada dua pelajaran penting dalam ayat ini, pertama, tawakal diletakkan di awal sebelum perbuatan (ikhtiar). Dalam hal ini menggantungkan hati kepada Allah sebelum berbuat. Kedua, berbicara kualitas hidup seorang hamba, yakni antara yang menggunakan ilmu dan yang tidak menggunakan ilmu. Hamba yang bertawakal sebelum berbuat disertai menggunakan ilmu disebut orang bertakwa. 

Tawakal Sebelum Ikhtiar

Permasalahan tawakal juga terdapat dalam Surah An-Anfal/8: 49. Ayat ini dalam Tafsir At-Thabari dijelaskan berhubungan dengan perang Badar. Pada waktu itu orang-orang munafik (pura-pura Islam), selalu membisikkan kepada orang-orang beriman (yang benar-benar Islam) kalau perang itu terjadi (maksudnya Badar), itu disebabkan karena kesalahan agama mereka (Islam). Hal ini mereka lakukan untuk melemahkan hati orang  beriman yang jumlahnya sedikit. Namun, Allah meneguhkan hati mereka (orang-orang beriman) dengan ayatnya, “maka barang siapa yang bertawakal kepada Allah, maka sungguh dia Maha Besar dan Bijaksana.”

Ayat ini menjelaskan war psychologi atau teror mental yang dialami umat Islam sebelum perang Badar. Untuk menjaga kondisi batin umat Islam agar tetap teguh, tawakal kepada Allah adalah solusinya. Dalam kasus ini tawakal didahulukan, baru kemudian diikuti dengan ikhtiar (perang sesungguhnya). 

Mungkin, kesimpulan ini berbeda dari pandangan pada umumnya, bahwa tawakal harus diletakkan setelah ikhtiar. Penulis justru sebaliknya, meyakini kepasrahan (tawakal) itu harus diletakkan di awal sebelum ikhtiar. Selain berdasar pada ayat-ayat di atas, tawakal di depan ikhtiar membuat seseorang optimis menjalani hidup karena dia yakin Allah akan membantu usahanya. Membuat seseorang lebih berani menghadapi persoalan karena Allah akan membelanya. Membuat seseorang jujur dalam berbuat karena Allah selalu melihatnya.  Wala tamutunna illa wa antum muslimun, janganlah kamu mati dalam keadaan berserah diri, lebih dekat maknanya dekat dengan tawakal. 

Baca Juga  Menimbang Kebenaran Tafsir ala Ibnu Taimiyah

Tawakal Bukti Tauhid Mulkiyah

Dalam Surah Az-Zumar/39: 38 permasalahan tawakal juga dibahas. Ayat ini menjelaskan bantahan terhadap keyakinan orang-orang musyrikin penyembah berhala. Mereka kalau ditanya siapa yang menciptakan langit dan bumi, pasti menjawab Allah. Tapi kalau ditanya tentang siapa yang dapat mendatangkan dan menghalau keburukan dan rezeki, mereka selalu ngeyel. Mereka masih yakin berhala tersebut yang memberikan itu semua. Di akhir ayat tersebut kita diperintahkan mengatakan “cukuplah Allah lah bagiku”. Maksudnya keburukan dan rezeki itu atas kuasa Tuhan. Kemudian ditutup dengan kalimat, “kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri”. 

Ayat di atas lebih menekankan pada konsep tawakal. Pemahaman tawakal pada ayat ini adalah pengakuan bahwa Allah adalah Tuhan yang berkuasa atas segala hal, bukan berhala-berhala tadi. Jadi ayat ini merupakan pondasi tauhid mulkiyah, pengakuan kekuasaan tertinggi berada di tangan Tuhan. Maliki an-nass, Rajanya manusia. Maksudnya, di atas kuasa manusia, ada kuasa Tuhan. 

Meskipun kekuasaan tertinggi berada di tangan Tuhan, bukan berarti manusia tidak diberi kekuasaan untuk berkehendak (iradah). Manusia tetap diberi kekuasaan di bidangnya masing-masing, tapi ingat, yang paling berkuasa tetap Allah. Manusia ditugaskan menjalankan sesuai kemampuannya, sementara hasil akhirnya Allah yang menentukan. Ayat selanjutnya 29 menjelaskan hal ini: Katakanlah: “Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya aku akan bekerja (pula), maka kelak kamu akan mengetahui”. 

Tawakal: Etos Hidup Minimalis

Ayat terakhir yang membahas tawakal adalah Surah At-Thalaq/65: 3. Permasalahan tawakal dalam ayat ini berkaitan dengan takwa. Dijelaskan bahwa orang yang bertakwa, “akan mendapatkan rezeki dari tempat yang tidak disangka-sangka”. Rezeki yang didapat tidak pernah diperhitungkan, diperkirakan, diprediksikan sebelumnya (la yahtasib). Kemudian dilanjutkan, “dan siapa saja yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupkannya” (hasbuhu).

Baca Juga  Al-Qur'an Berbudaya, Ikut Al-Qur'an atau Budaya?

Hal menarik dari ayat di atas adalah digunakannya kata yahtasib untuk takwa dan hasbuhu untuk tawakal. Asal kata keduanya sama yakni hasaba, yang artinya mengira dan menduga. Namun, ketika kata hasaba ini berubah (ditasrifkan) menjadi yahtasibu tersirat makna perbuatannya itu akan menyebabkan sesuatu (lil muthowa’ah), dan dampak dari perbuatannya itu logis, artinya terukur. 

Jika kita lihat ayat, wa yarzuqhu min haisu la yahtasib (Allah memberikan rezeki (kepada orang yang bertakwa) dari arah yang tidak disangka-sangka), ini berarti besar kecil rezeki yang diberikan Allah kepadanya (orang bertakwa) disebabkan dari usaha-usaha sebelumnya. Jadi ada konsekuensi logis di sini, jika usaha sebelumnya baik, maka yang di dapat juga baik. Tentu saja orang bertakwa tidak melakukan sesuatu ala kadarnya, pasti di atas standar rata-rata. 

Sementara kalimat, “wa man yatawakal ‘alallahu, fahuwa hasbuhu” (siapa saja yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupkannya), bermakna minimalis. Allah akan cukupkan rezekinya alakadarnya, hanya cukup menyambung hidup, tidak lebih. Hal ini diperkuat dengan kalimat selanjutnya, innallah balighul amrih (sesungguhnya Allah hanya menjalankan (menyampaikan) urusan-urusan-Nya).

Pertanyaannya urusan-urusan apa yang dijalankan Allah? Jawabannya ada pada kalimat terakhir ayat ini, qad ja’alallahu likulli sya’in qadran (Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan (qadar) bagi tiap-tiap sesuatu). 

Pelajaran yang dapat diambil dari ayat ini adalah; pertama, takdir yang dimaksud dalam ayat ini bukanlah hasil akhir dari perbuatan manusia, seperti kaya dan miskin, bodoh dan pintar, dan sebagainya, tetapi ketentuan Allah. Ketentuan Allah tersebut adalah apa yang didapat manusia, besar atau kecil, tergantung usahanya. Jadi bisa dikatakan, takdir itu adalah ketentuan-ketentuan yang dibuat Allah dalam kehidupan manusia. 

Kedua, tawakal merupakan usaha (ikhtiar) minimalis dari manusia. Menggantungkan nasib kepada Allah memang utama, namun jika tidak diimbangi usaha (ikhtiar) hasilnya akan alakadarnya. Takwa dalam ayat ini lebih dekat dengan pemahaman tawakal ditambah ikhtiar. Wallahu’alam.

Avatar
24 posts

About author
Dosen Prodi Ilmu Hadis Fakultas Agama Islam Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, Ketua MPK PWM DIY, Sekretaris Pendidikan dan Kaderisasi PP Pemuda Muhammadiyah.
Articles
    Related posts
    Tafsir

    Al-Qur'an Berbudaya, Ikut Al-Qur'an atau Budaya?

    3 Mins read
    Al-Qur’an adalah sumber ajaran Islam, juga pedoman hidup bagi manusia yang menjadi landasan adanya hukum-hukum dalam agama agar tatanan hidup lebih rapi…
    Tafsir

    Eksistensi Manusia Menurut Al-Qur’an

    5 Mins read
    Manusia dalam pandangan Islam merupakan makhluk yang terbaik, the best stature, baik dari segi bentuk dan struktur tubuh maupun dari segi kemampuan…
    Tafsir

    Toleransi Beragama dalam Membangun Keutuhan NKRI

    3 Mins read
    Toleransi adalah warisan yang sudah diturunkan secara turun temurun kepada bangsa kita, karena tidak bisa dipungkiri, Indonesia adalah negara yang begitu majemuk…

    Tinggalkan Balasan