Ada sebuah paradoks yang semakin sering kita jumpai dalam kehidupan sosial keagamaan: seseorang membawa data yang akurat, argumen yang kuat, bahkan rujukan keagamaan yang dapat dipertanggungjawabkan, tetapi justru ditolak, dicemooh, bahkan dibenci. Sebaliknya, gagasan yang lemah secara argumentatif kadang diterima dengan penuh antusias hanya karena disampaikan oleh orang yang dianggap dekat, sehaluan, atau mampu menyentuh emosi.
Di situlah kita perlu belajar bahwa manusia tidak hanya hidup dengan pikiran. Ia juga hidup dengan perasaan, pengalaman, identitas, dan kepercayaan. Kebenaran memang membutuhkan alasan, tetapi manusia membutuhkan lebih dari sekadar alasan untuk menerimanya.
Dalam tradisi retorika Yunani, Aristoteles memperkenalkan tiga unsur penting dalam persuasi: logos, pathos, dan ethos. Logos adalah kekuatan argumentasi dan rasionalitas; pathos adalah kemampuan menyentuh perasaan; sedangkan ethos adalah kredibilitas dan keteladanan pembicara.
Dalam khazanah pemikiran Islam, kita mengenal tiga corak epistemologis yang sering digunakan untuk membaca bangunan pengetahuan: bayani, burhani, dan irfani. Bayani bertumpu pada teks, bahasa, dan otoritas nash; burhani pada rasionalitas, argumentasi, dan pembuktian; sedangkan irfani pada penghayatan batin, pengalaman spiritual, dan kedalaman makna.
Keduanya memang lahir dari tradisi intelektual yang berbeda dan tidak dapat disamakan begitu saja. Namun, jika dibaca secara dialogis, keduanya memberikan pelajaran penting: manusia membutuhkan kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan, alasan yang dapat diterima akal, dan makna yang dapat dirasakan hati.
Ketika Logos Berjalan Sendirian
Kita sering mengira bahwa jika data sudah benar, argumentasi sudah kuat, dan dalil sudah sahih, maka orang dengan sendirinya akan menerima. Itu sebuah kekeliruan.
Data dapat memenangkan perdebatan, tetapi belum tentu memenangkan hati. Dalil dapat membungkam lawan bicara, tetapi belum tentu mengubah kesadarannya. Argumentasi dapat menunjukkan bahwa seseorang keliru, tetapi cara menyampaikannya dapat membuat orang tersebut merasa direndahkan.
Di sinilah logos atau burhani yang berjalan sendirian menjadi problematis.
Seseorang mungkin berkata, “Data menunjukkan bahwa pendapat Anda keliru.”
Secara epistemologis, mungkin benar.
Tetapi manusia yang mendengarnya bisa menangkap pesan yang berbeda: “Anda bodoh.”
Jarak antara dua kalimat itu sangat tipis di telinga, tetapi sangat jauh di hati. Kita hidup dalam masyarakat yang identitasnya tidak hanya dibangun oleh pikiran, tetapi juga oleh sejarah, kelompok, pengalaman, simbol, dan keyakinan. Karena itu, kritik terhadap sebuah gagasan sering kali ditafsirkan sebagai serangan terhadap diri, kelompok, bahkan agama.
Di sinilah sebuah kesalahan logika dapat berubah menjadi konflik sosial: kritik terhadap ide dianggap penghinaan terhadap identitas. Dan ketika identitas merasa terancam, rasionalitas sering kali mundur ke belakang.
Bayani Tanpa Irfani
Dalam komunikasi keagamaan, persoalan itu menjadi lebih rumit. Agama bukan hanya kumpulan proposisi yang harus dibuktikan benar atau salah. Agama juga merupakan pengalaman hidup. Ia hadir dalam doa seorang ibu, air mata seorang jamaah, perjuangan seorang miskin, ketenangan seorang santri, dan harapan seseorang yang sedang mencari jalan pulang kepada Tuhan.
Karena itu, pendekatan bayani sangat penting, tetapi tidak cukup. Teks memberikan orientasi tentang apa yang benar. Namun, memahami teks tanpa memahami manusia yang hidup di balik teks dapat melahirkan kekakuan. Kita bisa sangat fasih mengutip ayat tentang persaudaraan, tetapi cara berbicara kita justru memecah persaudaraan.
Kita dapat mengutip hadis tentang kelembutan, tetapi menyampaikannya dengan kemarahan.
Kita dapat berbicara tentang rahmat Allah, tetapi wajah kita membuat agama terasa seperti ancaman. Di situlah terjadi paradoks yang menyakitkan: pesan agama berbicara tentang kasih sayang, tetapi komunikasi agama melahirkan kebencian. Masalahnya bukan selalu pada agamanya. Bisa jadi masalahnya terletak pada cara manusia membawa agama ke ruang sosial.
Kebenaran yang Tidak Memiliki Ethos
Ada satu dimensi lain yang sering dilupakan: ethos.
Dalam komunikasi, orang tidak hanya menilai apa yang kita katakan, tetapi juga siapa yang mengatakannya.
Seorang pemimpin yang mengajak hidup sederhana tetapi mempertontonkan kemewahan akan kehilangan ethos. Seorang tokoh yang berbicara tentang persatuan tetapi gemar merendahkan kelompok lain akan kehilangan ethos. Seorang pendakwah yang mengajarkan akhlak tetapi kasar kepada orang yang berbeda pendapat sedang menghancurkan pesan yang ia sendiri sampaikan.
Sebab manusia membaca pesan melalui pembawanya. Keteladanan adalah argumen yang berjalan. Bahkan sering kali ia lebih kuat daripada seribu kata. Karena itu, kritik yang benar dapat kehilangan kekuatannya ketika keluar dari mulut yang tidak dipercaya. Sebaliknya, perkataan yang sederhana dapat memiliki daya ubah yang besar ketika lahir dari pribadi yang telah membuktikan integritasnya.
Di sini kita menemukan sebuah hukum sosial yang sederhana:
Kebenaran membutuhkan kredibilitas agar dipercaya, membutuhkan argumentasi agar dipahami, dan membutuhkan kasih sayang agar diterima.
Pathos Bukan Manipulasi Emosi
Namun kita juga harus berhati-hati. Menghadirkan pathos bukan berarti memanipulasi emosi. Komunikasi keagamaan yang sengaja membakar kemarahan, memperbesar ketakutan, menciptakan musuh imajiner, atau mengeksploitasi sentimen primordial mungkin berhasil mengumpulkan massa. Tetapi ia sedang membangun komunitas di atas bara. Massa memang mudah dikumpulkan oleh kemarahan.
Tetapi masyarakat hanya dapat dipersatukan oleh keadilan. Inilah salah satu persoalan komunikasi sosial di era digital. Algoritma sering lebih menyukai suara yang keras daripada argumen yang jernih. Pernyataan yang menyinggung identitas lebih cepat beredar daripada penjelasan yang panjang dan berimbang. Kemarahan lebih mudah menjadi viral daripada kebijaksanaan.
Akibatnya, agama yang seharusnya menjadi sumber rahmah dapat direduksi menjadi identitas yang harus dipertahankan dengan cara menyerang yang berbeda. Kita kemudian menyaksikan sebuah ironi: orang berdebat tentang siapa yang paling benar, tetapi dalam prosesnya kehilangan cara yang benar untuk memperlakukan sesama.
Enam Dimensi Kebenaran dan Komunikasi
Di sinilah sintesis bayani–burhani–irfani dan logos–pathos–ethos menjadi penting.
Bayani mengajarkan kita untuk bertanya:
Apa landasan normatifnya?
Burhani mengajarkan:
Apa argumentasi dan buktinya?
Irfani mengingatkan:
Apa makna terdalamnya bagi kehidupan manusia?
Sementara logos bertanya:
Bagaimana menjelaskannya secara rasional?
Pathos bertanya:
Bagaimana menyentuh manusia tanpa mempermainkan emosinya?
Dan ethos bertanya:
Apakah orang yang menyampaikannya layak dipercaya?
Keenamnya tidak boleh dipertentangkan. Bayani tanpa burhani dapat menjadi dogmatis. Burhani tanpa irfani dapat menjadi kering. Irfani tanpa bayani dapat kehilangan pijakan.
Demikian pula logos tanpa pathos dapat menjadi dingin. Pathos tanpa logos dapat menjadi propaganda. Logos dan pathos tanpa ethos dapat berubah menjadi pertunjukan retorika.
Karena itu, komunikasi keagamaan yang matang semestinya bergerak dalam satu kesatuan: teks yang benar, akal yang jernih, hati yang hidup, bahasa yang rasional, emosi yang manusiawi, dan keteladanan yang nyata.
Kritik Tidak Harus Menjadi Permusuhan
Kita barangkali perlu mengubah cara memahami kritik. Kritik bukan selalu tanda kebencian. Kadang kritik justru merupakan bentuk cinta yang belum menemukan bahasa yang tepat. Orang yang membawa data tentang kelemahan organisasi belum tentu membenci organisasi. Orang yang mempertanyakan kebijakan keagamaan belum tentu sedang menyerang agama. Orang yang menunjukkan kesalahan seorang tokoh tidak otomatis sedang meruntuhkan kehormatan tokoh tersebut.
Bisa jadi ia sedang berusaha menyelamatkan sesuatu yang ia cintai dari kesalahan yang lebih besar. Masalahnya, budaya kita sering lebih cepat bertanya:
“Dia dari kelompok mana?”
daripada:
“Apakah yang dia katakan benar?”
Kita sibuk menilai identitas pembicara sebelum memeriksa kualitas argumentasinya.
Padahal kebenaran tidak menjadi salah hanya karena keluar dari mulut orang yang tidak kita sukai. Sebaliknya, kesalahan tidak menjadi benar hanya karena disampaikan oleh orang yang kita kagumi. Di sinilah kedewasaan intelektual diuji.
Dari Budaya Menang Debat Menuju Budaya Mencari Kebenaran
Mungkin sudah waktunya kita mengubah orientasi komunikasi sosial-keagamaan: dari menang dalam perdebatan menuju menemukan kebenaran bersama. Sebab tujuan ilmu bukan mempermalukan orang yang keliru. Tujuan ilmu adalah mendekatkan manusia kepada kebenaran. Tujuan dakwah bukan membuat orang lain merasa kalah. Tujuan dakwah adalah membuka pintu kesadaran.
Tujuan kritik bukan menghancurkan martabat seseorang. Kritik yang sehat justru berusaha menyelamatkan gagasan, lembaga, dan masyarakat dari kesalahan. Maka seorang komunikator keagamaan idealnya tidak berhenti pada pertanyaan, “Apakah yang saya katakan benar?”
Ia juga perlu bertanya:
“Apakah cara saya menyampaikannya membuat orang mampu memahami kebenaran itu?”
“Apakah bahasa saya membuka ruang dialog atau justru membangun tembok?”
“Apakah saya sedang menyampaikan kebenaran, atau sedang menggunakan kebenaran untuk memenangkan ego?”
Pertanyaan terakhir mungkin yang paling penting.
Sebab kadang-kadang manusia tidak sedang membela kebenaran. Ia sedang membela dirinya sendiri dengan memakai nama kebenaran.
Menyatukan Kepala, Hati, dan Keteladanan
Pada akhirnya, komunikasi yang sehat membutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan.
Ia membutuhkan kepala yang jernih, hati yang lapang, dan karakter yang dapat dipercaya.
Bayani memberi kita akar.
Burhani memberi kita batang.
Irfani memberi kita kehidupan.
Logos memberi kita struktur berpikir.
Pathos memberi kita daya sentuh.
Ethos memberi kita kepercayaan.
Jika keenamnya tumbuh bersama, komunikasi tidak lagi menjadi arena untuk saling menjatuhkan, tetapi menjadi jalan untuk saling menemukan. Sebab masyarakat yang sehat bukan masyarakat tanpa perbedaan pendapat. Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang mampu berbeda tanpa saling membenci, mengkritik tanpa saling merendahkan, dan mencari kebenaran tanpa kehilangan persaudaraan.
Barangkali inilah salah satu tugas terbesar komunikasi keagamaan hari ini: mengembalikan agama dari sekadar sesuatu yang diperdebatkan menjadi sesuatu yang menghidupkan. Sebab pada akhirnya, kebenaran yang hanya tinggal di kepala belum selesai menjadi kebenaran sosial. Ia harus turun ke hati. Lalu menjelma menjadi akhlak.
Dan ketika kebenaran telah menjadi akhlak, ia tidak perlu berteriak untuk meyakinkan manusia. Ia cukup hadir, dan manusia dapat merasakannya.


