“Kalau dia sayang, pasti ngasih bunga setiap bulan.”
“Kalau dia green flag, pasti selalu antar-jemput.”
“Kalau dia benar-benar cinta, pasti dia upload kamu.”
Kalimat-kalimat seperti itu rasanya sudah menjadi bagian dari kehidupan di media sosial. Setiap hari kita disuguhi video, unggahan, atau cerita tentang pasangan yang dianggap romantis, mulai dari hadiah kecil, makan malam mewah, hingga unggahan penuh kasih sayang. Lama-kelamaan, muncul pertanyaan: apakah itu memang gambaran hubungan yang ideal, atau hanya standar yang terbentuk dari apa yang terus kita lihat?
Tanpa disadari, banyak orang mulai menjadikan gambaran tersebut sebagai tolok ukur dalam menjalani hubungan. Padahal, standar itu belum tentu lahir dari kebutuhan, nilai, atau kesepakatan bersama pasangan. Bisa jadi, standar tersebut terbentuk karena kita terus-menerus terpapar pada representasi hubungan yang sama di media sosial.
Akibatnya, hubungan yang sedang dijalani perlahan mulai dibandingkan dengan hubungan orang lain. Ketika pasangan tidak melakukan hal-hal yang sering muncul di media sosial, muncul pertanyaan seperti, “Kenapa ya pasanganku tidak pernah melakukan hal itu? Apa dia tidak sayang sama aku?” Padahal, sebelumnya hal-hal tersebut mungkin tidak pernah dianggap sebagai masalah. Gambaran hubungan romantis di media sosial perlahan berubah menjadi standar baru yang dianggap perlu dipenuhi.
Fenomena ini dapat dijelaskan melalui Social Learning Theory yang dikemukakan oleh Albert Bandura. Menurut Bandura, manusia belajar melalui proses mengamati perilaku orang lain (observational learning). Seseorang tidak harus mengalami sesuatu secara langsung untuk mempelajarinya. Dengan melihat perilaku yang sama berulang kali, seseorang dapat menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar.
Dalam konteks media sosial, hubungan romantis yang terus ditampilkan menjadi sumber pembelajaran mengenai bagaimana sebuah hubungan “seharusnya” dijalani. Semakin sering seseorang melihat pasangan saling memberi hadiah, mengunggah foto bersama, atau membuat kejutan romantis, semakin besar kemungkinan ia menganggap perilaku tersebut sebagai ciri hubungan yang ideal.
Setelah standar itu terbentuk, muncul proses berikutnya: membandingkan. Cara pasangan menunjukkan kasih sayang, memberi perhatian, atau berkomunikasi mulai dinilai menggunakan ukuran yang berasal dari media sosial. Seseorang mungkin berpikir, “Kenapa hubungan orang lain terlihat lebih romantis?” atau “Mengapa pasanganku tidak pernah melakukan hal seperti itu?” Tanpa disadari, kualitas hubungan mulai diukur berdasarkan potongan kehidupan orang lain yang muncul di layar.
Kecenderungan tersebut dijelaskan oleh Social Comparison Theory dari Leon Festinger. Menurut Festinger, manusia memiliki dorongan untuk membandingkan dirinya dengan orang lain sebagai cara mengevaluasi diri. Dalam konteks hubungan romantis, kecenderungan ini membuat seseorang menggunakan hubungan orang lain sebagai acuan untuk menilai apakah hubungannya sudah cukup baik atau belum.
Masalahnya, perbandingan sering kali dilakukan terhadap hubungan yang hanya menampilkan sisi terbaiknya. Ketika seseorang terus-menerus membandingkan hubungannya dengan gambaran yang tampak sempurna di media sosial, ia bisa mulai merasa hubungannya kurang romantis, kurang membahagiakan, atau bahkan kurang layak dipertahankan. Perasaan tersebut dapat memunculkan ekspektasi yang semakin tinggi, rasa iri, ketidakpuasan, hingga konflik yang sebenarnya berawal dari standar yang tidak pernah disepakati bersama pasangan.
Namun, muncul pertanyaan yang lebih mendasar. Jika media sosial terus menampilkan hubungan romantis melalui hadiah, liburan, atau unggahan penuh kasih sayang, apakah itu benar-benar merepresentasikan kenyataan?
Kita jarang melihat pertengkaran, kesalahpahaman, proses saling memahami, atau masa-masa sulit yang juga merupakan bagian dari sebuah hubungan. Media sosial lebih sering menjadi tempat membagikan momen terbaik daripada dinamika yang terjadi di balik layar.
Melalui konsep hiperrealitas, Jean Baudrillard menjelaskan bahwa manusia modern semakin banyak berinteraksi dengan representasi yang tampak nyata. Hal ini membuatnya perlahan sulit membedakan mana kenyataan dan mana konstruksi. Representasi tersebut akhirnya terasa lebih nyata daripada realitas itu sendiri.
Dalam konteks hubungan romantis, apa yang terus kita lihat di media sosial dapat perlahan dianggap sebagai gambaran hubungan yang ideal. Padahal, yang tampil di layar hanyalah potongan momen yang telah dipilih, disunting, dan dipublikasikan. Hubungan yang sesungguhnya jauh lebih kompleks daripada sekadar foto, video, atau unggahan berdurasi beberapa detik.
Di sinilah psikologi dan filsafat saling melengkapi. Psikologi membantu menjelaskan bagaimana seseorang belajar dari lingkungannya dan mengapa ia terdorong membandingkan hubungannya dengan hubungan orang lain. Sementara itu, filsafat mengajak kita mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: dari mana sebenarnya standar hubungan ideal itu berasal?
Apakah standar tersebut benar-benar lahir dari pengalaman dan kebutuhan kita sendiri, atau justru dibentuk oleh representasi hubungan yang terus-menerus kita konsumsi di media sosial? Jika yang kita lihat hanyalah versi terbaik yang dipilih untuk dipublikasikan, mungkinkah selama ini kita sedang mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak pernah benar-benar ada?
Pada akhirnya, mungkin yang perlu dievaluasi bukanlah apakah hubungan kita sudah memenuhi standar media sosial, melainkan apakah hubungan tersebut sesuai dengan kebutuhan, nilai, dan kesepakatan yang dibangun bersama pasangan. Sebab, hubungan yang sehat tidak selalu tampak sempurna di layar. Hubungan yang sehat adalah hubungan yang memberi rasa aman, saling menghargai, mampu berkomunikasi ketika menghadapi masalah. Hubungan yang baik juga akan bisa menyediakan ruang bagi kedua belah pihak untuk terus bertumbuh. Barangkali, hubungan yang paling sehat bukanlah hubungan yang paling sering dipamerkan, melainkan hubungan yang tetap bertahan dan berkembang ketika kamera dimatikan.
editor: Ikrima


