back to top
Selasa, September 15, 2026

2.447 Satuan Pendidikan Kembali Belajar, Pemulihan Pendidikan NTT Terus Bergerak

Lihat Lainnya

IBTimes.IDBencana gempa bumi tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga menguji keberlanjutan pendidikan anak-anak di wilayah terdampak. Di tengah situasi tersebut, pemulihan pendidikan NTT mulai menunjukkan arah positif.

Sebanyak 2.447 satuan pendidikan telah kembali menyelenggarakan pembelajaran, meskipun sebagian besar masih menggunakan berbagai moda darurat.

Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) per 14 September 2026 mencatat, dari 2.447 satuan pendidikan tersebut, sebanyak 487 telah kembali belajar secara normal di ruang kelas. Sementara 1.960 satuan pendidikan lainnya masih menjalankan pembelajaran di tenda, ruang terbuka, maupun ruang kelas darurat.

Perkembangan ini menjadi bagian penting dari pemulihan pendidikan NTT, sebab keberlanjutan pembelajaran tidak hanya berkaitan dengan bangunan sekolah, tetapi juga memastikan anak-anak tetap memiliki ruang untuk belajar dan tumbuh setelah bencana.

“Kabar baik tersebut merupakan hasil kerja keras seluruh pihak yang bergotong royong membantu agar layanan pendidikan di NTT dapat bangkit dan pulih seperti sediakala. Kemendikdasmen terus berkomitmen mendukung proses pemulihan layanan pendidikan di NTT agar kegiatan pembelajaran kembali berlangsung secara optimal dan seluruh murid tetap memiliki ruang untuk tumbuh, belajar, serta meraih cita-cita,” Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, Senin (14/9).

Revitalisasi, Ruang Darurat, dan Pemulihan Psikologis

Dalam proses pemulihan pendidikan NTT, pemerintah juga mulai menyalurkan bantuan revitalisasi tahap pertama kepada 187 satuan pendidikan dengan total anggaran Rp50 miliar. Bantuan tersebut mencakup 140 satuan PAUD senilai Rp500 juta, 5 SLB senilai Rp6,45 miliar, 2 PKBM dan 1 SKB dengan total Rp1 miliar, serta 39 SMK dengan nilai Rp42,2 miliar.

Baca Juga:  Persimpangan Pilihan Hidup Perempuan dan Jerat Stigma Sosial

Untuk jenjang SD, SMP, dan SMA, proses verifikasi dan validasi telah dilakukan dan masih dalam tahap penghitungan kebutuhan.

Kemendikdasmen juga menyalurkan bantuan Ruang Kelas Sementara (RKS) sebanyak 672 unit dengan total anggaran Rp3,5 miliar. Bantuan tersebut terdiri atas 194 RKS PAUD, 12 RKS SLB, dan 372 RKS SMK dengan nilai Rp4 juta per RKS, serta 65 RKS SMP dan 29 RKS SMA dengan nilai Rp15 juta per RKS.

Selain pemulihan sarana, aspek psikologis turut menjadi perhatian. Sebanyak 75 sekolah telah mendapatkan pendampingan psikososial. Kemendikdasmen selanjutnya akan melatih 120 fasilitator nasional dan 1.700 fasilitator daerah untuk mendukung sekitar 51 ribu pendidik dan tenaga kependidikan di tujuh kabupaten terdampak.

“Langkah ini dilakukan untuk kembali membangun mental dan semangat para warga sekolah agar proses pembelajaran kembali pada situasi normal,” tutur Saryadi.

Menjaga Hak Pendidikan di Tengah Bencana

Sebagai bagian dari pemulihan pendidikan NTT, Kemendikdasmen juga telah mendistribusikan tenda kelas darurat senilai Rp5,5 miliar ke tujuh kabupaten, yakni Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, Manggarai Barat, Sikka, Ngada, dan Ende.

Bantuan awal senilai Rp6 miliar juga telah disalurkan, berupa 10.000 paket makanan anak, 1.000 paket sembako, 5.500 school kit, 1.500 family kit, serta 10.000 buku bacaan.

Untuk keluarga warga sekolah yang terdampak, santunan Rp330 juta turut diberikan, dengan rincian Rp5 juta bagi peserta didik yang meninggal dunia, Rp10 juta bagi guru yang meninggal dunia, Rp2 juta bagi guru yang mengalami luka, serta Rp1 juta bagi peserta didik yang mengalami luka.

Baca Juga:  Kemendikdasmen Siap Gelar Pelatihan Intensif Bahasa Inggris bagi Guru

“Kami mengajak seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah daerah maupun masyarakat, untuk terus bergotong royong memastikan hak pendidikan anak-anak NTT tetap terpenuhi, sekalipun dalam kondisi darurat,” tutup Saryadi.

Dengan demikian, pemulihan pendidikan NTT bukan sekadar membangun kembali ruang kelas, melainkan menjaga agar masa depan ribuan anak tetap berjalan meski berada di tengah situasi pascabencana.

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru