Kita hidup di zaman ketika situasi berubah begitu cepat, bahkan agak sulit dipahami secara utuh dan terlalu kompleks untuk dikendalikan secara rasional. Perubahan tidak lagi datang sebagai satu rangkaian peristiwa yang dapat diurai satu per satu. Perubahan justru hadir secara stimulan dan saling tumpang tindih. Krisis ekonomi tidak datang sendiri, ia justru hadir berbarengan dengan krisis politik, krisis lingkungan, krisis informasi, dan pada akhirnya bermuara pada krisis makna pada setiap individu. Dalam kondisi seperti ini, tidak ada jeda yang cukup untuk mencerna satu krisis sebelum krisis lain muncul.
Ziauddin Sardar menyebut kondisi ini sebagai post-normal times. Sebuah fase ketika ketidakpastian, kekacauan, dan kontradiksi tidak lagi bersifat insidental, melainkan menjadi struktur keseharian. maksud dari tidak normal di sini bukan anomali yang bersifat sementara, tetapi runtuhnya asumsi kita bahwa dunia dapat dipahami secara stabil dan dapat diprediksi secara masuk akal. Dalam post-normal times, pengetahuan sering kali tertinggal dari realitas. Kebijakan pun sering bersifat reaktif tanpa kajian yang mendalam, narasi besar pun tidak dapat menjelaskan apa yang sesungguhnya sedang terjadi.
Dampak dari kondisi tersebut tidak hanya berhenti di level sistem pemerintahan, ekonomi, politik dan yang lainnya, tetapi dirasakan pada kehidupan sehari-hari. Banyak orang merasa lelah tanpa tahu secara pasti apa yang menyebabkannya lelah. Merasa cemas tanpa objek cemas yang jelas, dan mudah marah tanpa sebab yang proporsional. Kelelahan ini sering kali ditafsirkan sebagai kegagalan seorang individu dalam beradaptasi. Seolah dunia ini wajar dan yang bermasalah hanya daya dari individunya saja.
Padahal kelelahan mental dan kebingungan yang hampir merata merupakan gejala dari struktur zaman yang tidak stabil. Ketika individu dituntut untuk selalu sigap, informatif, dan produktif berlangsung dalam kondisi yang serba tidak pasti, maka kelelahan bukanlah suatu hal yang menyimpang, melainkan suatu respons yang masuk akal. Maka dari itu, kegagalan beradaptasi tidak selalu menunjukkan kelemahan individu, tetapi juga menunjukkan batas rasional manusia ketika dihadapkan pada realitas yang memang tidak stabil.
Oleh karena itu, menjaga kewarasan tidak dapat direduksi menjadi persoalan psikologis individu. Melainkan pada hal yang lebih substansi yakni persoalan ketidakwarasan struktural yang diproduksi oleh cara kerja zaman itu sendiri. Kewarasan sebagai sikap sadar terhadap kondisi zaman itu sendiri, termasuk mengakui bahwa dunia yang dihadapi memang tidak tertib, tidak konsisten dan sering kali bertentangan. Sehingga akan sangat sulit untuk mendapatkan kondisi damai di tengah gempuran dunia yang seperti ini.
Dengan kerangka ini, pembahasan mengenai kewarasan tidak lagi berangkat dari pertanyaan bagaimana individu bisa kembali merasa normal, melainkan pertanyaan yang lebih jujur yaitu bagaimana tetap berpikir dan bertindak secara rasional di dalam situasi zaman yang sudah tidak rasional lagi. Dititik inilah post-normal times sangat relevan digunakan untuk menjadi alat baca yang kritis untuk memahami mengapa kewarasan hari ini menjadi sesuatu yang rapuh.
Post-normal Times dalam Kehidupan Sehari-hari
Post-normal times hadir melalui realitas yang tampak biasa. Informasi datang terus-menerus dari berbagai platform sosial media, seperti Instagram, TikTok, X, Facebook, Youtube dan yang lainnya, namun informasi tersebut tidak disajikan secara gamblang dan jelas. Sebaliknya, semakin banyak informasi justru semakin besar kebingungan. Fakta saling bertabrakan, data dipelintir sesuai kepentingan, dan opini disajikan seolah-olah setara dengan pengetahuan. Dalam situasi ini, memahami satu peristiwa sering kali membuka pintu pada konflik.
Lebih jauh dari itu, media sosial mempercepat proses ini. Opini diproduksi dan dikonsumsi dalam tempo yang cepat dan reaksi terhadap satu persoalan lebih dihargai daripada pemikiran. Dalam situasi seperti ini, akan sulit sekali menemukan kebenaran. Kebenaran tidak lagi diuji secara ilmiah, melainkan kebenaran ditentukan secara emosional netizen, walaupun terdapat kontradiksi hal itu tidak diselesaikan, melainkan dipelihara sebagai bahan konflik.
Perubahan kebijakan turut memperkuat kondisi tersebut. Kebijakan pemerintah sering kali diambil dalam situasi darurat, direvisi dalam waktu singkat, lalu digantikan oleh kebijakan lain yang belum tentu menjawab persoalan. Dampaknya kebijakan yang dibuat tidak selalu sejalan dengan niat awal, bahkan kerap berlawanan. Bagi individu, kondisi ini menciptakan rasa tidak aman yang menimbulkan kecemasan. Bukan karena kebijakan tertentu, tetapi karena hilangnya kepercayaan bahwa arah perubahan dapat dipahami secara rasional.
Kewarasan Sebagai Kesadaran, Bukan Ketenteraman
Dalam post-normal times, kewarasan tidak lagi diukur dari sejauh mana seseorang merasa tenang atau nyaman. Perasaan yang tidak baik-baik saja sering kali merupakan merespons yang rasional terhadap situasi yang memang penuh dengan ketidakpastian. Ketika dunia bergerak dengan pola yang tidak jelas, rasa cemas, ragu, dan gelisah tidak selalu menandakan gangguan psikologis seorang individu. Melainkan kesadaran bahwa ada sesuatu yang sedang tidak beres pada sistem yang sedang berjalan.
Masalah muncul ketika perasaan tidak baik-baik saja ini dianggap sebagai sesuai yang harus dihilangkan. Di titik inilah kepastian semu menjadi berbahaya. Banyak orang yang menutupi kebingungan ini dengan bersandar padu satu narasi politik, agama, atau ideologi yang menawarkan harapan akan ketenteraman. Narasi semacam ini menawarkan rasa aman instan dengan harga yang harus dibayar mahal. Yakni dengan mengorbankan seseorang untuk tidak berpikir kritis. Di sinilah kewarasan dikorbankan demi ketenteraman yang sebetulnya hanya ilusi semata.
Ziauddin Sardar mengingatkan bahwa dalam kondisi post-normal times, klaim kebenaran tunggal tidak hanya keliru, tetapi juga bersifat destruktif. Dunia yang kompleks ini tidak bisa hanya dijelaskan melalui satu penafsiran tanpa meninggalkan residu masalah. Namun, menolak kebenaran tunggal bukan berarti hidup tanpa arah. Yang perlu diperhatikan yakni, kesediaan untuk hidup dengan pegangan yanga bersifat sementara, terbuka terhadap kritik dan koreksi, serta sadar akan keterbatasan diri.
Di sini, kewarasan bukan soal menemukan jawaban yang final, melainkan kemampuan untuk meneruskan pertanyaan yang relevan. Kewarasan berarti menerima dunia yang memang ruwet ini dan menolak godaan untuk menyederhanakannya demi kenyamanan psikologis. Penyederhanaan mungkin akan menenangkan, tetapi ia mematikan kepekaan terhadap realitas.
Pada titik ini, kewarasan berwujud dalam sikap yang waspada. Seseorang yang waras tidak terburu-buru bereaksi terhadap setiap peristiwa yang terjadi, tidak mudah terseret arus emosi kolektif, dan tidak menganggap setiap krisis harus direspons dengan sikap yang ekstrem. Seseorang yang waras akan menyadari bahwa kecepatan bereaksi sering kali berbanding terbalik dengan kedalaman berpikir. Namun, sikap waspada ini tidak sama dengan sikap pasif. Menahan diri bukan berarti menyingkir, melainkan menolak untuk larut dalam sikap reaktif yang mengedepankan emosional. Hal ini justru akan semakin memperparah kekacauan. Dalam dunia yang menuntut individu untuk beropini, memilih, berpihak secara cepat, pengendalian diri menjadi bentuk perlawanan yang paling relevan.
Penutup
Menjaga kewarasan di era post-normal times tidak dapat dipahami sebagai upaya mencapai ketenteraman yang stabil dan berkelanjutan. Ketenteraman semacam ini justru menjadi ilusi ketika dunia bergerak dalam ketidakpastian yang terus menerus. Kewarasan tidak hadir sebagai kondisi yang bisa dicapai lalu dipertahankan, melainkan sebagai sikap realistis dalam menghadapi realitas yang kacau, tidak dapat diprediksi, dan sering saling bertentangan.
Yang perlu dijaga bukan rasa nyaman, melainkan kejernihan berpikir di tengah tekanan untuk segera merasa pasti. Kewarasan menuntut kemampuan membedakan antara kebutuhan akan orientasi hidup dan godaan akan kepastian yang semu. Kepastian semu mungkin memberikan rasa aman sesaat, akan tetapi ia membuat sederhana persoalan tanpa tahu masalah yang mengikutinya. Selain itu, kepastian yang semu membuka jalan lebar bagi sikap dogmatis, reaktif, dan ekslusif.
Dalam dunia yang seperti ini, kewarasan justru terletak pada kesediaan untuk hidup tanpa ilusi. Ini bukan ajakan untuk menyerah pada kekacauan yang ada, melainkan ajakan untuk bersikap jujur terhadap kondisi zaman. Dengan mengakui bahwa dunia tidak lagi berjalan menurut logika yang rapu, individu dapat menghindari tuntutan yang tidak realistis terhadap diri sendiri sekaligus membuka ruang bagi sikap berpikir yang lebih hati-hati, reflektif, dan bertanggung jawab.
Editor: Ikrima


