Setiap menjelang awal bulan dalam kalender Islam. Umat Muslim di seluruh dunia selalu menantikan satu pertanyaan yang sama, apakah hilal sudah bisa dilihat? Pertanyaan ini bukan sekadar soal tradisi turun-temurun, tetapi juga menyangkut ilmu astronomi yang sangat kompleks. Di balik tradisi sederhana menatap langit senja.
Tersimpan perhitungan rumit tentang posisi bulan, sudut elongasi, azimut matahari, azimut bulan, fraksi iluminasi bulan. Hingga usia bulan dalam hitungan jam. Menjelang Muharam 1448 H, International Astronomical Center (IAC) merilis data yang menunjukkan seberapa besar peluang hilal bisa terlihat pada Senin, 29 Zulhijah 1447/15 Juni 2026.
Hasilnya cukup menarik bahwa negara-negara Timur Tengah jauh lebih berpeluang melihat hilal dibandingkan Indonesia dan anggota MABIMS lainnya. Akibatnya sesama anggota MABIMS akan berbeda dalam memulai awal Muharam 1448 H. Indonesia menetapkan awal Muharam 1448 H jatuh hari Selasa 16 Juni 2026. Sedangkan Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapore menetapkan awal Muharam 1448 H jatuh hari Rabu 17 Juni 2026. Karena posisi hilal belum memenuhi kriteria Neo-Visibilitas Hilal MABIMS (3,6.4).
Mengapa bisa begitu? Jawabannya sebenarnya sederhana — ini soal posisi geografis. Semakin jauh ke barat letak suatu negara, semakin “tua” usia bulan saat matahari terbenam di sana. Bulan yang lebih tua berarti posisinya lebih tinggi di langit, lebih terang, dan tentu saja lebih mudah dilihat. Inilah mengapa negara-negara di Afrika Utara dan Timur Tengah hampir selalu selangkah lebih maju. Dalam melihat hilal dibandingkan negara-negara di Asia Tenggara seperti Indonesia.
Posisi Hilal di Indonesia
Ijtimak merupakan fenomena global yang berubah hanya representasi waktunya dalam zona waktu setempat. Di Indonesia menurut IAC, ijtimak terjadi pada pukul 08.35 WIB. Sedangkan menurut Cecep Nurwendaya dan KHGT ijtimak terjadi pada pukul 09.54 WIB. Artinya menurut IAC, saat matahari terbenam sekitar pukul 17.46 WIB di Jakarta. Usia bulan baru sekitar 9 jam lebih 12 menit.
Dalam dunia astronomi hilal, itu masih sangat muda. Posisi hilal pun sangat rendah, hanya sekitar 2 derajat di atas ufuk dengan elongasi 5,9 derajat. Sebagai gambaran, elongasi adalah sudut antara bulan dan matahari yang dilihat dari bumi. Semakin kecil elongasinya, semakin tipis sabit bulan yang terbentuk dan semakin sulit terlihat. Bulan juga hanya “nongol” sekitar 14 menit di atas cakrawala sebelum ikut tenggelam bersama sisa cahaya senja.

(Sumber : Cecep Nurwendaya)
Kondisi seperti ini ibarat mencari nyala lilin kecil di tengah sorotan lampu stadion — hampir mustahil terlihat. Bukan karena pengamatnya kurang teliti, tetapi memang secara fisika cahayanya terlalu lemah untuk bersaing dengan terangnya langit sore. IAC pun menyimpulkan bahwa hilal di Indonesia masuk kategori tidak mungkin teramati, bahkan dengan bantuan teleskop sekalipun. Ini bukan kabar buruk, hanya fakta astronomis yang perlu dipahami dengan kepala dingin. Perlu diketahui data yang dirujuk IAC tersebut adalah kota Jakarta. Sementara kota lain menurut data BMKG di atas, seperti Padang, Medan, dan Banda Aceh. Ketinggian hilal sudah di atas 3 derajat dan elongasi sudah di atas 6 derajat.
Peluang Rukyat di Saudi Arabia
Bergeser ke barat, kondisi di Mekah, Arab Saudi, jauh lebih menjanjikan. Ijtimak terjadi lebih awal di sana, yaitu pukul 04.32 waktu setempat. Karena itu, saat matahari terbenam pukul 19.07, usia bulan sudah mencapai hampir 15 jam. Hampir dua kali lipat dibandingkan kondisi di Indonesia. Hilal berada di ketinggian 6,5 derajat dengan elongasi 8 derajat. Dan bulan masih terlihat selama 41 menit di langit setelah matahari terbenam.
Ini memberikan jendela waktu yang cukup nyaman bagi para pengamat untuk memindai cakrawala barat. Menurut IAC, hilal di Mekah sudah masuk kategori yang memungkinkan untuk diamati menggunakan teleskop (mumkinah bistikhdami at-teleskub faqat). Dengan mata telanjang memang masih cukup sulit mengingat hilal masih tipis. Tetapi peluangnya sudah terbuka lebar bagi mereka yang menggunakan peralatan optik yang memadai.
Posisi Arab Saudi yang penting dalam dunia Islam membuat hasil rukyat di negeri ini selalu dinantikan. Keputusan yang diambil di sana kerap menjadi acuan bagi jutaan Muslim di berbagai penjuru dunia. Terutama terkait penetapan awal bulan-bulan penting dalam kalender Hijriah.
Uni Emirat Arab dan Yordania
Di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, kondisinya hampir sama dengan Arab Saudi. Hilal berada di ketinggian 6,1 derajat dan bulan bertahan sekitar 40 menit di langit. Cukup untuk diamati dengan teleskop jika langit dalam kondisi cerah dan bebas dari polusi cahaya maupun debu atmosfer yang kerap mengganggu pengamatan di kawasan Teluk.
Di Amman, Yordania, kondisinya sedikit lebih menguntungkan. Hilal lebih tinggi, yakni 6,4 derajat, dengan elongasi yang juga lebih besar, yaitu 8,4 derajat. Yang lebih menarik, bulan bertahan lebih lama di langit, mencapai 48 menit setelah matahari terbenam (mukuts). Delapan menit mungkin terdengar sepele, tetapi dalam dunia pengamatan hilal, selisih waktu sekecil itu bisa sangat berarti. Waktu pengamatan yang lebih panjang memberi para perukyat kesempatan lebih besar untuk menemukan hilal. Terutama jika kondisi langit berubah-ubah karena awan tipis atau kabut.
Yordania memang sering luput dari perhatian dalam diskusi penetapan kalender Islam. Padahal secara astronomis negara ini cukup sering berada dalam posisi yang menguntungkan. Khususnya karena letaknya yang lebih barat dibandingkan sebagian besar negara Teluk.
Mesir dan Maroko Menjadi Lokasi Paling Prospektif
Berdasarkan data dari IAC ada dua negara yang paling berpeluang melihat hilal pada hari Senin 15 Juni 2026, yaitu Mesir dan Maroko. Di Kairo, hilal berada di ketinggian 7,6 derajat dan bulan bertahan 47 menit di langit. Usia bulan sudah lebih dari 15 jam, cukup matang untuk memberikan sabit yang lebih tebal dan lebih terang. Kondisi ini menempatkan Mesir dalam posisi yang sangat baik untuk melaporkan keberhasilan rukyat, terutama jika cuaca mendukung.
Namun, Maroko-lah yang menjadi bintang utama pada hari Senin nanti. Di Rabat, hilal berada di ketinggian 8,8 derajat dengan elongasi hampir 10 derajat. Bulan masih berada di langit selama 56 menit setelah matahari terbenam, dan usianya sudah lebih dari 17 jam. Ini adalah kondisi terbaik di antara semua lokasi yang dicantumkan dalam data IAC.
Tidak tanggung-tanggung, IAC menilai hilal di Maroko tidak hanya bisa dilihat dengan teleskop, tetapi bahkan berpeluang terlihat dengan mata telanjang oleh pengamat berpengalaman dalam kondisi langit yang benar-benar jernih (mumkinah bistikhdami at-teleskub wa qad yura bil ‘ain al-mujarradah).
Tidak heran, Afrika Utara — terutama Maroko dan Algeria — memang sering menjadi “juru selamat” dalam kalender Islam global. Ketika negara-negara Asia melaporkan hilal tidak terlihat, laporan positif justru datang dari ujung barat benua Afrika. Secara astronomis, ini bukan keberuntungan, melainkan konsekuensi logis dari letak geografisnya yang paling barat di antara negara-negara berpenduduk Muslim besar.
Mengapa Timur Tengah Lebih Berpeluang?
Ini sebenarnya soal fisika yang cukup sederhana bila dijelaskan dengan benar. Setelah ijtimak terjadi, bulan terus bergerak menjauhi matahari secara perlahan. Semakin lama berselang dari ijtimak. Semakin jauh jarak sudut antara bulan dan matahari. Semakin tebal sabit yang terbentuk, dan semakin tinggi posisi bulan di langit senja.
Karena bumi berputar dari barat ke timur. Wilayah yang terletak lebih barat akan mengalami matahari terbenam lebih lambat dalam skala waktu universal. Jadi, saat giliran mereka menyaksikan langit malam. Bulan sudah memiliki lebih banyak “waktu terbang” sejak ijtimak — lebih jauh dari matahari, lebih tinggi, dan lebih mudah dilihat. Itulah mengapa Maroko hampir selalu punya keunggulan dibanding Indonesia. Dan mengapa perbedaan ini akan terus berulang setiap bulan selama geografi bumi tidak berubah.
Implikasi terhadap Penetapan Awal Muharam 1448 H
Jika laporan rukyat yang sah berhasil diterima oleh otoritas terkait dan peluang terbesar itu datang dari Maroko, Mesir, Yordania, atau Arab Saudi. Maka sebagian negara Islam akan menetapkan 1 Muharam 1448 H jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026. Penetapan ini sejalan dengan berbagai kalender Islam yang berkembang di Indonesia. Seperti Kalender Hijriah Indonesia (Pemerintah), Almanak Islam Persis, dan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) Muhammadiyah. Meski begitu, tidak semua negara otomatis akan satu suara. Setiap negara memiliki sistem dan otoritas penetapan kalender yang berbeda-beda.
Ada yang sepenuhnya mengandalkan rukyat langsung, artinya hilal wajib terlihat secara fisik sebelum bulan baru dinyatakan masuk. Ada yang memakai perhitungan hisab, yaitu kalkulasi matematis posisi bulan tanpa harus menunggu laporan pengamatan. Ada pula yang memadukan keduanya dengan berbagai variasi kriteria. Akibatnya, perbedaan tanggal penetapan awal bulan antarnegara adalah hal yang lumrah terjadi. Bahkan ketika semua pihak merujuk pada data astronomi yang sama.
Yang jelas, data keterlihatan hilal seperti ini bukan sekadar urusan para ahli astronomi. Data ini mengingatkan kita bahwa di balik tradisi sederhana menatap ufuk barat setiap awal bulan. Ada ilmu pengetahuan yang kaya, menarik, dan layak untuk terus dipelajari bersama demi pemahaman yang lebih baik dan diskusi yang lebih produktif di kalangan umat Islam dalam rangka mewujudkan kalender Islam pemersatu.
(Nashuha)


