Yudi Latif: Ummatan Wahida, Embrio Nasionalisme Modern

 Yudi Latif: Ummatan Wahida, Embrio Nasionalisme Modern

Hingga kini masih ada sebagian kalangan Muslim di Indonesia yang antipati terhadap nasionalisme. Mencintai tanah air sendiri malah dianggap sebagai bentuk kemusyrikan. Padahal, konsep nasionalisme memiliki landasan historis pada masa Rasulullah Saw ketika membina komunitas Madinah. Bahkan, komunitas Madinah yang multikultural itu menjadi embrio konsep nasionalisme modern. Bagaimana konsep nasionalisme dalam Islam? Bagaimana relasi integral antara Islam dan keindonesiaan? Berikut ini petikan wawancara al-Manar bersama Yudi Latif, M.A., Ph.D.

Bisa dijelaskan, bagaimana konsep Nasionalisme dalam Islam?

Secara sederhana, nasionalisme itu suatu paham kewargaan yang tidak didasarkan pada kesamaan agama atau etnisitas, tetapi karena kesapakatan-kesepakatan konsensus yang menyangkut aturan-aturan kehidupan bersama. Jadi, nasionalisme itu pada dasarnya suatu pengelompokan politik yang tidak didasarkan pada kesamaan etnis atau agama, tetapi kehendak untuk bersatu atas dasar konsensus bersama demi kebahagiaan dan kesejahteraan hidup bersama.

Apa dasar pembentukan konsep nasionalisme dalam Islam?

Dasar pembentukan nation ini sebenarnya ada dalam tradisi Nabi Muhammad di Madinah. Komunitas Madinah itu suatu entitas atau suatu komunitas politik yang tidak didasarkan atas agama Islam saja, tetapi di situ ada Yahudi, Kristen Nestorian, juga berbagai macam suku seperti Aus, Khazraj, dan lain-lain. Meskipun berbeda-beda, tetapi mereka membentuk satu umat bersama, namanya ummatan wahidaha, yang kemudian mengikat kontrak sosial dalam bentuk Piagam Madinah. Jadi, konsep umat dalam konteks awal tradisi nabi asosiasinya tidak hanya umat Islam saja, tetapi Yahudi, Kristen, suku Aus, Khazraj, juga dikatakan sebagai umat. Semua yang mengikat kontrak bersama itu disebut sebagai umat. Sebenarnya, konsep umat ini merupakan cikal-bakal dari pembentukan konsepsi sebuah bangsa dalam pengertian modern.

Cikal bakal pengertian bangsa dalam pengertian modern berasal dari dalam Islam. Boleh dibilang, Piagam Madinah adalah konstitusi awal dalam sejarah umat manusia. Berbeda dengan pengalaman bangsa-bangsa Eropa, kecenderungan agama mereka monolitik, Kristen dan Yahudi. Bahkan, Yahudi tidak punya mengalaman kehidupan multikultural. Nah, Muhammad Saw sebagai pembawa zaman ketika hadir di Madinah, di sana sudah ada agama Yahudi dan Nasrani yang multikultural. Boleh dibilang, cikal bakal dari konsepsi bangsa modern berasal dari tradisi Islam di Madinah ini. Konteks tradisi Islam di Madinah ini menemukan padanannya dengan konteks Indonesia ketika didirikan.

Baca Juga  KOKAM dan BANSER: Bangkitnya Milisia Islam?

Sejauhmana kiprah dan peran kaum Islamis nasionalis dalam proses pembentukan nasionalisme di Indonesia?

Kita memasuki nasionalisme Indonesia modern melalui tiga tahap. Pertama, fase nasionalisme purba (archaic nationalism). Yaitu, pada tahap ketika pembentukan kelompok-kelompok politik sebagai respon terhadap kolonialisme. Pergerakan atau pengelompokan politik awal ini melalui institusi pesantren atau surau. Institusi tersebut yang menjadi tempat orang berkumpul untuk disuplai agama. Maka sebenarnya basis pertahanan terhadap kolonialisme diorganisasikan oleh komunitas-komunitas agama. Itulah yang terjadi dengan Perang Diponegoro, Perang Padri, Perang Banten. Itulah cikal bakal dari pembentukan nasionalisme purba ketika pengelompokan politiknya masih terbatas pada lokalitas tertentu, dalam batas etnis tertentu, digerakkan oleh para ulama atau tokoh Islam.

Kedua, fase proto-nationalism atau nasionalisme tua. Fase ini ditandai ketika institusi-institusi pendidikan sudah tumbuh, baik yang didirikan oleh rezim kolonial maupun yang didirikan oleh organisasi-organisasi keislaman modern. Di sini kita lihat komunitas-komunitas Islam juga menjadi basis asosiasi perkumpulan modern ini. Mereka adalah lulusan-lulusan pendidikan modern Belanda yang tidak mau berkerjasama dengan rezim kolonial karena memperjuangkan kemerdekaan.

***

Biasanya, organisasi yang menjadi tempat bernaung para intelektual pribumi ini bersifat independen, baik secara ideologis tidak mau berkolaborasi dengan Belanda, atau secara ekonomi tidak tergantung pada basis-basis ekonomi kolonial, seperti Kauman, Kretek, batik. Industri-industri awal yang digerakkan oleh komunitas-komunitas muslim menjadi basis pembentukan gerakan yang lebih modern, terstruktur, seperti Syarekat Islam, Muhammadiyah, dan lain-lain. Radius pergerakannya lebih luas, sampai luar kepulauan. Di situlah Islam memainkan peran penting.

Ketiga, fase nasionalisme modern. Pada tahun 1920-an, pengelompokan dan imajinasi masa depan bangsa ini tidak terbatas pada etnis dan etno-religius. Boedi Oetomo itu masih sebatas nasionalisme etnis Jawa. Syarekat Islam juga masih ada unsur-unsur Islam, sekalipun ada juga anggotanya yang non muslim. Tetapi memasuki tahun 1920-an, kita memiliki nama baru yang menjadi semacam impian semua komunitas yang berserak, yaitu Indonesia. Melalui Sumpah Pemuda, muncul satu paham nasionalisme modern di mana kehendak untuk bersatu tidak hanya terbatas pada etnis, agama, lokalitas tertentu. Dalam konteks nasionalisme modern, banyak juga aktor-aktor intelektualnya dari tokoh-tokoh Islam. Misalnya Soekarno. Jangan lupa, Soekarno belajar belajar politik dari Tjokroaminoto dan aktif di Syarekat Islam. Dia juga ikut berbagai pengajian Muhammadiyah. Bahkan, ketika mendirikan PNI, Soekarno masih berstatus sebagai editor di majalah Syarekat Islam. Ada lagi tokoh Mohammad Hatta yang keturunan ulama. Sebenarnya, aktivis-aktivis nasionalisme modern banyak disuplai dari tokoh-tokoh intelektual Islam.

Baca Juga  Orientasi Politik Umat Islam: Wawancara Imajiner Bersama Kuntowijoyo

Siapa tokoh Islam yang paling besar pengaruhnya dalam proses pembentukan nasionalisme Indonesia?

Secara politik, Tjokroaminoto! Semua ideologi yang lahir di Indonesia bermula dari Tjokroaminoto. Dia guru dari semua aliran-aliran ideologi politik di Indonesia.

Apa kontribusi terbesar Tjokroaminoto yang masih dapat dirasakan hingga kini?

Saya kira, Tjokro-lah yang membuat imajinasi nasionalisme Indonesia meluas dengan jaringan Syarekat Islam yang melampaui batas etnis, batas kepulauan. Bahkan, sebenarnya banyak orang non Islam yang masuk dalam Syarekat Islam. Hampir semua aliran-aliran ideologi modern di Indonesia terinspirasi dari Tjokroaminoto. (rif).

Sumber: Majalah Al-Manar


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan masyarakat, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
BNI 0342383062 A.n Qurrota A'yun

RedaksiIB

https://ibtimes.id

IBTImes.ID - Beyond the Inspiration: Keislaman, Kemodernan, dan Keindonesiaan

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *