IBTimes.ID – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) memperingatkan bahwa kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza telah mencapai titik yang sangat mengkhawatirkan.
Dalam pembaruan situasi dikutip oleh Antara pada Senin (3/8), OCHA menyebut sekitar 10 persen penduduk Gaza kini berada di ambang kelaparan, sebuah kondisi yang menandakan semakin dekatnya wilayah tersebut menuju krisis pangan yang lebih parah.
Menurut OCHA, ratusan ribu warga Gaza menghadapi ancaman kelaparan akibat blokade yang berkepanjangan, terganggunya distribusi bantuan kemanusiaan, serta terbatasnya akses terhadap kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, obat-obatan, dan bahan bakar.
Kondisi tersebut semakin memperburuk kehidupan sekitar dua juta lebih penduduk yang telah berbulan-bulan hidup di tengah konflik bersenjata.
Laporan PBB menunjukkan sekitar 67 persen penduduk Jalur Gaza kini mengalami kerawanan pangan akut. Sebagian besar keluarga harus berjuang setiap hari hanya untuk memperoleh makanan pokok, bahkan banyak di antaranya kesulitan memenuhi kebutuhan satu kali makan dalam sehari.
Situasi ini menjadi salah satu indikator memburuknya kondisi kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya di wilayah tersebut.
OCHA menjelaskan bahwa sekitar 10 persen penduduk telah memasuki fase ambang kelaparan, yaitu kondisi yang berada tepat sebelum suatu wilayah secara resmi diklasifikasikan mengalami kelaparan berdasarkan Integrated Food Security Phase Classification (IPC).
Tahapan tersebut menggambarkan tingkat kerawanan pangan yang sangat serius dan membutuhkan respons kemanusiaan segera agar tidak berkembang menjadi bencana yang lebih besar.
Memburuknya situasi tersebut dipicu oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari tersendatnya arus bantuan kemanusiaan, rusaknya rantai pasokan pangan lokal, terbatasnya aktivitas perdagangan, hingga krisis likuiditas yang menghambat pelaksanaan operasi bantuan internasional.
Berbagai fasilitas umum, termasuk pasar, pusat distribusi pangan, dan layanan kesehatan, juga mengalami gangguan akibat konflik yang terus berlangsung.
Selain kekurangan makanan, lembaga-lembaga kemanusiaan PBB juga menyoroti meningkatnya risiko malnutrisi, terutama pada anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, serta kelompok lanjut usia.
Keterbatasan pasokan makanan bergizi dan layanan kesehatan dikhawatirkan akan memperburuk angka kekurangan gizi akut apabila akses bantuan tidak segera diperluas.
OCHA menegaskan bahwa beberapa jam dan hari ke depan akan menjadi periode yang sangat menentukan untuk mencegah memburuknya krisis menjadi bencana kemanusiaan berskala besar.
Badan PBB tersebut menyerukan agar seluruh jalur perlintasan perbatasan segera dibuka kembali sehingga bantuan kemanusiaan dapat masuk secara aman, cepat, dan berkelanjutan.
Selain itu, OCHA mendesak pembentukan koridor kemanusiaan yang aman guna memastikan distribusi makanan, obat-obatan, bahan bakar, dan kebutuhan medis penting dapat menjangkau seluruh wilayah Gaza tanpa hambatan.
Menurut PBB, peningkatan volume bantuan dan akses kemanusiaan yang berkelanjutan merupakan langkah paling mendesak untuk menekan risiko kelaparan yang semakin meluas serta mencegah jatuhnya lebih banyak korban akibat krisis pangan dan kesehatan.
(MS)


