IBTimes.ID – Di tengah hiruk-pikuk politik dan kehidupan sehari-hari yang serba cepat, istilah Traffic Builder mendadak jadi perbincangan hangat. Pada 27 April 2026, akun Instagram Total Politik mengunggah pidato singkat Bambang “Pacul” Wuryanto, Wakil Ketua MPR RI yang juga menjabat Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Legislatif DPP PDI Perjuangan periode 2025-2030. Dengan gaya blak-blakan dan humor khasnya, Komandan Patjul menyampaikan pesan itu kepada para simbol manusia kelas bawah yang memiliki semangat juang, daya lenting tinggi, dan disiplin kuat untuk keluar dari kemiskinan.
“Ini teknik lapangan, ini teknik hidup,” katanya. “Gimana supaya galahmu tertarik? Kok susah aku mendekati galahku. Kau buat traffic builder yang galahmu suka… ‘cik cik cik’. Jadi traffic builder kamu bangun. Syukur kalau di sana ada yang membunyikan ‘cuit cuit cuit’.” Intinya tegas: bukan kita yang mendekati galah, tapi galah yang kita tarik mendekat. “Kita bikin galah yang mendekati kita,” kata Bambang ‘Pacul” dengan nada lirih tapi serius, yang langsung disambut gelak ketawa para hadirin.
Dalam filosofi Bambang Pacul, “galah” adalah metafora untuk mentor, sosok berpengaruh, atau sarana yang membantu orang-orang dari kalangan bawah melenting naik kelas. Galah yang tepat bisa membawa mereka ke posisi sosial-ekonomi yang jauh lebih baik, sering lewat jalur politik. Selama ini banyak yang terjebak cara lama: mengejar, mendekati, bahkan memaksa. Akhirnya malah ditolak atau dihindari. Traffic Builder membalikkan permainan itu. Alih-alih mengejar, kita membangun arus perhatian yang kuat sehingga galah justru datang sendiri.
Pendekatan ini sebenarnya bukan hal baru. Dalam dunia bisnis, konsep serupa sudah lama dikenal sebagai pull marketing yang dipopulerkan Philip Kotler. Berbeda dengan push marketing yang memaksa produk masuk ke pasar, pull marketing bekerja dengan memberi nilai dulu sehingga orang datang sendiri. Pacul hanya menyajikannya dengan bahasa lapangan yang lugas dan mudah dicerna, bangun traffic builder dulu, baru galah datang menghampiri.
Robert Cialdini, ahli psikologi pengaruh, dalam bukunya Influence: The Psychology of Persuasion menjelaskan mengapa cara ini ampuh. Manusia cenderung mendekati sesuatu yang sudah punya bukti sosial kuat dan memberi rasa timbal balik. Begitu orang lain mulai merespons traffic builder yang kita bangun, lewat postingan, kegiatan, atau percakapan—mentor atau sosok yang diincar pun jadi penasaran. “Cik cik cik” yang disebut Pacul itu sinyal kecil yang menular. Satu orang tertarik, yang lain ikut-ikutan.
Konsep ini juga selaras dengan gagasan Tom Peters tentang personal branding sejak akhir 1990-an. Peters bilang, jadilah “Brand You”, branding diri yang kuat. Caranya bukan pamer atau anak muda sekarang menyebutnya NPD (Narcissistic Personality Disorder), tapi konsisten memberi nilai dan manfaat. Di era media sosial sekarang, orang yang rajin berbagi ilmu, pengalaman, atau sekadar humor ala Pacul tanpa sengaja sedang membangun traffic builder. Mereka tak lagi buru-buru mencari galah. Galah yang justru mendekat.
Contohnya banyak di sekitar kita. Ada pengusaha kecil yang rutin bagikan tips bisnis di TikTok atau Instagram tanpa pernah memaksa jualan. Tiba-tiba datang tawaran kerjasama dari kalangan atas. Atau aktivis lapangan yang selalu mendengar keluhan warga biasa, lalu menyuarakannya dengan jujur dan dengan poin-poin solutif. Lama-kelamaan, mentor dan peluang politik datang sendiri. Itu semua bukan keberuntungan semata, tapi hasil strategi yang disusun dari sebuah personal branding yang baik.
Lantas, bagaimana membangun Traffic Builder yang benar?
Pertama, pahami dulu galah yang diinginkan, mentor seperti apa, atau sarana apa yang bisa membantu naik kelas. Kedua, beri nilai tanpa pamrih: ilmu, hiburan, atau solusi kecil yang bermanfaat. Ketiga, konsisten. Ini bukan lomba sprint, melainkan maraton. Keempat, libatkan orang lain agar sinyal sosialnya berdering sendiri. Kelima, selalu pantau siapa yang mulai mendekat dan apa yang mereka bicarakan.
Di tengah banjir informasi hari ini, Traffic Builder menjadi senjata paling tajam bagi siapa saja yang ingin maju tanpa menundukkan kepala. Bukan soal seberapa keras mengejar, tapi seberapa pintar menarik. Bambang Pacul mengingatkan kita bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada seberapa jauh kita berlari mengejar galah, melainkan seberapa kokoh kita membangun panggung sehingga galah datang ke panggung itu.
Pesan sederhana ini sangat relevan bagi generasi muda dari latar belakang biasa. Daripada lelah terus melamar kesempatan atau mencari mentor, lebih baik kita upayakan up skilling, memperjuangkan pendidikan dengan sabaik-baiknya, dan berbuat baik kepada semua orang terlebih dahulu. Beri nilai lebih dulu. Biarkan dunia melihat. Pelan-pelan, galah yang tepat akan datang mendekat dengan sendirinya.
Komandan Patjul mungkin tak bermaksud melahirkan teori besar. Ia hanya berbagi pengalaman lapangan yang sudah teruji. Namun pesannya pas sekali di zaman di mana perhatian adalah segalanya. Jadilah Traffic Builder. Bangun arusnya. Biarkan galah yang mendekat.
Dan saat galah itu akhirnya berdiri di depan mata, cukup tersenyum. Karena Anda sudah menyelesaikan bagian tersulit: tak lagi mengejar, tapi menarik dengan cara yang elegan.
(Assalimi)


