back to top
Rabu, Mei 6, 2026

Menghina Ulama dan Ancaman Su’ul Khatimah

Lihat Lainnya

Helmi Abu Bakar El-Langkawi
Helmi Abu Bakar El-Langkawi
Dosen UNISAI Samalanga, Alumni MUDI Mesjid Raya Samalanga, Pengurus PW Ansor Aceh dan Mantan Ketua PC Ansor Pidie Jaya

Islam sebagai agama yang sangat menjunjung tinggi ilmu dan para pembawanya. Dalam struktur kehidupan umat, ulama menempati posisi yang mulia sebagai penjaga nilai, penerang jalan, dan pembimbing umat menuju kebenaran. Mereka bukan sekadar orang yang mengetahui, tetapi orang yang mengamalkan dan menyampaikan ilmu sebagai amanah dari Rasulullah SAW. Karena itu, menghormati ulama bukanlah bentuk pengkultusan, melainkan bagian dari menjaga kemuliaan ilmu itu sendiri.

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu. Maka siapa yang mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang sangat besar.”(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Hadis ini menjadi landasan kuat bahwa ulama memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam. Mereka adalah penyambung risalah kenabian dalam bentuk ilmu, dakwah, dan pembinaan umat. Oleh sebab itu, merendahkan ulama sejatinya adalah bentuk merendahkan ilmu yang mereka bawa.

Diantara fenomena yang terjadi di tengah masyarakat hari ini justru menunjukkan kecenderungan yang mengkhawatirkan. Di era keterbukaan informasi, khususnya melalui media sosial, tidak sedikit orang dengan mudah melontarkan cacian, sindiran, bahkan fitnah kepada para ulama.

Perbedaan pandangan yang semestinya disikapi dengan adab ilmiah justru berubah menjadi permusuhan dan penghinaan. Lisan dan jari menjadi begitu ringan untuk menghakimi, tanpa pertimbangan ilmu dan akhlak.

Padahal, Al-Qur’an telah memberikan peringatan keras terhadap sikap merendahkan orang-orang beriman. Allah SWT berfirman: “Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa lebih mulia dari mereka pada hari kiamat…”(QS. Al-Baqarah: 212)

Ayat ini menunjukkan bahwa meremehkan dan merendahkan orang beriman adalah sifat yang tercela. Lebih jauh lagi, dalam Surat Al-Mu’minun ayat 103–111, Allah menggambarkan bagaimana orang-orang yang dahulu menjadikan kaum beriman sebagai bahan ejekan akan mendapatkan balasan di akhirat. Mereka tertawa di dunia, tetapi kelak akan merasakan penyesalan yang mendalam.

Baca Juga:  Menuntut Ilmu dengan Tujuan Ingin Kaya, Boleh Ya?

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa dosa mereka bukan hanya karena tidak beriman, tetapi juga karena menghina dan meremehkan hamba-hamba Allah yang taat. Mereka menjadikan kesalehan sebagai bahan olok-olokan, hingga kesibukan mencela itu melalaikan mereka dari mengingat Allah SWT.

Adab dalam Mengkritik Ulama

Penting untuk ditegaskan bahwa Islam tidak melarang kritik terhadap ulama. Kritik merupakan bagian dari tradisi keilmuan yang sehat. Namun, kritik harus dilakukan dengan adab, ilmu, dan niat yang lurus. Kritik bukanlah celaan, dan perbedaan pendapat bukanlah alasan untuk merendahkan kehormatan seseorang.

Para ulama sendiri sejak dahulu telah berbeda pendapat dalam banyak persoalan, namun mereka tetap menjaga adab satu sama lain. Imam Syafi’i dan Imam Ahmad, misalnya, memiliki perbedaan dalam beberapa masalah fiqh, tetapi tetap saling menghormati dan mendoakan. Ini menjadi teladan bahwa perbedaan tidak harus melahirkan permusuhan.

Sebaliknya, ketika kritik berubah menjadi cacian, maka yang lahir bukan lagi perbaikan, tetapi kerusakan. Orang yang mencela ulama sering kali tidak hanya menyerang pribadi, tetapi juga merusak kepercayaan masyarakat terhadap ilmu dan agama. Ini adalah dampak yang sangat berbahaya.

Bahaya Menghina Ulama bagi Hati

Menghina ulama bukan hanya berdampak pada hubungan sosial, tetapi juga pada kondisi spiritual seseorang. Hati yang terbiasa merendahkan ahli ilmu akan kehilangan cahaya adab. Lama-kelamaan, ia tidak lagi mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan dengan jernih.

Para ulama salaf mengingatkan bahwa dosa lisan adalah salah satu dosa yang paling cepat merusak hati. Ketika seseorang meremehkan orang yang lebih dekat kepada Allah, dikhawatirkan ia sedang membuka pintu kebinasaan bagi dirinya sendiri.

Dalam banyak nasihat ulama, disebutkan bahwa salah satu akibat buruk dari mencela orang-orang saleh adalah terhalangnya seseorang dari kebaikan. Bahkan, sebagian ulama mengaitkannya dengan kemungkinan datangnya su’ul khatimah akhir kehidupan yang buruk sebagai akibat dari hati yang telah rusak dan jauh dari adab.

Baca Juga:  Jadi Benteng Penjaga Nyawa Rakyat Aceh, UIN Ar-Raniry Buka Prodi Mitigasi Bencana

Tentu saja, hal ini bukan untuk memastikan nasib seseorang, melainkan sebagai peringatan keras agar manusia berhati-hati dalam menjaga lisannya.

“Daging Ulama Itu Beracun” sebagai Peringatan Moral

Salah satu ungkapan yang sangat terkenal dalam tradisi ulama adalah perkataan Imam Ibnu ‘Asakir: “Daging para ulama itu beracun, dan kebiasaan Allah dalam menyingkap aib para pencela mereka telah diketahui.”

Ungkapan ini bukan dimaksudkan secara harfiah, tetapi sebagai metafora yang sangat kuat. “Beracun” di sini berarti bahwa mencela ulama akan membawa dampak buruk bagi pelakunya. Ia mungkin tidak langsung terlihat, tetapi perlahan akan merusak kehormatan, hati, bahkan kehidupannya.

Ibnu ‘Asakir melanjutkan bahwa orang yang mencela ulama dengan sesuatu yang tidak benar akan diuji oleh Allah dengan terbongkarnya aib dirinya sendiri. Ini menjadi pelajaran bahwa kehormatan ulama dijaga oleh Allah SWT.

Senada dengan itu, Imam Abdullah bin Mubarak berkata: “Jangan meremehkan tiga golongan: ulama, pemimpin, dan saudara. Siapa yang meremehkan ulama, rusaklah akhiratnya; siapa meremehkan pemimpin, rusaklah dunianya; dan siapa meremehkan saudaranya, hilanglah kehormatannya.”

Perkataan ini menunjukkan bahwa meremehkan ulama bukan perkara ringan. Ia berkaitan dengan nasib akhirat seseorang.

Dalam beberapa riwayat disebutkan kisah orang-orang yang terbiasa mencela ulama, lalu mengalami akhir yang buruk. Salah satunya adalah kisah yang dinisbatkan kepada seseorang yang mencibir Imam An-Nawawi, kemudian mengalami perubahan kondisi yang tidak baik di akhir hayatnya (Su’ul Khatimah). 

Kisah seperti ini harus dipahami sebagai ibrah (pelajaran), bukan sebagai vonis pasti. Tujuannya adalah agar manusia mengambil hikmah dan memperbaiki diri, bukan untuk menghakimi orang lain.

Tantangan Dunia Maya: Lisan yang Tak Terlihat

Di era digital, tantangan menjaga lisan menjadi semakin kompleks. Media sosial memberikan ruang yang luas bagi setiap orang untuk berbicara, berkomentar, dan menyampaikan pendapat. Namun, kebebasan ini sering kali tidak diiringi dengan tanggung jawab.

Baca Juga:  Deep Ecology: Gagasan Filsafat Ekologi Arne Naess

Banyak orang merasa aman di balik layar, sehingga dengan mudah menulis komentar kasar, menghina, atau menyebarkan tuduhan tanpa dasar. Padahal, setiap kata yang ditulis tetap akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Dalam konteks ini, “lisan” tidak lagi hanya berarti ucapan, tetapi juga tulisan. Jari-jari yang mengetik di layar memiliki hukum yang sama dengan lisan yang berbicara.

Agar terhindar dari bahaya mencela ulama, ada beberapa hal yang perlu dijadikan pegangan:

Pertama, menjaga adab dalam berbicara dan berpendapat. Jika tidak mampu berkata baik, maka diam adalah pilihan yang lebih selamat.

Kedua, melakukan tabayyun (klarifikasi) sebelum mempercayai dan menyebarkan informasi, terutama yang berkaitan dengan kehormatan seseorang.

Ketiga, membedakan antara kritik dan hinaan. Kritik dilakukan untuk memperbaiki, sedangkan hinaan hanya melampiaskan emosi.

Keempat, menyadari bahwa ulama adalah manusia biasa yang bisa salah, tetapi tetap memiliki kedudukan mulia karena ilmu dan perjuangannya.

Kelima, memperbanyak introspeksi diri. Sering kali, kesalahan orang lain lebih mudah terlihat daripada kekurangan diri sendiri.

Menghina ulama bukanlah perkara sepele. Ia bukan hanya melukai individu, tetapi juga dapat merusak kehormatan ilmu dan merusak hati pelakunya. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat menjauhkan seseorang dari kebenaran dan membuka pintu keburukan dalam hidupnya.

Sebaliknya, menghormati ulama adalah bagian dari menjaga agama. Bukan berarti menutup mata dari kesalahan, tetapi menempatkan segala sesuatu dengan adab dan kebijaksanaan.

Di tengah derasnya arus informasi dan kebebasan berbicara, mari kita jaga lisan dan tulisan kita. Jangan sampai apa yang kita anggap sepele justru menjadi sebab kerugian besar di dunia dan akhirat.

Jika tidak mampu memuliakan, setidaknya jangan merendahkan. Karena bisa jadi, orang yang kita hina di dunia justru dimuliakan di sisi Allah SWT. Lantas masihkah tak sadar dan senang mencaci ulama yang menanti su’ul khatimah (tidak selamat imam) ketika ajal menjemput? 

(Nashuha)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru