back to top
Sabtu, Mei 9, 2026

Penghianatan Pertama Umat Islam Kepada Agamanya

Lihat Lainnya

Islam adalah agama yang menyumbang populasi sebagai umat terbesar kedua di dunia, dengan jumlah dua miliar lebih. Dengan angka yang begitu besar, seharusnya umat ini bisa menyumbang sumbangsih emasnya dalam pengembangan pengetahuan. Terutama di bidang sains dan teknologi (ayat kauniyah).

Tetapi kenyataanya, jauh panggang dari api. Dengan kuantitas yang besar  tidak serta merta menjamin keunggulan kualitas secara kolektif.  Ada pendidikan yang stagnan di banyak tempat negara muslim, konflik berkepanjangan, hingga kemiskinan yang masih menjadi persoalan struktural.

Umat Islam yang sejatinya diarahkan menjadi manusia paripurna – rahmatan lil ‘alamin justru terjebak dalam lingkaran kemunduran. Padahal, dalam ajaran Islam sendiri terdapat instruksi dan rujukan yang jelas untuk mencapai ideal tersebut. Hemat penulis, ada tahapan instruktif yang terlewatkan, sebuah fondasi yang justru sering diabaikan, padahal seharusnya menjadi titik berangkat utama.

Penghianatan Muslim Bermula dari Pengabaian Perintah Agama

Jika dalam suatu ajaran terdapat urutan perintah, maka perintah yang datang lebih awal dapat dipahami sebagai fondasi bagi perintah-perintah berikutnya. Namun, di sinilah tampak adanya kekeliruan dalam cara sebagian umat Islam memahami agamanya.

Perintah pertama sering kali tidak ditempatkan sebagaimana mestinya. Kesalahpahaman inilah yang kemudian menjadi salah satu faktor mendasar yang menghambat perkembangan umat. Khususnya dalam pengembangan ayat-ayat kauniyah di era sekarang.

Banyak yang mengira jika perintah pertama yang harus kita lakukan adalah ibadah ritual. Anggapan itu keliru jika menelusuri dari ayat pertama turun untuk umat manusia, terkhusus kepada muslim. Perintah itu bukanlah sholat, ataupun ibadah-ibadah ritual lainya, melainkan membaca.

Baca Juga:  Bagaimana Ibnu Khaldun Memandang Peradaban?

Dengan demikian, dapat disimpulkan penghianatan pertama muslim kepada agamanya adalah “tidak membaca”. Jelas tentu, karena  perintah iqra’ bukanlah informasi, melainkan instruksi pertama yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim. Mengabaikannya atau bahkan menolaknya merupakan bentuk penghianatan.

Umat Literasi: Identitas atau  Labelisasi

Nabi Muhammad adalah manusia yang ummi tidak bisa membaca dan menulis. Hal tersebut bertujuan  agar Qur’an tidak dianggap suatu yang karya yang berasal dari manusia. Meski demikian, Muhammad adalah satu – satunya nabi yang mukjizatnya berupa manuskrip literatur yang bisa dibaca hingga sekarang. Lebih dari itu, penamaan Qur’an berasal dari kata Qaraa – Yaqrau yang berarti membaca dengan mendalam.

Dalam lanskap sejarah, peradaban Islam selalu diwarnai dengan literasi yang kental. Bermula dari masa Nabi Muhammad, tawanan perang yang berhasil ditangkap, dan tidak bisa membayar tebusan. Nabi memerintahkan mereka buat mengajar baca dan tulis 10 orang madinah hingga mahir. Sebuah gebrakan yang melampaui zamanya.

Tradisi literasi ini berlanjut pada masa sahabat melalui pembukuan Qur’an yang kemudian menjadi bacaan utama umat Islam. Seiring itu, cakupan pengetahuan pun meluas, tidak hanya terbatas pada wahyu ilahiyah, tetapi juga pada pengkajian ayat-ayat kauniyah.

Puncaknya terlihat pada era Abbasiyah dan Umayyah II, ditandai dengan hadirnya Baitul Hikmah di Baghdad dan pusat intelektual di Cordoba. Yang menyimpan ratusan ribu karya serta menggerakkan aktivitas keilmuan lintas disiplin. Bahkan, sebagai bentuk penghargaan terhadap literasi, karya tulis dan terjemahan pada masa itu dihargai dengan emas seberat buku yang dihasilkan.

Baca Juga:  Baitul Al-Maqdisi: Tanah yang Dijaga Allah

Namun, di masa sekarang kondisi literasi umat islam sangat mengkhawatirkan.  Menurut data World Population Review 2026. Negara dengan jumlah populasi mayoritas muslim tidak masuk 20 besar dengan minat baca buku tertinggi.

Nominasi teratas di dominasi oleh Amerika dengan 17 buku bacaan pertahun. Disusul dengan India dengan 16 buku dan Inggris dengan 15 buku pertahun. Pertanyaannya, apa yang membuat mereka gemar membaca buku? Padahal, tidak ada perintah eksplisit dalam ajaran mereka yang menempatkan membaca sebagai instruksi, apalagi sebagai fondasi awal ajaran agama.

Pada tahap ini, penulis menyadari bahwa perintah tersebut dalam praktik terasa “hambar” sebagai sebuah perintah. Bukan karena dalilnya yang bermasalah, melainkan karena dangkalnya pemahamanan dan kesadaran akan pentingnya membaca dalam kandungan ayat tersebut.

Jika dibandingkan dengan negara-negara dengan tingkat membaca terendah di dunia, di sinilah tulisan penulis menemukan relevansinya. Survei CEOWORLD 2024 menunjukkan bahwa dari 10 negara dengan tingkat membaca buku paling bawah. 10 negara tersebut adalah negara dengan populasi mayoritas muslim.

Negara tersebut adalah Afganistan, Brunei, Pakistan, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Pola serupa juga ditemukan pada tingkat literasi dunia: dari 10 negara dengan literasi terendah. Tujuh dari negara tersebut adalah negara dengan penduduk mayoritas muslim. Kembali ke pertanyaan dasar, apakah perintah membaca menjadi identitas umat islam, atau justru sebuah lebel. Silahkan jawab dengan tindakan.

Baca Juga:  Doa Ketika Kamu Jatuh Cinta

Mengapa Kita Tidak Membaca? Kembali ke Iqra’ sebagai Jalan Solusi

Tidak dapat dipungkiri, suatu peradaban maju dengan pengetahuan, dan runtuh karena pengabaiannya. Manusia menjadi mulia karena pengetahuan. Sebagaimana dalam surah Al- Baqarah ayat 33 – 34 yang menjadi musabab iblis dan malaikat disuruh tunduk kepada Adam. Bukan karena amalan ritualnya, tetapi karena pengetahuan yang diberikan oleh tuhan.

Untuk saat ini kondisinya berbeda, jika pengetahuan dahulu diberikan oleh tuhan kepada kita. Sekarang pengetahuan harus dieksplore untuk menemukannya, dan jalannya adalah membaca. Tidak membaca sama halnya dengan mengubur kemulian manusia.

Dengan membaca, kita bisa memahami realita, membangun peradaban dan memperkuat keyakinan. Lalu, mengapa kita tidak membaca? Bukannya aneh umat yang diperintahkan membaca kini justru penyumbang literasi terendah, buta huruf atau bahkan kemunduran zaman. Maka dirikanlah agamamu dengan pengetahuan.

Pada akhirnya, pilihan ada di umat islam itu sendiri: menjadi angka dalam statistik kemunduran dunia, atau kembali ke fondasi awal ajaran. Membangun kesadaran dengan membaca, kemudian merenungi dan melakukan tindakan besar dalam perkembangan keilmuan.

(Nashuha)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru