back to top
Kamis, Mei 7, 2026

Mungkinkah AS Iran Capai Kesepakatan Penuh?

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – AS-Iran dikabarkan hampir menyepakati nota kesepahaman yang bisa mengakhiri konflik secara resmi dan membuka jalan menuju kesepakatan penuh dalam waktu 30 hari. Bagaimana peluang AS-Iran mencapai perdamaian?

Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui media sosial, Selasa (5/5/2026) waktu setempat atau Rabu (6/5/2026) waktu Indonesia, mengumumkan penghentian sementara operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz. Trump meyakini ada kemajuan signifikan dalam perundingan AS-Iran menuju kesepakatan menyeluruh.

Pengawalan tersebut merupakan bagian dari Project Freedom yang diluncurkan Trump sehari sebelumnya. Proyek ini sekaligus mengakhiri operasi militer Epic Fury yang telah berjalan bersama Israel sejak 28 Februari 2026.

“Kami telah saling menyepakati bahwa sementara blokade akan tetap berlaku penuh dan efektif. Project Freedom akan dihentikan sementara untuk waktu singkat guna melihat apakah kesepakatan AS-Iran dapat diselesaikan dan ditandatangani,” tulis Trump.

Meski demikian, Gedung Putih belum memberikan penjelasan rinci mengenai kemajuan yang dicapai atau durasi penghentian sementara tersebut. Trump juga memperingatkan Iran agar tidak melanggar gencatan senjata.

“Mereka tahu apa yang tidak boleh dilakukan,” tegasnya.

Sebelum Epic Fury diakhiri dan digantikan Project Freedom, Trump menyatakan militer Iran telah sangat melemah dan Teheran kini lebih menginginkan perdamaian. Menurutnya, Iran kini hanya mampu melancarkan serangan kecil yang tidak signifikan.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menjelaskan bahwa Project Freedom merupakan operasi defensif berskala lebih kecil di Selat Hormuz.

Baca Juga:  Urgensi Imunitas Para Pengawas "Wakil Tuhan"

“Operasi Epic Fury telah selesai. Kami mencapai tujuan operasi itu. Kami lebih memilih jalan damai. Yang diinginkan presiden adalah kesepakatan AS-Iran,” kata Rubio di Gedung Putih.

Rubio menambahkan bahwa utusan AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, terus menjajaki solusi diplomatik yang mencakup isu program nuklir Iran.

Satu sumber di Pakistan dan sumber lainnya menyebutkan bahwa kedua negara itu hampir menyepakati nota kesepahaman satu halaman yang secara resmi akan mengakhiri konflik. Jika disetujui, nota tersebut akan memulai hitung mundur 30 hari untuk negosiasi lebih rinci guna mencapai kesepakatan penuh.

Kesepakatan penuh itu diproyeksikan akan mengakhiri blokade di Selat Hormuz, mencabut sanksi AS, melepaskan aset Iran yang dibekukan, serta menetapkan pembatasan pada program nuklir Iran. Namun, belum ada pembahasan mendalam mengenai program rudal dan dukungan Iran terhadap kelompok proksinya.

Hingga kini, Iran belum memberikan tanggapan resmi terhadap proposal terbaru AS. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei menyatakan proposal tersebut masih ditinjau.

“Teheran akan mengomunikasikan posisinya kepada mediator Pakistan setelah memfinalisasi pandangannya,” ujarnya.

Sementara itu, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyambut positif perkembangan ini.

“Kami sangat berharap momentum AS-Iran saat ini akan mengarah pada kesepakatan langgeng yang menjamin perdamaian dan stabilitas kawasan,” tulisnya di X.

Trump sendiri optimistis kesepakatan kedua negara tersebut bisa tercapai jika Teheran memenuhi kesepakatan awal. Namun, ia tetap mengancam akan melanjutkan pengeboman dengan intensitas lebih tinggi jika Iran melanggar batas.

Baca Juga:  Pemenang Lomba Esai Milad ke-107 Muhammadiyah

“Kami telah melakukan pembicaraan yang sangat baik selama 24 jam terakhir dan sangat mungkin kami akan mencapai kesepakatan,” katanya di Ruang Oval.

Di tengah upaya diplomasi, AS terus menekan Iran melalui forum internasional. Rubio mengajukan resolusi di Dewan Keamanan PBB yang menuntut Iran menghentikan serangan terhadap kapal niaga dan pemasangan ranjau di Selat Hormuz. Resolusi tersebut didukung Bahrain, Arab Saudi, UEA, Kuwait, dan Qatar.

Sementara itu, Iran memperkuat dukungan dari China dan Rusia. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertemu Menlu China Wang Yi di Beijing dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Saint Petersburg. Kedua negara besar tersebut menyatakan siap memainkan peran lebih besar untuk mendorong perdamaian AS-Iran.

Nuklir dan kendali Selat Hormuz tetap menjadi ganjalan utama dalam perundingan dua negara yang berseteru tersebut. Ayatollah Mojtaba Khamenei menegaskan Iran tidak akan menyerah pada tuntutan AS dan akan terus melindungi program nuklir serta rudalnya sebagai hak kedaulatan nasional.

(Assalimi)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru