back to top
Kamis, Februari 12, 2026

Menua di Panti Jompo, Siapa Takut?

Lihat Lainnya

Dhuha Hadiyansyah
Dhuha Hadiyansyah
Pria kelahiran Gresik tahun 1982 ini adalah seorang dosen pada Universitas Al Azhar Indonesia (UAI). Ia merampungkan pendidikan magisternya pada Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia (2012).

Bagi banyak orang Indonesia, masa tua masih dipahami sebagai periode masa memanen hasil: bergantung hidup pada anak-anak. Tak jarang, orang tua berharap tinggal serumah dan dirawat oleh anak dan menantu, seolah itulah ukuran keberhasilan membesarkan keluarga. Padahal, ketergantungan dalam hubungan apa pun, termasuk antara orang tua dan anak, tak pernah menghasilkan relasi yang sehat. Justru karena cinta, orang tua seharusnya menyiapkan masa tua secara mandiri supaya tidak membebani anak yang sedang membangun hidupnya sendiri.

Masa tua itu pasti sehingga tidak perlu menunggu renta untuk mempersiapkannya. Menghabiskan masa pensiun perlu perencanaan sejak dini—baik secara finansial, emosional, maupun spasial. Secara spasial, ada dua pilihan utama untuk menyiapkan tempat tinggal di masa tua: menua di rumah sendiri atau tinggal di panti jompo. Keduanya merupakan dua alternatif logis yang dapat dipilih sesuai kebutuhan dan kesiapan masing-masing individu.

Ketika memilih menghabiskan masa tua di rumah sendiri, ada beberapa bagian yang perlu ditata ulang. Banyak kecelakaan fatal yang menimpa lansia terjadi di rumah sendiri, terutama karena terpeleset di kamar mandi, tangga, atau lantai yang licin. Penataan ulang ini idealnya dilakukan sebelum usia 60 tahun, bahkan lebih dini jika ada masalah kesehatan yang sudah muncul. Kamar mandi perlu dilengkapi pegangan tangan atau kloset perlu diganti, lantai dapur perlu diganti agar tidak licin, dan kamar tidur disesuaikan agar mudah diakses tanpa perlu naik tangga. Beberapa tahun belakangan ada perhatian besar di Singapura terhadap penggunaan lantai granit karena terlalu licin untuk lansia.

Baca Juga:  Harta dan Keturunan Rawan Jadi Fitnah!

Tinggal di Panti Jompo

Pilihan kedua adalah tinggal di panti jompo atau panti werdha. Sayangnya, di Indonesia, opsi ini masih dianggap tabu. Anak yang “mengirim” orang tuanya ke panti jompo sering dicap durhaka, seolah membuang mereka dan tak tahu balas budi. Padahal, tinggal di panti jompo bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan. Di sana, para lansia bisa berkegiatan bersama, punya teman sebaya untuk mengobrol, dan tidak merasa menjadi beban—sama seperti anak pesantren yang dikirim oleh orang tua, bukan?! Jadi, tinggal di panti jompo bukan sesuatu yang menakutkan.

Di beberapa negara, seperti di Australia, panti jompo (aged care home) dibiayai pemerintah. Mereka yang tinggal di sini, didominasi kulit putih (keturunan Asia-Afrika lebih suka tinggal bersama anak mereka), akan dikunjungi anak-cucu di akhir pekan atau awal bulan—juga mirip orang tua mengunjungi anak-anak di pesantren. Atau, mungkin nama panti jompo (yang sudah telanjur berkonotasi buruk) bisa diubah menjadi pesantren dewasa/senior supaya terkesan relijius?

Di Indonesia sendiri, sudah ada banyak panti jompo yang dikelola pemerintah secara gratis. Beberapa lainnya berbayar, tapi masih dalam jangkauan karena membawa misi sosial. Artinya, jika seseorang ingin menyiapkan diri untuk tinggal di rumah lansia kelak, ia bisa mulai menabung sejak dini. Ini bukan soal menolak anak-anak, tetapi menjaga agar kehidupan rumah tangga mereka tidak terganggu oleh kehadiran kita yang makin menua, makin sensitif, dan makin ingin dimengerti.

Baca Juga:  Dari Kanan ke Tengah: Kisah Pertaubatan Mantan Santri dari Paham Ekstremis

***

Tak sedikit konflik antara mertua dan menantu yang bersumber dari ketegangan tinggal serumah. Bahkan, dalam banyak kasus, konflik ini bisa menjadi pemicu perceraian. Merusak rumah tangga orang lain—apa pun alasannya—adalah kejahatan terselubung. Pelakunya tidak dipidana secara hukum, tetapi dampaknya sangat destruktif bagi generasi berikutnya.

Mempersiapkan masa tua secara mandiri adalah bentuk cinta yang murni, bukan tentang mengasingkan diri dari anak-cucu, melainkan tentang memberi ruang bagi mereka untuk tumbuh tanpa beban balas budi—bentuk keikhlasan yang adiluhung. Masa tua yang mandiri juga bukan sekadar soal fisik dan tempat tinggal, melainkan soal martabat dan kesadaran bahwa manusia, pada akhirnya, adalah makhluk yang harus bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Jika generasi kita mulai menormalisasi masa tua yang mandiri, generasi berikutnya akan tumbuh tanpa rasa bersalah jika kelak tak mampu merawat orang tua secara fisik karena beban hidup yang makin kompleks.

Perlu ada perubahan pardigma: masa tua bukan akhir yang menyedihkan, tetapi fase baru yang bisa dijalani dengan ceria dan martabat—selama kita menyiapkannya dengan sadar. Saat menata rumah agar ramah manula atau menabung untuk tinggal di rumah lansia yang nyaman, kita mungkin sedang membangun warisan yang lebih penting daripada harta, yaitu pusaka kesadaran terhadap individuasi, kemandirian, dan cinta yang bebas dari sindrom balas budi.

Baca Juga:  Islam dan Status Quo (2): Sebuah Pendekatan Baru Pada Islam Hari Ini

Editor: Soleh

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru