back to top
Kamis, Agustus 13, 2026

Hindu Kaharingan, Islam, dan Pengalaman di Kampus Muhammadiyah

Lihat Lainnya

Di jantung Kalimantan Tengah. Di tengah hamparan hutan hujan tropis yang masih menyimpan keasrian alam. Berdiri sebuah kepercayaan yang menjadi akar spiritual masyarakat Dayak sejak berabad silam, yaitu Hindu Kaharingan.

Bukan sekadar sistem kepercayaan. Melainkan cara pandang, gaya hidup, dan ikatan yang mengikat manusia dengan alam, leluhur, serta Sang Pencipta.

Seiring berjalannya waktu, perjalanan Hindu Kaharingan tak lepas dari dinamika pertemuan dengan agama lain. Terutama Islam, yang melahirkan persinggungan. Saling mempengaruhi, sekaligus ketegangan yang membentuk wajah keberagaman di tanah Kalimantan Tengah sekarang.

Apa Itu Hindu Kaharingan?

Hindu Kaharingan adalah sistem kepercayaan asli masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah. Kepercayaan ini telah diakui secara resmi sebagai aliran kepercayaan dan bagian dari agama Hindu di Indonesia sejak Keputusan Presiden RI tahun 1980.

Kata Kaharingan sendiri bermakna kehidupan atau jalan hidup yang benar yang mengajarkan keseimbangan antara tiga alam. Yaitu alam atas tempat tinggal para dewa, alam tengah tempat tinggal manusia, dan alam bawah tempat tinggal tinggal para roh leluhur.

Inti ajarannya adalah menjaga keseimbangan dan keharmonisan hubungan antar manusia, alam semesta. Dan Tuhan Yang Maha Esa yang sering disebut sebagai Ranying Hatalla Jala.

Berbeda dengan Hindu di India atau Bali. Hindu Kaharingan memiliki ciri khas yang menyatu dengan kearifan lokal Suku Dayak. Ritual-ritual seperti Tiwah, upacara pemindahan tulang yang sudah meninggal ke dalam bangunan suci yang bernama Sandung bukan sekedar upacara pemakaman.

Melainkan wujud bukti kepada leluhur. Penghormatan terhadap siklus kehidupan, dan harapan agar arwah mendiang menyatu dengan alam semesta membawa berkah bagi keluarga yang ditinggalkan.

Pusat penyebaran dan pelestarian Hindu Kaharingan banyak terdapat di wilayah Kalimantan Tengah. Terutama Kabupaten Kapuas, Barito Selatan, Barito Timur, hingga Katingan.

Di sinilah warisan leluhur masih dijaga dengan keteguhan hati, meski terus berhadapan dengan arus perubahan zaman dan masuknya ajaran agama-agama besar dari luar.

Masuknya Islam dan Awal Persinggungan

Sejak berabad lalu, Kalimantan menjadi jalur perdagangan maritim yang menghubungkan Nusantara dengan dunia luar. Termasuk wilayah Melayu dan pesisir Sumatera serta Kalimantan Barat.

Melalui jalur perdagangan inilah pengaruh Hindu-Buddha yang lebih dulu masuk. Islam mulai menyebar di wilayah pesisir dan aliran sungai besar Kalimantan. Termasuk wilayah yang kini masuk Kalimantan Tengah. Masuknya Islam pada mulanya berjalan damai, didorong oleh interaksi dagang, pernikahan, dan pendekatan budaya yang menghargai kearifan lokal.

Pada masa Kesultanan Banjar, pengaruh Islam mulai terasa menyusup ke wilayah-wilayah aliran sungai Barito dan Kapuas. Banyak pemuka adat dan masyarakat yang kemudian memeluk Islam. Namun, sebagai besar masyarakat pendalaman tetap memegang teguh ajaran leluhur mereka Kaharingan.

Baca Juga:  "Murur” di Muzdhalifah: Mendialogkan Teks dan Konteks

Inilah awal mula terjadinya persinggungan bukan sekedar pertemuan dua sistem kepercayaan, melainkan pertemuan dua cara pandang, dua tradisi, yang kemudian hidup berdampingan dan satu wilayah.

Pada fase awal, persinggungan ini lebih banyak berupa saling pengakuan dan pengaruh budaya banyak istilah, ungkapan. Maupun tata cara kehidupan yang saling menyatu.

Misalnya, dalam sebutan Tuhan atau konsep-konsep spiritual, sering kali terjadi penyerapan makna yang saling melengkapi. Masyarakat yang memeluk Islam pun masih banyak menghormati nilai-nilai adat yang berakar dari kaharingan. Karena adat dan agama pada masa itu belum dipisahkan secara tegas.

Kehidupan sosial berjalan harmonis, di mana perbedaan kepercayaan tidak menjadi penghalang kerja sama dalam pertanian, perdagangan. Maupun penyeleaian sengketa antar-desa.

Dinamika dan Ketegangan yang Pernah Terjadi

Namun, seiring berjalannya waktu. Terutama saat masuknya pemahaman agama yang lebih ketat dan perubahan struktur sosial politik. Persinggungan itu tidak selamanya berjalan mulus.

Muncul pandangan yang memisahkan secara tegas antara “agama yang diwahyukan” dengan “kepercayaan leluhur”. Sehingga Kaharingan yang sarat dengan pemujaan roh leluhur dan ritual alam seringkali dipandang sebagai sesuatu yang bertentangan dengan ajaran agama Islam yang murni.

Ketegangan ini memuncak pada beberapa periode. Dimana praktik-praktik ritual seperti Tiwah atau penghormatan terhadap pohon besar dan sumber air, yang menjadi inti ajaran Kaharingan. Semua itu dipandang kurang sesuai atau bahkan dilarang untuk beberapa wilayah yang mayoritas beragama Islam.

Ketegangan ini diperparah oleh masalah pengakuan hukum dan status kepercayaan. Dalam ajaran panjangnya, penganut Kaharingan sempat mengalami masa-masa sulit ketika kepercayaan mereka belum diakui secara resmi oleh negara.

Hal ini menimbulkan kesulitan dalam administrasi kependudukan. Kesempatan pendidikan hingga pelaksanaan ibadah dan pembangunan tempat ibadah mereka. Di sisi lain, sebagian kalangan umat Islam sendiri memiliki perbedaan pandangan.

Ada yang tetap menjaga kerukunan dan memandang perbedaan sebagai kekayaan budaya yang patut dihormati. Namun, ada pula yang menolak segala bentuk praktik yang dianggap bertentangan dengan syariat Islam.

Selain itu, isu sosial dan polotik seringkali mewarnai hubungan dua kelompok. Perbedaan latar belakang kepercayaan kadang menjadi pembeda dalam akses peluang, pembagian kekuasaan di pemerintah daerah. Hingga pembangunan infrasktuktur.

Ketimpangan pembangunan antara wilayah pesisir yang mayoritas Islam dan wilayah pedalaman yang mayoritas penganut Kaharingan juga ikut memperluas jarak sosialnya. Sehingga persinggungan yang seharusnya saling memperkaya justru berubah menjadi saling curiga pada beberapa kesempatan.

Jalan Tengah dan Kerukunan yang Tetap Terpelihara

Namun, perlu dipahami bahwa ketegangan yang terjadi hanyalah sebagai kisah. Secara keseluruhan, masyarakat Kalimantan Tengah masih memiliki ikatan persaudaraan yang kuat.

Baca Juga:  Amin Abdullah: Kebhinekaan, Warisan Pemikiran Buya Syafii Paling Fenomenal

Banyak keluarga yang memiliki latar belakang ganda sebagian anggota keluarga memeluk Islam. Sebagian lainnya memeluk Hindu Kaharingan tetap hidup rukun dalam satu rumah. Tradisi gotong royong, saling mengunjungi saat hari raya, dan bekerja sama dalam kegiatan kemasyarakatan masih umum dijumpai pada banyak desa.

Pengakuan resmi Kaharingan sebagai bagian dari agama Hindu juga menjadi titik balik yang penting. Dengan adaya pengakuan tersebut, penganut kaharingan merasa lebih dihargai dan memiliki kedudukan yang setara dimata hukum.

Hal ini mengurangi kesenjangan sosial dan membuka ruang dialog yang lebih sehat antar umat beragama. Kini, tokoh agama Islam dan Hindu Kaharingan sering duduk bersama dalam forum kerukunan umat beragama.

Duduk bersama membahas dan menjaga kedamaian, melindungi hutan dan lingkungan hidup, serta menyelesaikan perselisihan dengan cara yang bermusyawarah.

Bahkan, dari pertemuan dan persinggungan itu lahirlah kearifan baru pemahaman bahwa Islam dan Hindu Kaharingan, meskipun jalannya berbeda. Namun, tujuannya sama menciptakan manusia yang berbudi luhur, menjaga keadilan, dan melestarikan alam demi kebaikan bersama.

Nilai-nilai seperti kejujuran, menghormati orang tua, menjaga kelestarian hutan dan sungai. Ternyata dijunjung tinggi oleh kedua belah pihak. Inilah yang menjadi jembatan persaudaraan yang tidak mudah diputus oleh perbedaan.

Perjalanan Hindu Kaharingan di Kalimantan Tengah. Dari masa ke masa adalah kisah tentang keteguhan menjaga warisan leluhur di tengah arus perubahan dan pertemuan dengan agama lain, terutama Islam.

Persinggungan yang terjadi tidak selalu mulus. Namun, tak sepenuhnya pula penuh pertikaian. Ada masa saling memengaruhi dan memperkaya budaya. Ada masa perbedaan pandangan yang memicu ketegangan. Namun pada akhirnya, keinginan untuk hidup berdampingan dengan damai tetap menjadi kekuatan utama yang menyatukan mereka.

Kini, Hindu Kaharingan tetap berdiri tegak sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas dan kekayaan budaya bangsa. Di sampingnya, Islam juga tumbuh dan berkah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kalimantan Tengah.

Keduanya berjalan beriringan, saling menghormati perbedaan, dan bersama membangun tanah tercinta ini. Di atas tanah yang sama. Di bawah langit yang sama.

Umat beragama dan penganut kepercayaan leluhur terus menjaga api persaudaraan agar tak pernah padam. Layaknya seperti Sungai Barito yang mengalir terus, membawa kehidupan dan harapan bagi generasi mendatang.

Menjadi Mahasiswa Hindu Kaharingan di ITB Ahmad Dahlan Jakarta

Saya merupakan salah satu Mahasiswa dari Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Ahmad Dahlan Jakarta. Saya mengambil Program Studi S1 Manajemen dan saya beragama Hindu Kaharingan.

Baca Juga:  Neo-Visibilitas Hilal Mabims dan Tantangan Kalender Hijriah Global

Pengalaman hidup sebagai pemeluk Hindu Kaharingan menjadi semakin berwarna ketika saya melanjutkan studi di ITB Ahmad Dahlan Jakarta.

Di Kampus Muhammadiyah ini, saya berkesempatan mengikuti Mata Kuliah Praktikum Al-Qur’an dengan Dosen Pengampu Yulianti Muthmainnah sebuah pengalaman yang pada awalnya terasa asing dan penuh keraguan. Namun, justru menjadi jendela pemahaman yang luar biasa luas.

Sebagai mahasiswa yang lahir dan besar dalam tradisi Kaharingan. Saya sebelumnya hanya mengetahui Al-Qur’an secara umum sebagai kitab suci umat Islam. Tanpa pernah benar-benar mempelajarinya secara mendalam.

Ketika mengikuti pembelajaran, mendengarkan penjelasan ayat-ayat Al-Qur’an. Hingga belajar emahami maknanya, serta mendengar rekan-rekan mahasiswa lain membacanya.

Saya semakin memahami inti ajaran yang terkandung di dalamnya. Keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kasih sayang, keadilan, kejujuran, serta menjaga kebaikan sesama manusia dan alam semesta.

Nilai-nilai itu ternyata tidak jauh berbeda dari nilai-nilai luhur yang diajarkan dalam Kaharingan. Yakni menjaga kesucian diri, menghormati kehidupan, dan bersyukur kepada Sang Pencipta.

Selama mengikuti perkuliahan, saya juga menyadari dengan jelas perbedaan mendasar antara keyakinan yang saya anut dan ajaran dalam Al-Qur’an. Saya memahami bahwa dalam Al-Qur’an ditegaskan dengan tegas tentang keesaan Allah SWT.

Namun, perbedaan itu tidak menjadikan saya merasa terasing. Justru dengan memahami perbedaan itu saya belajar untuk semakin menghargai jalan keyakinan masing-masing.

Saya tetap memegang teguh ajaran Hindu Kaharingan yang saya yakini. Sekaligus mampu memahami dan menghormati dengan lebih baik apa yang diyakini oleh rekan-rekan umat Islam.

Bagi saya, mempelajari Al-Qur’an dalam mata kuliah tersebut adalah sarana untuk memahami tetangga, memahami sesama bangsa. Bahkan, menemukan titik temu nilai-nilai kemanusiaan yang luhur di atas perbedaan keyakinan.

Perbedaan memang ada. Namun, bukan menjadi alasan untuk saling menjauh. Sebagaimana di Kampus ITB Ahmad Dahlan Jakarta. Saya melihat bahwa ketika kita membuka hati untuk saling memahami, perbedaan itu justru menjadi kekayaan yang memperindah kehidupan.

Saya belajar bahwa kerukunan tidak berarti menyamakan segala sesuatu. Melainkan menghormati perbedaan, menjaga sikap saling menghargai, dan tetap berjalan berdampingan dengan damai.

Pengalaman belajar Praktikum Al-Qur’an di ITB Ahmad Dahlan Jakarta telah membuka wawasan saya. Meskipun jalan yang kita tempuh menuju Sang Pencipta berbeda. Namun, tujuan akhirnya sama.

Menuju kebaikan, kedamaian, dan keselamatan bagi seluruh alam semesta. Pemahaman inilah yang kelak akan saya bawa kembali ke tanah kelahiran. Menjadi jembatan persaudaraan di tengah keberagaman yang ada di Kalimantan Tengah maupun di seluruh Indonesia.

Editor: Najih

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru