back to top
Jumat, April 3, 2026

Menembus Batas Epistemik: Refleksi Perjalanan Intelektual dan Spiritual ke Iran di Tengah Narasi Konflik Global

Lihat Lainnya

Dr. Rizki Damayanti, M.A.
Dr. Rizki Damayanti, M.A.
Associate Professor dalam bidang Islam dan Hubungan Internasional Kepala Program Studi Hubungan Internasional, Universitas Paramadina, Jakarta

Kesempatan untuk mengunjungi Iran pada November 2023 melalui program yang didanai oleh Goharshad International Foundation merupakan pengalaman yang tidak hanya bersifat perjalanan akademik, tetapi juga sebuah perjalanan intelektual dan spiritual. Program Scientific-Educational Course of Hawwa yang diselenggarakan di kota Mashhad dan Qom menghadirkan ruang refleksi yang memperkaya cara pandang sebagai seorang akademisi di bidang Islam dan Hubungan Internasional. Lebih dari sekadar mobilitas geografis, perjalanan ini menghadirkan pergeseran epistemologis, sebuah proses “melihat dari dalam” yang selama ini sering kali absen dalam studi-studi yang didominasi oleh perspektif eksternal.

Program ini, yang digagas oleh mantan ibu negara Iran, Jamileh Alamolhoda Raisi, mengundang sekitar 13 perempuan akademisi dan peneliti dari Indonesia. Kehadiran kami bukan sekadar sebagai peserta, tetapi sebagai representasi epistemik dari tradisi keilmuan yang selama ini banyak berinteraksi dengan perspektif Barat. Dalam konteks ini, perjalanan ke Iran menjadi momentum untuk mendekonstruksi sekaligus merekonstruksi kerangka berpikir yang selama ini terbentuk. Ada kesadaran bahwa pengetahuan bukanlah sesuatu yang netral, melainkan dibentuk oleh sejarah, kekuasaan, dan pengalaman, dan perjalanan ini membuka ruang untuk menegosiasikan ulang posisi tersebut.

Sejak awal kedatangan, kesan pertama yang muncul adalah kuatnya nuansa peradaban yang melekat dalam setiap sudut kota. Iran bukan sekadar negara modern, tetapi juga pewaris peradaban Persia yang panjang, yang jejaknya masih terasa dalam arsitektur, tradisi intelektual, dan praktik keagamaan masyarakatnya. Hal ini menghadirkan kesadaran bahwa studi Islam tidak dapat dilepaskan dari konteks peradaban yang membentuknya. Bahkan dalam detail keseharian, dari bahasa, seni, hingga tata ruang kota, terlihat kesinambungan historis yang jarang ditemukan dalam banyak negara modern lainnya.

Kunjungan ke berbagai perguruan tinggi di Mashhad dan Qom membuka cakrawala baru tentang bagaimana ilmu pengetahuan dikembangkan dalam kerangka epistemologi Islam yang khas. Diskusi dengan para akademisi Iran menunjukkan adanya upaya serius untuk mengintegrasikan ilmu modern dengan nilai-nilai keislaman, sesuatu yang seringkali menjadi perdebatan dalam wacana akademik global. Di sana, ilmu tidak dipahami sebagai sekadar instrumen rasionalitas, tetapi juga sebagai jalan menuju pemaknaan spiritual dan etis. Dalam konteks ini, saya menyadari bahwa pendekatan terhadap studi Islam di Iran memiliki karakter yang berbeda dibandingkan dengan pendekatan yang dominan di Barat. Jika di Barat Islam seringkali diposisikan sebagai objek kajian, maka di Iran Islam menjadi subjek yang hidup, yang membentuk sekaligus dibentuk oleh dinamika sosial dan politik. Perbedaan ini bukan sekadar metodologis, tetapi juga ontologis—menyangkut bagaimana realitas itu sendiri dipahami.

Baca Juga:  Kunjungi Irak, Paus Fransiskus Dialog dengan Ulama Syiah Ali Al-Sistani

Pengalaman berdialog dengan para dosen dan mahasiswa di Qom, yang dikenal sebagai pusat studi keislaman, juga memberikan perspektif yang lebih dalam tentang bagaimana tradisi keilmuan Islam dipertahankan dan dikembangkan. Qom tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga laboratorium intelektual yang terus berupaya menjawab tantangan zaman. Di sana, teks klasik tidak hanya dipelajari, tetapi juga ditafsirkan ulang dalam konteks kontemporer. Interaksi dengan para akademisi Iran juga memperlihatkan adanya kepercayaan diri epistemik yang kuat. Mereka tidak hanya mengadopsi teori-teori Barat, tetapi juga berupaya mengembangkan teori berbasis pengalaman dan tradisi mereka sendiri. Ini menjadi pelajaran penting bagi pengembangan ilmu di dunia Muslim—tentang pentingnya otonomi intelektual. Dalam konteks ini, perjalanan ini juga menjadi refleksi kritis, sejauh mana kita mampu mengembangkan perspektif yang berakar pada pengalaman lokal dan tradisi keilmuan kita sendiri? Pertanyaan ini menjadi semakin relevan setelah kunjungan ini, terutama dalam menghadapi dominasi epistemik global.

Kunjungan ke sekolah-sekolah perempuan juga menjadi pengalaman yang sangat berkesan, terutama untuk melihat bagaimana perempuan Iran memainkan peran aktif dalam dunia pendidikan dan intelektual. Hal ini menantang stereotip yang seringkali berkembang di luar tentang posisi perempuan di Iran. Realitas yang disaksikan justru menunjukkan kompleksitas yang jauh lebih kaya dibandingkan narasi simplistik yang sering beredar. Sebagai seorang akademisi perempuan, pengalaman ini memberikan inspirasi tersendiri untuk melihat bagaimana ruang-ruang pendidikan di Iran memberikan peluang bagi perempuan untuk berkembang secara intelektual tanpa harus melepaskan identitas keislamannya. Ini menjadi refleksi penting dalam konteks diskursus gender dalam Islam, bahwa emansipasi tidak selalu harus mengikuti model Barat, tetapi dapat tumbuh dari kerangka nilai yang berbeda.

Selain aspek akademik, kesempatan untuk beribadah di Mashhad, khususnya di kompleks makam Imam Reza (the shrine of Imam Reza), ikut menghadirkan dimensi spiritual. Ruang tersebut bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan antara sejarah, spiritualitas, dan ekspresi keagamaan umat Islam, khususnya dalam tradisi Syiah yang saya saksikan secara langsung. Di tengah keramaian peziarah, ada keheningan batin yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Pengalaman spiritual ini memperkaya pemahaman tentang keberagaman praktik keagamaan dalam Islam. Selama ini, banyak narasi tentang Islam yang cenderung homogen, padahal realitasnya sangat beragam dan kontekstual. Iran menjadi salah satu contoh nyata dari keragaman tersebut, sekaligus menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah ancaman – melainkan khazanah yang memperkaya pemahaman, peradaban, dan cara pandang kita terhadap dunia.

Baca Juga:  Hukum Isbal Tidak Mutlak Haram!

Dalam perspektif Hubungan Internasional, kunjungan ini juga membuka ruang untuk memahami Iran tidak hanya sebagai aktor politik global, tetapi sebagai entitas peradaban yang memiliki identitas dan visi tersendiri. Hal ini penting untuk menghindari reduksi Iran semata-mata dalam kerangka geopolitik Barat. Iran adalah narasi panjang tentang peradaban, resistensi, dan kemandirian. Pengalaman berkunjung langsung ini memberikan kesempatan untuk memperoleh first-hand experience yang jauh lebih kompleks dan bernuansa. Ini sekaligus menyadarkan bahwa realitas di lapangan sering kali tidak sejalan dengan konstruksi wacana yang dibangun dari kejauhan.

Hal yang penting pula untuk dicatat, Iran dengan warisan peradaban Persia yang kaya, menunjukkan bahwa tradisi dan modernitas tidak harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan beriringan dalam membentuk identitas dan arah perkembangan suatu masyarakat. Ini menjadi pelajaran penting di tengah dunia yang sering kali terjebak dalam dikotomi. Saya juga melihat bagaimana narasi kebangsaan dan keagamaan di Iran saling berkelindan. Ini memberikan perspektif baru dalam memahami hubungan antara agama dan negara, yang seringkali menjadi isu kompleks dalam studi Hubungan Internasional. Di Iran, keduanya tidak selalu diposisikan secara antagonistik.

Program ini juga mempertemukan dengan sesama akademisi dan peneliti dari Indonesia, yang masing-masing membawa latar belakang dan perspektif yang berbeda. Diskusi di antara kami menjadi ruang refleksi kolektif yang memperkaya pengalaman ini. Ada dinamika pertukaran gagasan yang sangat hidup dan produktif.

Kami tidak hanya belajar dari Iran, tetapi juga dari satu sama lain. Pertukaran gagasan ini menunjukkan pentingnya dialog intra-Muslim dalam membangun pemahaman yang lebih komprehensif tentang Islam. Dalam dunia yang terfragmentasi, dialog semacam ini menjadi semakin penting.

Pengalaman ini pada akhirnya mempertegas bahwa studi Islam dan Hubungan Internasional tidak dapat dilepaskan dari pengalaman langsung di lapangan. Teori dan konsep menjadi lebih hidup ketika dihadapkan dengan realitas empiris. Pengalaman menjadi jembatan antara teks dan konteks. Lebih jauh, perjalanan ini juga menjadi pengingat bahwa dunia Islam sangat luas dan beragam. Setiap wilayah memiliki dinamika dan kekhasan tersendiri yang tidak dapat disederhanakan dalam satu narasi tunggal. Iran adalah salah satu simpul penting dalam mosaik besar tersebut.

Baca Juga:  Amerika dan Iran: Dulu Kawan, Sekarang Lawan

Di tengah refleksi ini, saya tidak dapat mengabaikan realitas kontemporer bahwa Iran hari ini berada dalam pusaran konflik geopolitik yang intens, terutama dalam ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel. Pengalaman saya di Iran menjadi semakin bermakna ketika disandingkan dengan realitas tersebut, bahwa di balik narasi konflik dan ancaman, terdapat masyarakat, tradisi, dan peradaban yang berupaya terus hidup dan bertahan dengan martabatnya.

Pada akhirnya, kesempatan ini bukan sekadar tentang mengunjungi Iran, melainkan tentang membuka cakrawala baru dalam memahami Islam, peradaban, dan dunia secara lebih utuh. Pengalaman ini tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga membentuk cara pandang sebagai akademisi dan peneliti, terutama dalam melihat realitas global yang kerap disederhanakan dalam narasi-narasi yang bias dan terpolarisasi, sekaligus pengingat bahwa memahami dunia membutuhkan keberanian untuk melampaui batas-batas perspektif yang selama ini kita anggap mapan.

Lebih dari itu, pengalaman ini mengajarkan pentingnya bersikap adil dalam melihat dunia, bahwa di tengah arus narasi yang kerap memecah, setiap bangsa berhak dihormati, setiap kehidupan memiliki nilai yang tak tergantikan, dan setiap konflik seharusnya diarahkan menuju penyelesaian yang bermartabat. Dalam refleksi ini, saya teringat pada pemikiran Alexander Wendt dalam Hubungan Internasional yang menyatakan bahwa “anarchy is what states make of it”. Bahwa dunia internasional tidak semata ditentukan oleh struktur yang kaku, melainkan oleh cara negara saling memaknai dan memperlakukan satu sama lain; ketika suatu negara terus-menerus diposisikan sebagai ancaman, maka relasi yang tercipta pun akan dipenuhi kecurigaan dan konflik, tetapi ketika ada upaya untuk memahami secara lebih adil dan manusiawi, ruang bagi dialog dan perdamaian justru terbuka. Dalam konteks inilah, pengalaman berada langsung di Iran menjadi penting karena ia mematahkan jarak antara “narasi” dan “realitas,” antara label dan kehidupan yang sesungguhnya, sekaligus menegaskan bahwa menjadi bagian dari komunitas global berarti memikul tanggung jawab bersama untuk tidak hanya memahami, tetapi juga menjaga perdamaian.

Editor: Ikrima

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru

This will close in 0 seconds