IBTimes.ID – Kerja sama pendidikan tidak lagi mengenal batas geografis ketika kampus dan diaspora membangun jejaring bersama. Semangat itu terlihat dalam MoU UMS dan PCIM Britania Raya dan Irlandia yang ditandatangani dalam rangkaian Hari Bermuhammadiyah Gembira ke-1 di Indonesian Islamic Centre London, Neasden, Sabtu (19/9/2026).
MoU tersebut ditandatangani Wakil Rektor V UMS, Prof. Supriyono, Ph.D., dan Ketua PCIM Britania Raya dan Irlandia, Ince Dian Aprilyani Azir. Kerja sama ini mencakup pertukaran mahasiswa untuk studi dan riset, pertukaran dosen, kolaborasi riset dan publikasi, seminar dan konferensi bersama, hingga kegiatan budaya.
Guru Besar UMS sekaligus Ketua PCIM UK periode 2009-2011, Prof. Ir. Sarjito, M.T., Ph.D., menjelaskan bahwa MoU UMS dan PCIM Britania Raya dan Irlandia juga membuka peluang program dosen tamu dan Profesor Adjung.
“Selain itu, kedua pihak membuka peluang kerja sama dalam program dosen tamu dan Profesor Adjung serta bidang lain yang disepakati bersama. MoU tersebut berlaku selama lima tahun dan dapat diperpanjang berdasarkan persetujuan tertulis kedua pihak,” ujarnya , Selasa, (22/9/2026).
Diaspora Muhammadiyah sebagai Jembatan Pengetahuan
Lebih dari sekadar kerja sama kelembagaan, hal ini juga memperlihatkan posisi diaspora Muhammadiyah sebagai penghubung antara Indonesia dan komunitas akademik internasional.
Ketua PCIM Britania Raya dan Irlandia, Ince Dian Aprilyani Azir, menyebut kerja sama tersebut sebagai langkah untuk memperluas kontribusi diaspora Muhammadiyah dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
“Penandatanganan MoU dengan UMS di momen ini menandai langkah nyata diaspora Muhammadiyah menjadi jembatan ilmu pengetahuan antara Indonesia dan Britania Raya. Kami berharap kerja sama ini segera melahirkan program nyata yang bermanfaat bagi mahasiswa, dosen, dan warga,” ungkapnya.
Sebagai tindak lanjut MoU UMS dan PCIM Britania Raya dan Irlandia , kedua pihak akan menunjuk narahubung, mengidentifikasi bidang minat bersama, serta melibatkan dosen dari departemen terkait untuk menyusun program riset dan pengajaran. Setiap program turunan akan dituangkan dalam perjanjian pelaksanaan tersendiri.
Semangat kerja sama tersebut juga diperkuat melalui forum “Muhammadiyah for All”. Dalam forum itu, Sarjito menekankan bahwa identitas Muhammadiyah dapat berjalan bersama semangat pelayanan kepada masyarakat tanpa diskriminasi.
“Inilah sesuatu yang indah dalam pengalaman Muhammadiyah. Sekolah Muhammadiyah tidak hanya mendidik anak Muhammadiyah. Rumah sakit Muhammadiyah tidak bertanya sebelum menolong, apakah kamu punya kartu anggota Muhammadiyah. Dokter juga tidak bertanya kepada pasiennya, Anda Muslim atau bukan,” jelasnya.
“Itulah cirinya Muhammadiyah. Orang membutuhkan pertolongan kita, kita tolong karena ia manusia,” lanjut Prof. Sarjito.
Kerjasama ini tidak hanya berbicara tentang pertukaran akademik, tetapi juga membuka ruang perjumpaan pengetahuan, diaspora, dan pengalaman Muhammadiyah di tingkat global.
MoU UMS dan PCIM Britania Raya dan Irlandia menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring pendidikan dan riset sekaligus memperkuat peran warga Muhammadiyah di perantauan.


