Opini

Treacherous Alliance: Benarkah Iran Membela Palestina?

4 Mins read

Kalau Anda percaya bahwa Iran adalah negara yang paling getol melawan Israel dan membela Palestina, keyakinan Anda ini tidak sepenuhnya benar—juga tidak sepenuhnya salah. Keyakinan ini diuji secara cukup dalam oleh seorang ahli hubungan internasional Amerika kelahiran Iran: Trita Parsi. Artikel ini akan mengulas salah satu masterpiece-nya, Treacherous Alliance: The Secret Dealings of Israel, Iran, and the United States.

Publik di Indonesia cenderung melihat buku ini sebagai buku yang membongkar rahasia hubungan Iran Israel, setidaknya karena dua hal. Pertama, judulnya cukup provokatif. “Treacherous”, yang dalam edisi terjemahan Indonesia diubah menjadi “persekutuan” memang seolah-olah meniscayakan adanya semacam persekongkolan jahat antara Iran dan Israel. Kedua, khusus dalam edisi Indonesia, cover buku tersebut adalah dua tangan yang saling menjabat. Satu dengan bendera Iran, satu lagi Israel. Cover edisi asli (Bahasa Inggris) lebih netral karena hanya menampilkan wajah Ayatullah Khomeini dan dua orang Yahudi tengah berdoa. Padahal, isinya tidak selalu demikian.

Hubungan kedua negara ini memiliki fase pasang surut. Di era sebelum revolusi Iran tahun 1979, negara para mullah tersebut dikenal sebagai pilar utama Amerika di Timur Tengah. Negara tersebut memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Israel. Semua berubah pada tahun 1979, ketika Syah Pahlevi, raja yang berkuasa saat itu, digulingkan. Lalu negara sekular tersebut diubah menjadi Republik Islam Iran. Iran, yang dipimpin oleh para agamawan, berubah menjadi sangat anti Israel, dan juga Amerika.

Dampak Perang Irak-Iran & Retorika Dukungan Palestina

Namun menurut Parsi tidak demikian. Itu hanyalah retorika negara yang mempengaruhi persepsi publik. Nyatanya, Iran tak berubah. Retorikanya memang berubah, namun fakta di lapangan tidak berubah. Tak lama setelah revolusi, Iran diinvasi oleh Irak. Invasi ini berubah menjadi perang panjang, sejak 1980 hingga 1988. Dalam kondisi demikian, Iran butuh pasokan senjata yang cukup. Sedangkan, satu-satunya teman dekat yang dimiliki oleh Iran adalah Israel.

Baca Juga  Warganet Indonesia untuk Palestina (1): Membentuk Resiliensi Menghadapi Determinasi Algoritma Medsos

Kenapa? Karena setelah revolusi, Iran memiliki hasrat untuk mengekspor revolusi Islamnya yang fenomenal itu ke negara-negara Arab. Iran menggunakan sentimen keislaman dan dukungan terhadap Palestina untuk mengajak masyarakat Islam Arab menggulingkan raja-rajanya dan membentuk pemerintahan Islam. Praktis, hal ini membuat Iran terisolasi dari dunia Islam-Arab.

Sebenarnya revolusi tidak serta merta membuat hubungan Iran dengan Amerika memburuk. Sebuah dokumen CIA menyebut bahwa Khomeini ingin melanjutkan hubungan baik dengan Amerika selama negara adidaya tersebut menghormati independensi Iran di kawasan. Namun, pada November 1979, 66 diplomat dan warga Amerika disandera oleh sekelompok aktivis Iran di Kedutaan Amerika di Teheran. Para aktivis tersebut menuntut Amerika untuk menyerahkan Syah. Saat itu, Syah sedang menjalani pengobatan kanker di Amerika. Hal ini membuat Amerika marah dan memutus semua hubungan diplomatik dengan Iran, terutama setelah rezim Khomeini merestui langkah para aktivis tersebut.

Hubungan buruk dengan Amerika dan dunia Arab membuat Israel sebagai satu-satunya teman dalam menghadapi musuh yang nyata: Irak. Maka, sepanjang periode peperangan, hubungan Iran dengan Israel sangat baik, sama dengan sebelum revolusi. Israellah yang menyuplai senjata-senjata canggih buatan Amerika ke Iran. Tanpa bantuan Israel, Iran tidak akan bisa bertahan selama delapan tahun.

Namun, karena retorika keislaman yang digaungkan oleh pemerintahan Khomeini, hubungan dengan Israel ini harus dirahasiakan sepenuhnya. Di publik, pejabat-pejabat Iran terus menyuarakan retorika kebencian terhadap Israel sekaligus dukungan terhadap Palestina. Namun, di balik layar, Iran bergandengan tangan begitu mesra dengan Israel.

Dari sisi Israel, negara tersebut juga membutuhkan teman karena ia berada di tengah-tengah negara Arab yang memusuhinya. The Periphery Doctrine merupakan landasan hubungan luar negeri Israel, yaitu menjalin hubungan yang baik dengan negara-negara di pinggiran Timur Tengah, seperti Iran, Turki, dan Ethiopia.

Selain itu, di tahun 1980an, Irak adalah kekuatan utama Arab yang memimpin perlawanan terhadap Israel. Hal ini membuat Israel semakin yakin untuk berdiri di belakang Iran.

Baca Juga  Islam Tengahan dan Islam Pinggiran

Setelah Perang Dingin

Hubungan kedua negara ini bertahan sampai sekitar satu dekade. Hal ini baru memburuk pada tahun 1991. Di tahun tersebut, ada beberapa peristiwa yang penting. Pertama, Uni Soviet runtuh, menandai berakhirnya perang dingin dan dimulainya era unipolar, era dimana Amerika Serikat menjadi kekuatan dominan tunggal di dunia. Kedua, Perang Teluk I, ketika Irak menginvasi Kuwait, lalu Amerika bersama negara-negara Arab membebaskan Kuwait dari Irak. Irakpun mundur dan melemah. Setelah lelah berperang delapan tahun melawan Iran, ditambah dikalahkan di Kuwait, Irak berada di titik terendah.

Irak adalah musuh bersama Iran dan Israel. Irak membuat Iran dan Israel terus bergandengan tangan. Dengan lemahnya Irak, Iran dan Israel masing-masing merasa telah kehilangan musuh. Hal ini membuat keduanya merasa bisa berkembang menjadi kekuatan utama kawasan.

Karena sama-sama ingin menjadi kekuatan utama di kawasan, mereka harus berhadapan satu sama lain. Tanpa Irak yang menjadi penyeimbang Iran, Teheran bisa menjadi ancaman baru bagi Israel. Sebaliknya, perdamaian Israel dengan negara-negara Arab serta lemahnya Irak membuat Israel tidak terkontrol dan bisa mengancam Iran.

Sederhananya begini. Dalam hubungan internasional, ada prinsip yang disebut dengan balance of power. Prinsip ini meniscayakan kekuatan yang seimbang, tidak ada yang terlalu dominan. Sebelumnya, kekuatan Iran, Israel, dan Irak relatif sama. Kini, Irak melemah, sehingga meninggalkan dua negara yang kuat. Karena sama-sama kuat, mereka lalu berebut pengaruh dan kekuatan di kawasan. Iran ingin menjadi kekuatan utama di Timur Tengah. Begitu pula dengan Israel. Sehingga keduanya memiliki kepentingan yang saling berlawanan.

Reformasi Kebijakan Luar Negeri Iran

Pada tahun 1989, satu tahun setelah perang dengan Irak selesai, Ayatullah Khomeini meninggal dunia. Presiden Iran saat itu, Ali Khamenei, naik tahta menjadi pemimpin tertinggi (supreme leader). Lalu posisi presiden diisi oleh Akbar Hashemi Rafsanjani. Rafsanjani adalah reformis. Ia lebih mengutamakan pendekatan dengan dunia internasional daripada menyuarakan ideologi Islamis Iran yang keras. Maka di tahun-tahun pertama, ia berhasil membina hubungan baik dengan negara-negara Arab Teluk. Ia juga ingin melakukan pendekatan dengan Amerika, meskipun tak kunjung berhasil.

Baca Juga  Baitul Al-Maqdisi: Tanah yang Dijaga Allah

Di tahun 1992, ketika Iran mengurangi retorika yang keras, Israel justru melancarkan serangan habis-habisan untuk mendemonisasi Iran. Mencitrakan Iran sebagai ancaman global. Elit-elit Israel mulai menyebut Iran menebar teror di Timur Tengah untuk mencegah terwujudnya perjanjian damai Israel-Palestina. Israel juga menuduh Iran mengembangkan senjata nuklir dan senjata kimia. Padahal, menurut Parsi, kapasitas nuklir Iran jauh dari cukup untuk dapat menciptakan bom sendiri, sedangkan belanja militer Iran turun drastis karena kebijakan reformis Rafsanjani serta kehabisan dana pasca perang.

Demonisasi Iran yang tak berdasar ini setidaknya dilandasi oleh beberapa alasan. Pertama, ini adalah bagian dari competitive support-seeking terhadap Amerika. Di masa Perang Dingin, Israel merupakan benteng Amerika di Timur Tengah. Setelah Perang Dingin berakhir, Amerika merasa tidak terlalu membutuhkan Israel. Dengan demikian, Israel perlu melakukan hal-hal yang membuat Amerika terus memihaknya. Hal tersebut dilakukan dengan cara mencitrakan Iran sebagai ancaman global. Jika Amerika percaya hal tersebut, ia harus menggunakan Israel, dengan cara mendukung secara ekonomi dan militer, sebagai penyangga utama kepentingan Amerika di kawasan.

Kedua, Israel mendemonisasi Iran agar negara-negara Arab mendekat ke Israel dan membuat perundingan damai lebih mudah. Untuk menjalin hubungan dengan suatu negara, harus ada ancaman bersama (common threat). Dalam hal ini, Iran dicitrakan sebagai common threat Israel serta negara-negara Arab. Dengan harapan, negara-negara Arab lebih mendekat ke Israel lalu menciptakan perdamaian di kawasan. Ini adalah semacam strategi politik belah bambu.

Avatar
126 posts

About author
Mahasiswa Dual Degree Universitas Islam Internasional Indonesia - University of Edinburgh
Articles
Related posts
Opini

Treacherous Alliance: Benarkah Iran Membela Palestina? (2)

5 Mins read
Artikel ini adalah ulasan buku Treacherous Alliance: The Secret Dealings of Israel, Iran, and the United States karya Trita Parsi. Baca seri…
Opini

Haul ke-16 Gus Dur: Jalan Sunyi "Muhammadiyah Cabang Tebuireng"

3 Mins read
Hiruk-pikuk peringatan Haul ke-16 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) secara seremonial telah usai. Tenda-tenda di Pesantren Tebuireng yang ramai pada pertengahan Desember…
Opini

Riset: Bukan Generasi Stoberi, Gen Z adalah Agen Perubahan

6 Mins read
Menjelang tahun 2026, IDN Research Institute mengeluarkan hasil penelitian bertajuk Indonesia Millenial and Gen Z Report 2026. Dalam laporan tersebut, generasi Milenial…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *