back to top
Selasa, April 21, 2026

Dari Argo ke Geopolitik: Mengapa Iran dan Amerika Sulit Berdamai?

Lihat Lainnya

Ghifari Fajar Anugerah
Ghifari Fajar Anugerah
Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Kalau nonton Argo, kita mungkin mengira ini cuma film tentang operasi penyelamatan yang cerdas dan menegangkan. Tapi kalau dilihat lebih dalam, film ini sebenarnya membuka satu pintu besar: bagaimana konflik antara Iran dan Amerika Serikat terbentuk, dan kenapa sampai hari ini hubungan keduanya masih jauh dari kata baik-baik saja.

Pelanggaran Konvensi Wina 1961 dalam Krisis Sandera Iran

Film ini diangkat dari peristiwa nyata, yaitu Iran Hostage Crisis, ketika sekelompok mahasiswa Iran menyerbu Kedutaan Besar Amerika di Teheran dan menyandera puluhan diplomat selama lebih dari setahun.

Secara hukum internasional, ini jelas pelanggaran serius. Dalam Konvensi Wina 1961 tentang Hubungan Diplomatik, negara tuan rumah punya kewajiban melindungi diplomat dan gedung kedutaan. Tapi dalam kasus ini, Iran gagal bahkan dalam beberapa tahap justru membiarkan situasi itu berlangsung.

Di titik ini, kita bisa melihat bahwa hukum internasional sering kali ideal di atas kertas, tapi tidak selalu kuat dalam praktik. Dalam teori, ada prinsip yang disebut state responsibility atau tanggung jawab negara.

Artinya, meskipun yang melakukan penyanderaan adalah kelompok masyarakat (mahasiswa), negara tetap bisa dimintai pertanggungjawaban karena tidak mencegah atau mengendalikan situasi.

Namun dalam realitas politik global, sanksi atau penegakan hukum internasional sering bergantung pada kekuatan politik, bukan sekadar benar atau salah.Menariknya, Argo juga menunjukkan bahwa penyelesaian konflik tidak selalu lewat jalur resmi. Operasi penyelamatan dilakukan oleh CIA dengan cara yang cukup “nyeleneh” menyamar sebagai kru film.

Baca Juga:  Jadi Islam Tak Perlu Jadi Arab!

Dari sudut pandang hukum internasional, tindakan ini bisa dianggap melanggar kedaulatan Iran. Tapi di sisi lain, praktik seperti ini bukan hal asing dalam hubungan internasional. Negara sering menggunakan operasi rahasia (covert operations) untuk mencapai tujuan tanpa harus berhadapan langsung secara terbuka.

Politik Kepentingan dan Persepsi dalam Ketegangan Iran–Amerika

Di sinilah kita mulai melihat satu hal penting: hubungan internasional tidak hanya berjalan berdasarkan hukum, tapi juga kepentingan dan strategi.

Dalam teori realisme, negara akan selalu memprioritaskan keamanan dan kepentingannya sendiri. Apa yang dilakukan Amerika dalam Argo bisa dilihat sebagai bentuk perlindungan terhadap warganya, meskipun caranya berada di wilayah abu-abu secara hukum.

Kalau ditarik ke kondisi sekarang (2025–2026), pola hubungan Iran-Amerika sebenarnya tidak banyak berubah. Kedua negara masih berada dalam kondisi saling curiga. Tidak ada hubungan diplomatik resmi, dan konflik lebih sering muncul dalam bentuk tidak langsung misalnya lewat perang proxy di kawasan Timur Tengah atau lewat tekanan ekonomi seperti sanksi.

Program nuklir Iran menjadi salah satu sumber ketegangan utama. Amerika melihatnya sebagai ancaman keamanan global, sementara Iran menganggapnya sebagai hak kedaulatan dan bagian dari strategi pertahanan. Di sini, kita bisa melihat bagaimana persepsi memainkan peran besar.

Dalam perspektif konstruktivisme, konflik tidak hanya soal kepentingan material, tapi juga soal identitas dan cara pandang. Iran melihat Amerika sebagai simbol intervensi Barat, sementara Amerika melihat Iran sebagai aktor yang tidak stabil dan berpotensi mengganggu tatanan global.

Baca Juga:  Iran Tegaskan Tidak Akan Hadiri KTT Perdamaian Gaza di Mesir

Kalau dipikir-pikir, akar dari semua ini memang kembali ke sejarah panjang, termasuk peristiwa 1979 yang digambarkan dalam Argo. Sejak saat itu, hubungan kedua negara tidak pernah benar-benar pulih.

Bahkan, krisis tersebut menjadi semacam trauma kolektif bagi kedua pihak. Bagi Iran, itu adalah simbol perlawanan terhadap dominasi Barat. Bagi Amerika, itu adalah simbol penghinaan terhadap kekuatan diplomatiknya.

Selain itu, ada faktor politik domestik yang sering luput dari perhatian. Dalam film, revolusi Iran terjadi karena ketidakpuasan terhadap rezim Shah yang didukung Amerika. Artinya, kebijakan luar negeri tidak bisa dilepaskan dari kondisi dalam negeri. Hal yang sama juga berlaku sekarang. Kebijakan Iran terhadap Amerika sering dipengaruhi oleh kebutuhan legitimasi politik di dalam negeri, begitu juga sebaliknya di Amerika.

Film sebagai Alat Politik: Membaca Argo dalam Perspektif Soft Power

Yang juga menarik, Argo sendiri sebenarnya bukan film yang sepenuhnya netral. Banyak kritik yang menyebut film ini terlalu memihak Amerika dan mengecilkan peran negara lain seperti Kanada dalam operasi penyelamatan.

Ini menunjukkan bahwa film, sebagai produk budaya, juga bisa menjadi alat politik. Dalam hubungan internasional, ini dikenal sebagai soft power kemampuan mempengaruhi opini publik melalui budaya, media, dan narasi.

Jadi, apa yang bisa kita pelajari dari semua ini?

Pertama, konflik internasional hampir selalu punya akar sejarah yang panjang. Kita tidak bisa memahami hubungan Iran Amerika hari ini tanpa melihat apa yang terjadi di masa lalu. Kedua, hukum internasional penting, tapi tidak selalu menjadi penentu utama dalam praktik. Ketiga, persepsi dan narasi sering kali lebih kuat daripada fakta objektif. Dan terakhir, konflik tidak selalu diselesaikan dengan perang terbuka sering kali justru berlangsung secara diam-diam, lewat strategi yang tidak terlihat.

Baca Juga:  Tuna Susila sebagai Mustadh’afin: Best Practice Dakwah Dosen UM Surabaya Terhadap PSK

Pada akhirnya, Argo bukan hanya cerita tentang penyelamatan sandera. Ia adalah gambaran kecil dari bagaimana dunia bekerja: penuh kepentingan, penuh strategi, dan sering kali jauh dari hitam-putih. Dan kalau melihat kondisi geopolitik hari ini, kita bisa bilang satu hal cerita dalam Argo belum benar-benar selesai. Ia hanya berubah bentuk.(Nashuha)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru