back to top
Selasa, Maret 31, 2026

Alasan Beda Hari Raya Idulfitri Jadi Masalah di Indonesia

Lihat Lainnya

Riyannanda Marwanto
Riyannanda Marwanto
Mahasiswa, tinggal di Bantul, bisa disapa Twitter @Riyannanda_M, IG ryndmw

Lebaran idulfitri tahun ini tidak sama, ada yang merayakan hari raya idul fitri dihari jum’at, dan ada yang merayakan dihari sabtu. Hanya selisih satu hari dan kelihatan sepele, tetapi ternyata hal itu dipermasalahkan oleh sebagian kalangan umat Islam di Indonesia. Lalu yang menjadi pertanyaan, kenapa hal seperti itu bisa terjadi? apakah umat islam disini tidak terbiasa dengan perbadaan? saya rasa bukan itu alasan utamanya. Masyarakat Indonesia sudah terbiasa hidup ditengah perbadaan selama bertahun-tahun lamanya. Karena di Indonesia berisi banyak suku, budaya, agama, dan sebagainya. Ada beberapa alasan yang mungkin masuk akal kenapa berbeda penetapan hari raya idulfitri menjadi suatu permasalahan di negara ini.

Pertama, umat islam di Indonesia sangat suka dengan perdebatan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa didalam agama Islam sangat sering terjadi perbedaan pendapat. Munculnya perbedaan-perbedaan pendapat tersebut menumbuhkan semangat untuk memulai perdebatan. Berdebat memang tidak dilarang dalam ajaran agama Islam, asalkan tujuannya baik seperti untuk mencari kebenaran dengan dasar ilmu dan dalil yang kuat. Tetapi terkadang, perdebatan terjadi karena didasari oleh hawa nafsu. Ketika berdebat, antar pihak ingin menunjukan keunggulannya dan dianggap lebih benar daripada yang lain. Sehingga ketika berdepat tidak hanya memakai akal dan dalil saja, tetapi juga menggunakan emosi. Hal seperti itulah yang menyebabkan terjadinya permasalahan atau pertikaian ketika terjadi perbedaan pendapat. Seperti perbedaan hari raya idul fitri beberapa hari yang lalu, banyak sekali terjadi perdebatan di media sosial yang dilandasi dengan emosi dan hawa nafsu. Perdebatan yang seharusnya dilakukan dengan sopan dan santun, tetapi malah dilakukan dengan saling menyalahkan pendapat orang lain, karena merasa pendapatnya sendiri paling benar daripada pendapat yang lain.

Baca Juga:  Djazman: Kolektivitas adalah Kunci Kemajuan Organisasi

Ketika terjadi perbedaan pendapat, masyarakat Indonesia lebih suka menjadikannya sebagai lahan untuk berdebat daripada untuk menumbuhkan rasa toleransi. Berdebat karena perbedaan pendapat memang wajar. Tetapi jika yang diperdebatkan itu topik lama yang terulang-ulang kembali setiap tahun apakah wajar?. Bukankah seharusnya kita sudah terbiasa dengan perbedaan penetapan hari raya, karena ditahun-tahun sebelumnya kita semua sudah pernah mengalami peristiwa seperti ini berkali-kali? Rasanya sangat masuk akal jika umat Islam di Indonesia ini diberi julukan umat yang hobi debat. Karena sangat suka sekali memperdebatkan hal-hal yang sama setiap tahunnya. Contohnya seperti perbedaan awal Ramadan, penetapan hari raya, dan bahkan hukum mengucapkan selamat natal. Setiap tahun pasti ada saja orang-orang yang berdebat dengan topik seperti itu. Padahal berdebat dengan topik-topik seperti itu hanya sedikit manfaatnya, karena banyak topik-topik lain yang lebih penting untuk dibahas dan didiskusikan.

Kedua, fanatisme yang berlebihan

Faktor lain yang membuat perbedaan menjadi masalah adalah sikap fanatisme yang berlebihan. Sikap merasa paling benar sendiri dan menganggap yang berbeda salah. Fanatisme yang berlebihan terkadang menjadi sumber utama sikap intoleransi. Sehingga mudah mengolok-olok bahkan mencaci maki orang-orang yang berbeda atau tidak setuju dengan pendapatnya. Merasa pendapat yang dianut benar memang wajar, tetapi jika sampai menyalahkan pendapat yang berbeda salah, itu sudah tidak benar. Meskipun sudah terbiasa hidup ditengah perbedaan dalam waktu yang cukup lama, tetapi memiliki sikap fanatisme yang berlebihan, sikap toleransi tidak akan pernah tumbuh. Karena didalam diri orang yang memiliki sikap fanatisme yang berlebihan, ia merasa dirinya paling hebat dan paling benar daripada lainnya. Maka sangat wajar jika orang seperti itu memiliki sifat yang egois dan arogan. Bahkan sampai membenci orang yang berbeda pendapat dengannya.

Baca Juga:  Puasa dalam Kacamata Filsafat Eksistensialisme

Meskipun kelihatan sepele, sikap fanatisme yang berlebihan bisa mengancam kerukunan antar umat. Karena orang yang memiliki sikap seperti itu sangat berani untuk membela pendapatnya mati-matian dengan cara apapun, sekalipun dengan cara yang tidak baik. Seperti melakukan intimidasi terhadap orang atau kelompok yang berbeda dengannya.

Perbedaan penetapan hari raya idulfitri kemarin seharusnya cukup kita sikapi dengan biasa saja. Karena kita sudah mengalami peristiwa seperti itu berkali-kali ditahun-tahun sebelumnya, tidak hanya satu atau dua kali. Bukan malah dijadikan untuk bahan debat atau menyalahkan yang berbeda. Lain kali daripada mempermasalahkan hal seperti itu, lebih baik fokus saja dengan hal lain yang lebih penting, seperti memikirkan kepentingan pribadi. Memikirkan bagaimana cara menambah pengahasilan bulanan, ngelunasi hutang, atau apa saja yang penting tidak membuat gaduh satu negara.

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru

This will close in 0 seconds