back to top
Rabu, Juni 17, 2026

Jejak Kesederhanaan Pemimpin Muhammadiyah di Tengah Aset Ratusan Triliun

Lihat Lainnya

IBTimes.IDDi tengah budaya yang kerap mengaitkan kepemimpinan dengan kemewahan, para pemimpin Muhammadiyah justru menghadirkan hal yang berbeda. Di saat persyarikatan mengelola aset yang nilainya diperkirakan mencapai Rp454 triliun hingga Rp464 triliun, para tokoh yang memimpinnya dari masa ke masa justru dikenal karena kesederhanaan dan kedekatannya dengan masyarakat.

Muhammadiyah saat ini memiliki ribuan amal usaha yang tersebar di seluruh Indonesia, mulai dari 172 perguruan tinggi, 5.345 sekolah, 440 pesantren, 122 rumah sakit, hingga ratusan klinik dan puluhan ribu titik tanah wakaf. Besarnya aset tersebut menjadikan Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi keagamaan terbesar di dunia.

Namun, di balik besarnya angka tersebut, ada nilai yang terus diwariskan dari generasi ke generasi, yakni hidup bersahaja dan menjauh dari budaya berlebihan.

Belakangan, publik ramai membicarakan foto koper sederhana milik Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir. Koper yang tampak telah lama digunakan itu justru menuai pujian dari warganet. Banyak yang melihat kesederhanaan Haedar Nashir sebagai cerminan karakter seorang pemimpin yang tidak silau oleh jabatan.

Viralnya koper tersebut mengingatkan publik pada foto lain yang pernah beredar sebelumnya. Ketua DPP PKS, Mardani Ali Sera, pernah mengunggah foto Haedar Nashir yang sedang duduk sendirian di sebuah stasiun sambil membawa kardus oleh-oleh.

“Prof Haedar, pimpinan tertinggi Muhammadiyah, menunggu kereta. Sambil bawa kardus oleh-oleh,” tulis Mardani Ali Sera sebagaimana dikutip Media Pos Liputan, Sabtu (15/6/2024).

Baca Juga:  Jelang Pilpres 2024: PP Muhammadiyah-PBNU Serukan Kepemimpinan Moral

Mardani juga memberikan apresiasi atas gaya hidup sederhana yang tetap dijaga Haedar Nashir.

“Aset Muhammadiyah ratusan triliun. Tapi etika dan kebersihan diri dipegang teguh. Sederhana itu kekuatan. Makasih Prof atas teladannya. Bangga jadi bagian organisasi besar ini,” kata Mardani.

Warisan Kesederhanaan Pemimpin Muhammadiyah

Kesederhanaan pemimpin Muhammadiyah sesungguhnya bukanlah sesuatu yang baru. Nilai tersebut telah mengakar sejak masa KH AR Fachruddin yang memimpin Muhammadiyah selama 22 tahun.

Pak AR dikenal sebagai sosok yang sangat dekat dengan rakyat kecil. Salah satu kisah yang terus dikenang terjadi pada bulan Ramadan ketika seorang aktivis muda berkunjung ke rumahnya menjelang berbuka puasa. Sang tamu terkejut karena rumah Pak AR jauh dari kesan mewah.

Saat waktu berbuka tiba, hidangan yang tersedia hanya segelas teh manis dan sepotong singkong rebus. Ketika ditanya mengapa memilih menu yang sangat sederhana, Pak AR menjawab:

“Saya ingin merasakan apa yang dirasakan oleh saudara-saudara kita yang kurang mampu. Jika kita terbiasa berbuka dengan makanan lezat, kita bisa lupa bahwa banyak orang yang hanya punya ini untuk berbuka. Puasa bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga belajar memahami penderitaan orang lain.”

Jejak yang sama terlihat pada Ahmad Syafii Maarif atau Buya Syafii. Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu dikenal sangat membenci budaya feodal. Meski pernah menjadi anggota Dewan Pengarah Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila, Buya Syafii lebih memilih menggunakan transportasi umum dibanding fasilitas yang lebih nyaman.

Baca Juga:  Abdul Mu’ti, Tokoh Muhammadiyah Inklusif, Jubir Islam Moderat di Dunia Internasional

Foto dirinya yang menunggu KRL dan duduk bersama penumpang lain pernah viral di media sosial. Direktur Maarif Institute, Muhammad Abdullah Darraz, bahkan mengisahkan bahwa Buya Syafii pernah menolak dijemput dengan mobil lembaga dan memilih berangkat menggunakan angkutan umum menuju Istana Bogor.

Tak hanya itu, Buya Syafii juga dikenal gemar bersepeda sambil membawa kantong plastik berisi buku dan tak sungkan menikmati gorengan di angkringan bersama masyarakat biasa. Bagi orang-orang terdekatnya, kesederhanaan bukanlah pencitraan, melainkan cara hidup yang dijalani sehari-hari.

Karena itu, ketika publik hari ini mengagumi kesederhanaan Haedar Nashir, banyak warga Muhammadiyah memandangnya sebagai mata rantai panjang keteladanan yang diwariskan para pendahulu.

Dari singkong rebus Pak AR, perjalanan KRL Buya Syafii Maarif, hingga koper sederhana Haedar Nashir, para pemimpin Muhammadiyah seolah ingin mengajarkan bahwa besarnya sebuah organisasi tidak selalu tercermin dari kemewahan para pemimpinnya.

Sebaliknya, keteladanan, integritas, dan kesediaan untuk tetap hidup sederhana di tengah amanah yang besar merupakan warisan yang jauh lebih bernilai daripada sekadar kemegahan yang tampak di permukaan. (NS)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru