Di balik hiruk-pikuk aktivitas pembelajaran di ruang kelas. Seringkali terdapat siswa yang pasif, enggan bertanya, atau terlihat kurang bersemangat dalam pembelajaran. Seringkali mereka kemudian diberi label sebagai “pemalas” bahkan di cap sebagai siswa yang tidak memiliki motivasi belajar.
Padahal, persoalan tersebut tidak selalu bersumber dari diri siswa. Dalam banyak kasus, cara pembelajaran yang diterapkan justru turut membentuk sikap pasif bagi mereka. Banyak proses belajar yang berlangsung secara satu arah. Guru berbicara, siswa mendengarkan. Guru menjelaskan, siswa mencatat.
Dalam pola seperti ini, siswa lebih sering menjadi penerima informasi daripada pelaku aktif dalam pembelajaran. Akibatnya, kelas kehilangan ruang dialog yang memungkinkan mereka bertanya, mengemukakan pendapat, dan menghubungkan materi pelajaran dengan pengalaman hidup mereka sendiri.
Tantangan Pembelajaran di Era Kecerdasan Buatan
Kondisi ini semakin terasa di era digital. Generasi muda saat ini tumbuh bersama teknologi yang menawarkan interaksi cepat, visual yang menarik. Dan kesempatan untuk mengakses segala sesuatu secara cepat. Tak jarang mereka mengalami yang dinamakan dengan adiksi internet yaitu sikap ketergantungan terhadap internet.
Di zaman sekarang para siswa khususnya generasi Gen Z dihadapkan dengan banyak sekali kemajuan teknologi seperti kecerdasan buatan atau yang lebih akrab dikenal dengan Artificial Intelligence (AI) sehingga semua aktivitas pembelajaran dapat dijangkau dan dibantu dengan AI tak jarang siswa zaman sekarang terjebak dengan adiksi internet, seakan-akan tugas tidak bisa dikerjakan tanpa menggunakan AI.
Fenomena tersebut bahkan dapat ditemukan secara langsung di ruang kelas. Saya pernah menyaksikan seorang mahasiswa membuat pertanyaan presentasi menggunakan AI. Kemudian pertanyaan tersebut dijawab oleh mahasiswa lain dengan bantuan AI pula.
Pengalaman itu memunculkan sebuah refleksi: apakah proses pembelajaran masih benar-benar melatih kemampuan berpikir mahasiswa. Atau justru telah bergeser menjadi interaksi antar sistem kecerdasan buatan? Pertanyaan ini bukan untuk menolak kehadiran AI. Melainkan sebagai pengingat bahwa teknologi seharusnya menjadi alat pendukung pembelajaran, bukan pengganti proses berpikir manusia.
Kritik Paulo Freire
Fenomena tersebut sejalan dengan kritik Paulo Freire terhadap model banking education atau pendidikan gaya bank. Menurut Freire, pendidikan yang hanya menempatkan siswa sebagai penerima informasi akan melahirkan peserta didik yang terbiasa menerima jawaban tanpa mempertanyakan maknanya.
Dalam konteks era digital, pola tersebut tidak hanya terjadi melalui metode ceramah di kelas. Tetapi juga dapat muncul ketika siswa menerima begitu saja jawaban yang diberikan oleh AI tanpa proses analisis dan refleksi.
Oleh karena itu, tantangan pendidikan saat ini bukanlah menolak teknologi, melainkan menciptakan pembelajaran yang tetap mendorong siswa berpikir kritis dan berdialog. Sehingga AI berfungsi sebagai pendukung pembelajaran, bukan pengganti kemampuan berpikir manusia.
Mengubah Kelas dari Monolog Menjadi Dialog
Sebagai alternatif, Paulo Freire menawarkan pendekatan dialogis yang menempatkan guru dan siswa sebagai sama-sama subjek dalam proses belajar. Guru tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membangun pembelajaran melalui dialog. Sementara siswa didorong untuk bertanya, berpikir, dan merefleksikan pengalaman mereka sendiri.
Pendekatan dialogis bukan berarti menghilangkan peran guru. Sebaliknya, guru berperan sebagai fasilitator yang menciptakan ruang bagi diskusi, pertanyaan, dan refleksi kritis. Melalui proses tersebut, siswa tidak sekedar menghafal materi, tetapi belajar berpikir kritis, menyampaikan pendapat secara logis, serta menghargai perbedaan pandangan.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan, pendekatan ini menjadi semakin relevan. Tantangan pendidikan saat ini bukan hanya menyampaikan informasi. Melainkan membentuk peserta didik yang mampu menggunakan teknologi secara bijak tanpa kehilangan kemampuan berpikir kritis. Sebagaimana ditegaskan Freire, pendidikan sejati bukanlah mengisi pikiran siswa dengan informasi. Melainkan membangkitkan kesadaran mereka untuk memahami dan mengubah realitas secara kritis.
(Editor: Anas)


