back to top
Rabu, Agustus 5, 2026

Mengubah Mitos Menjadi Momentum Iman

Lihat Lainnya

Badrut Tamam
Badrut Tamam
Penulis lepas, Blogger dan Content Publisher #tamamtalk #mataairlerengsemeru #menitigelombangrindudipulaumukaseribu

Pada bulan Hijriyah ini yaitu bulan Safar, menjadikan diri kita untuk lebih sadar bahwa waktu itu begitu cepat. Baru kemarin rasanya kita merayakan tahun baru Hijriyah. Pada bulan Safar ini ada beberapa kejadian di kalangan umat Islam terdahulu. Yaitu ketika nabi Muhammad SAW dan umatnya sudah hijrah ke Madinah, beliau memerintahkan 70 orang untuk berdakwah di beberapa kabilah yang ada di Madinah salah satunya di bagian Bi’ru Ma’unah, tetapi di sana mereka semua di bantai oleh kaum Yahudi. Lalu nabi juga pada akhir bulan Safar sudah mulai merasakan sakit dan sampai bulan Rabi’ul Awwal beliau meninggal dunia.

Bulan Safar Bulan Sial

Banyak orang yang beranggapan bahwa bulan Safar itu bulan sial. Bulan yang penuh dengan musibah. Bulan yang penuh dengan kerugian. Sehingga kalau di jawa pada bulan Safar ada namanya Rebo Wekasan. Apa itu? Rebo Wekasan adalah hari rabu terakhir di bulan Safar. Kalau di tahun 1448 H berarti itu ada pada tanggal 12 Agustus 2026. Orang yang beranggapan seperti itu, maka ketika masuk bulan Safar, tidak ada yang mau mengadakan hajatan atau pernikahan, tidak ada yang mau membangun rumah, tidak ada yang mau melakukan perjalanan, bahkan diadakan semacam tradisi, seperti mandi Safar atau tolak bala, wiridan dan lainnya.

Dari anggapan ini, membuat kita menjadi mikir. Ini apakah betul atau tidak? Dari peristiwa umat Islam dulu apakah ini berhubungan juga atau tidak? Jawabannya adalah tidak. Namanya musibah dan ujian tidak hanya terjadi di bulan Safar, kalau Allah SWT menghendaki kita mendapatkan ujian, maka kita tidak bisa menghindarinya, walaupun sudah mandi safar atau talak bala. Nabi Muhammad SAW pun menegaskan kepada umatnya:

Baca Juga:  Masuk Surga dan Neraka karena Seekor Lalat

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَارَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ

Artinya:

“Tidak ada penularan penyakit yang berdiri sendiri, tidak ada kesialan karena pertanda burung, dan tidak ada kesialan di bulan Safar” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kita juga mengetahui bahwa bulan Safar adalah bulannya Allah yang sudah di tetapkan. Maka tidak ada namanya bulan sial. Kalau pun ada yang beranggapan sial karena nama bulannya, maka orang itu masih belum beriman kepada Allah. Ingat, beriman kepada Allah tidak hanya sebatas lisan saja tapi juga diiiringi dengan tindakan.

Orang yang beriman adalah orang yang memahami rukun iman. Salah satunya adalah Qada dan Qadar. Beriman kepada Qada dan Qadar, kita memahami bahwa semua kejadian itu sudah ditetapkan oleh Allah. dan takdir itu ada dua yaitu bisa dirubah dan tidak bisa dirubah. Takdir yang tidak bisa dirubah seperti kita dilahirkan sebagai anak laki-laki. Jangan sampai kita merubahnya. Dan juga jangan sampai terbalik pemahaman. Takdir yang bisa dirubah dipahami takdir yang ditetapkan. Seperti bodoh. Bodoh itu bukan takdir yang ditetapkan tapi bisa dirubah dengan giat belajar.

Tuntunan Islam, ketika kita mendengar ada bulan sial, maka sebagai umat Islam tidak perlu melakukan ritual seperti mandi safar atau tolak bala. Cukup kita tawakal saja kepada Allah. urusan kita hanya berdoa dan ikhtiar, hasilnya kita serahkan kepada Allah. dan tidak perlu merasa takut ketika ingin mengadakan hajatan, tidak ada dalil yang menguatkan kalau kita tidak boleh mengadakan acara.

Baca Juga:  Menjaga Iman di Tengah Pandemi Covid-19

Maka kita kuatkan kembali akidah yang kita pegang ini, jangan sampai ketika mendengar satu mitos, langsung dipercayai. Akidah itu tidak hanya kita berpegang teguh, tapi kita juga memahami tuntunan yang ada pada agama Islam. Dengan akidah kita yang kuat, maka ketika mendengar mitos tidak langsung percaya ataupun takut.

Orang percaya mitos, maka dia akan melakukan ritual. Dan ritual itu tidak ada dalam tuntunan Islam. Sehingga orang yang melakukan tersebut, bisa masuk dalam kategori syirik. Syirik itu menduakan atau menyekutukan Allah SWT. dan syirik terbagi menjadi dua, yaitu syirik shagir dan Kabir. Yang paling fatal yaitu syirik akbar, ketika orang lebih percaya kepada dukun, pohon dan ritual yang bisa menolak bala. Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللهَ لَا يَغْفِرُأَنْ يُشْرِكَ بِهِ

Artinya:

“Sesungguhnya Allah itu tidak mengampuni dosa karena mempersekutukan-Nya (Syirik)..” (Q.S. An-Nisa ayat 48).

Allah itu maha kuasa, semua yang ada di dunia ini sudah diatur oleh-Nya. Terkait tentang rezeki, musibah maupun keselamatan. Semua sudah dalam kendali-Nya. Urusan kita adalah hanya bertakwa kepada Allah SWT. Dan dalam Al-Qur’an, tidak akan menimpa kami kecuali apa yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT (QS. At-Taubah ayat 51).

Maka di bulan Safar ini, kita jadikan momentum untuk meningkatkan iman kepada Allah SWT. Setidaknya ada 5 amalan yang bisa kita lakukan di bulan Safar. Pertama, Istighfar. Ini meneladani nabi kita yang setiap hari selalu memohon ampun kepada Allah SWT dan hal itu juga membersihkan jiwa dan hati kita. Kedua, tilawah Al-Qur’an. Banyak keutamaannya ketika kita membiasakan untuk membaca Al-Qur’an setiap hari. Ketiga, Shalat Berjamaah. Selain pahala yang kita dapatkan, kita juga sekaligus melakukan amalan keempat yaitu menyambung silaturahmi dengan tetangga dan orang-orang sekitar. Lalu, kelima yaitu sedekah. Tidak perlu khawatir, rezeki kita berkurang, karena orang yang rajin bersedekah Allah akan melimpahkan rezekinya.

Baca Juga:  Kesultanan Deli: Poros Maritim Islam di Pantai Timur Sumatera

Dari mitos yang sudah kita ketahui, mulai dari diri sendiri maka kita kuatkan akidah sehingga bisa meninggalkan takhayul yang sudah beredar di masyarakat sekitar. Dan kalau semua orang sudah seperti itu, maka tercipta baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Kita tinggalkan keyakinan yang tidak mendasar dan beralih dengan memenuhi hari-hari kita dengan menuntut ilu, ibadah dan berakhlak mulia.

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru