back to top
Minggu, Agustus 9, 2026

Fenomena Healing: Ketika Ketenangan Menjadi Komoditas

Lihat Lainnya

Hairiza Satia
Hairiza Satia
Alumnus Magister Ekonomi Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Setiap akhir pekan, jalan menuju kawasan wisata selalu dipenuhi kendaraan. Kafe-kafe yang menawarkan panorama alam penuh oleh pengunjung. Di media sosial, linimasa dihiasi foto pegunungan yang diselimuti kabut, pantai yang tenang, hamparan sawah yang menghijau, atau secangkir kopi yang disandingkan dengan kalimat sederhana, “Healing dulu, besok kembali menghadapi realitas.”

Fenomena itu semakin akrab dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Kata healing tidak lagi hanya dikenal dalam ruang-ruang psikologi, tetapi telah menjadi bagian dari bahasa sehari-hari. Sedikit merasa jenuh, ingin healing. Beban pekerjaan menumpuk, ingin healing. Hubungan pribadi sedang bermasalah, jawabannya juga healing. Seolah-olah semua kelelahan dapat diselesaikan dengan bepergian.

Tidak ada yang keliru dengan keinginan untuk beristirahat. Yang menarik justru adalah perubahan makna di balik kata tersebut. Healing perlahan tidak lagi dipahami sebagai proses memulihkan diri, melainkan sebagai simbol gaya hidup yang harus terlihat. Ia berubah dari kebutuhan psikologis menjadi identitas sosial.

Perubahan ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Media sosial memainkan peran besar dalam membentuk cara masyarakat memandang kebahagiaan. Algoritma digital bekerja dengan logika yang sederhana: apa yang indah akan lebih sering dilihat, apa yang menarik akan lebih sering dibagikan. Akibatnya, ruang digital dipenuhi potongan-potongan kehidupan yang tampak sempurna. Liburan menjadi konten, ketenangan menjadi estetika, dan kebahagiaan perlahan diukur dari jumlah tanda suka serta komentar.

Dalam situasi seperti itu, manusia modern menghadapi paradoks yang menarik. Teknologi memang mempermudah banyak hal, tetapi pada saat yang sama juga menghadirkan tekanan baru. Kita dapat mengetahui kehidupan orang lain hanya dalam hitungan detik. Kita melihat mereka sedang menikmati matahari terbit di gunung, makan malam di restoran mewah, atau berjalan santai di tepi pantai. Tanpa disadari, muncul dorongan untuk melakukan hal yang sama. Bukan karena benar-benar membutuhkannya, tetapi karena takut merasa tertinggal.

Baca Juga:  Ketika Alam Menjadi Tempat Pulang bagi Manusia

Fenomena ini dikenal sebagai fear of missing out (FOMO), yaitu kecemasan ketika merasa orang lain menikmati pengalaman yang tidak kita miliki. Dalam konteks healing, FOMO menjadikan liburan bukan lagi pilihan, melainkan semacam kewajiban sosial. Jika tidak bepergian ketika akhir pekan tiba, muncul perasaan bahwa hidup sedang berjalan di tempat.

Di sinilah ironi itu bermula.

Kita pergi untuk mencari ketenangan, tetapi sebelum berangkat justru sibuk membandingkan destinasi. Kita menikmati alam, tetapi lebih sering melihat layar telepon daripada hamparan pemandangan di depan mata. Kita duduk bersama teman-teman, tetapi perhatian lebih banyak tertuju pada bagaimana hasil foto akan terlihat setelah diunggah. Bahkan tidak sedikit orang yang lebih lelah mengatur sudut pengambilan gambar dibanding menikmati suasana yang sebenarnya.

Ketenangan yang seharusnya menjadi pengalaman batin berubah menjadi komoditas visual. Nilainya tidak lagi diukur dari rasa damai yang diperoleh, tetapi dari respons yang muncul di media sosial.

Padahal, kesehatan mental tidak pernah bekerja mengikuti algoritma.

Seseorang tidak otomatis menjadi lebih tenang hanya karena berada di tempat yang indah. Sebaliknya, seseorang juga tidak selalu tertekan hanya karena menghabiskan akhir pekan di rumah. Kualitas pemulihan diri lebih ditentukan oleh kemampuan seseorang mengelola emosi, mengurangi tekanan, dan memberi ruang bagi dirinya untuk beristirahat tanpa merasa bersalah.

Persoalan yang lebih mendasar justru terletak pada kehidupan modern yang semakin kehilangan jeda. Produktivitas dipuja sebagai ukuran keberhasilan. Kesibukan dianggap sebagai simbol kesuksesan. Tidak sedikit orang merasa bersalah ketika beristirahat karena khawatir dianggap tidak produktif. Akibatnya, tubuh terus dipaksa bekerja sementara pikiran kehilangan kesempatan untuk memulihkan diri.

Baca Juga:  Tips dan Trik Mudah Mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA)

Dalam kondisi seperti ini, healing menjadi semacam “obat instan”. Liburan singkat diharapkan mampu menghapus tekanan yang sebenarnya bersumber dari persoalan yang jauh lebih kompleks: budaya kerja yang melelahkan, ketidakpastian ekonomi, tekanan sosial, serta kehidupan digital yang tidak pernah benar-benar berhenti.

Oleh karena itu, pertanyaan yang perlu diajukan bukanlah “ke mana kita akan healing?”, melainkan “mengapa kita begitu mudah merasa lelah?”

Pertanyaan tersebut penting karena tidak semua kelelahan dapat diselesaikan melalui perjalanan wisata. Jika sumber kelelahan berasal dari jam kerja yang berlebihan, lingkungan kerja yang tidak sehat, hubungan sosial yang toksik, atau kecemasan ekonomi, maka liburan hanya menjadi jeda sementara. Setelah kembali, persoalan yang sama tetap menunggu.

Di sisi lain, kita juga perlu mengakui bahwa healing tidak selalu membutuhkan biaya besar. Indonesia dianugerahi bentang alam yang luar biasa dan budaya yang kaya. Di banyak daerah, ketenangan dapat ditemukan melalui cara-cara sederhana: menikmati udara pagi di pedesaan, menyusuri jalan setapak di kebun kopi, berbincang dengan keluarga, membaca buku, memancing, berkebun, atau sekadar mematikan telepon genggam selama beberapa jam. Aktivitas seperti ini mungkin tidak menarik perhatian algoritma media sosial, tetapi sering kali lebih efektif memulihkan pikiran.

Bagi masyarakat yang religius seperti Indonesia, dimensi spiritual juga tidak dapat diabaikan. Banyak orang menemukan kedamaian melalui doa, zikir, membaca kitab suci, atau memperbanyak refleksi diri. Bentuk pemulihan semacam ini tidak membutuhkan tiket pesawat ataupun penginapan mewah, tetapi menghadirkan sesuatu yang jauh lebih penting: rasa cukup. Ketika seseorang merasa cukup dengan dirinya sendiri, kebutuhan untuk terus membandingkan hidup dengan orang lain perlahan berkurang.

Baca Juga:  Restorasi Pendidikan Swedia: Dari Buku Digital Kembali ke Buku Cetak

Karena itu, healing seharusnya dipahami sebagai proses membangun kembali hubungan dengan diri sendiri, bukan sekadar berpindah tempat. Tujuannya bukan melarikan diri dari kenyataan, melainkan memperoleh energi baru untuk kembali menghadapi kenyataan dengan lebih sehat dan lebih bijaksana.

Masyarakat tentu tidak perlu berhenti berwisata. Pariwisata tetap penting bagi perekonomian dan memberikan manfaat sosial maupun psikologis. Yang perlu dijaga adalah cara kita memaknai perjalanan tersebut. Liburan hendaknya menjadi ruang untuk menikmati hidup, bukan panggung untuk mempertontonkan kehidupan.

Pada akhirnya, ketenangan bukanlah sesuatu yang bisa dibeli, apalagi dipamerkan. Ia tumbuh ketika seseorang mampu menerima dirinya, mengelola ekspektasi, dan memahami bahwa hidup tidak harus selalu terlihat sempurna di mata orang lain.

Barangkali, di tengah dunia yang semakin riuh oleh notifikasi, tren, dan perlombaan citra, bentuk healing yang paling kita butuhkan justru bukan perjalanan ke tempat yang jauh. Melainkan keberanian untuk berhenti sejenak, meletakkan telepon genggam, menghirup napas lebih dalam, lalu bertanya kepada diri sendiri: kapan terakhir kali aku benar-benar merasa tenang?

Sebab, ketenangan yang sejati tidak pernah lahir dari seberapa indah tempat yang kita datangi, melainkan dari kemampuan kita menemukan rumah di dalam diri sendiri.

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru