back to top
Sabtu, September 19, 2026

Menengok Geliat Dekolonisasi Studi Islam di United Kingdom

Lihat Lainnya

Waktu mendengar frasa Studi Islam, yang terbayang biasanya universitas-universitas terkemuka di Timur Tengah. Seperti Universitas Al Azhar, Universitas Islam Madinah, atau Universitas Qawiyyin. Ingatan kita terbentuk dari fakta bahwa memang di seputar kawasan itulah Islam pertama lahir dan berkembang.

Jika kita menengok dinamika akademik Studi Islam pada abad ke 21, sebuah fenomena menarik sebetulnya terjadi di belahan dunia lainnya. Inggris yang berada di benua Eropa, diam-diam telah bertransformasi menjadi salah satu pusat pengkajian Islam yang diperhitungkan.

Pusat pengkajian Islam itu berkembang pesat di universitas-universitas legendaris seperti, SOAS University of London, University of Oxford, University of Exeter, hingga The University of Edinburgh di Skotlandia. Kampus-kampus ini bukan sekadar menyediakan ruang kelas, mereka telah menjadi laboratorium besar tempat riset-riset mutakhir seputar peradaban Islam dibuat. Menariknya lagi, universitas-universitas itu tak lagi melihat Islam melalui kacamata orientalisme klasik. Islam dipandang dengan gairah intelektual baru, yang dikenal dengan istilah Dekolonisasi Studi Islam.

Untuk memahami Dekolonisasi Studi Islam, kita perlu menengok sejarah sejenak. Menengok sejarahnya, disiplin ilmu yang difokuskan untuk mempelajari dunia timur di Barat (Oriental Studies), digagas pada abad ke 19 untuk melayani kepentingan kolonial. Negara-negara imperialis barat mempelajari bahasa, budaya, hukum, dan agama masyarakat jajahan, agar mereka lebih mudah dipetakan, ditaklukkan, dan dikendalikan.

Dampaknya masih terasa hingga hari ini. Dalam dunia akademik modern, kerap terjadi apa yang disebut para sosiolog sebagai penjajahan epistemik. Sebuah kondisi di mana cara memproduksi ilmu pengetahuan didikte standar Barat.

Islam kerap diposisikan hanya sebagai objek eksperimen atau spesimen sejarah yang mati. Teks-teks suci atau produk hukum Islam dinilai menggunakan pisau analisis sekuler-materialistik Barat, yang menafikan sudut pandang keimanan. Jika ada pemikiran Islam tak sejalan dengan modernitas ala Barat, pemikiran itu langsung dicap kuno atau stagnan.

Baca Juga:  5 Jalan Agar Religiusitas Mencerahkan!

Gerakan dekolonisasi hadir sebagai antitesis dari hegemoni itu. Melalui gerakan ini, para akademisi berupaya keras agar tradisi intelektual Islam yang kaya, seperti ilmu Kalam (teologi), Fiqh (hukum), hingga Ushul Fiqh (teori hukum), dibersihkan dari bias-bias warisan kolonial. Tujuannya agar tradisi intelektual Islam diakui kembali sebagai subjek pengetahuan mandiri, berdaulat, dan valid, untuk diajak berdialog secara setara dalam memecahkan problem kemanusiaan masa kini.

Gerakan dekolonisasi di Inggris (United Kingdom) bukan sebatas wacana. Gerakan ini diaplikasikan lewat metodologi ilmiah konkret, yang mewarnai buku, jurnal, dan silabus kuliah yang diampu akademisi terkemuka, sebagamana berikut :

  1. Dekolonisasi Tafsir

    Di The University of Edinburgh, Skotlandia, Dr. Shadaab Rahemtulla menjadi salah satu motor penggerak dekolonisasi studi Al Qur’an. Melalui buku monumental, Qur’an of the Oppressed: Liberation Theology and Gender Justice in Islam, Rahemtulla membongkar cara pandang sarjana Barat sekuler yang kerap mereduksi Al Qur’an, sekadar sebagai produk hukum lokal abad ke 7.

    Ia mendekonstruksi bias tersebut dengan menghadirkan metodologi Tafsir Pembebasan. Rahemtulla membuktikan secara teks dan konteks, bahwa pesan inti dari kitab suci umat Islam adalah pembelaan terhadap kaum tertindas, manifesto perlawanan atas imperialisme, serta penegakan keadilan gender dan sosial. Al Qur’an di tangan peneliti dekolonial, dikembalikan fungsinya sebagai petunjuk hidup yang relevan untuk melawan penindasan modern.

    2. Menghidupkan Ilmu Kalam

    Sains modern, khususnya teori evolusi dalam biologi, sering kali memicu benturan keras dengan institusi keagamaan. Ketika universitas-universitas Barat mengkaji isu “Islam dan Sains,” mereka kerap terjebak menggunakan kerangka teologi Kristen Barat untuk menghakimi Islam.

    Baca Juga:  Jangan Terlalu Berharap pada Dunia Islam

    Dr. Shoaib Ahmed Malik, yang juga berbasis di Edinburgh, mendobrak bias ini. Dalam risetnya, Seven Classical Perspectives for Islam and Science, Malik menerapkan dekolonisasi dengan menghidupkan kembali tradisi Kalam klasik, terutama dari mazhab Ash’ariyah dan Maturidiyah.

    Ia memperlihatkan pada Barat bahwa sarjana muslim abad pertengahan telah memiliki perangkat metafisika dan epistemologi yang mumpuni. Dengan perangkat itu, umat Islam mampu merespons teori evolusi secara mandiri dan kritis, tanpa harus mengekor pola perdebatan teologis dunia Barat.

    3. Membongkar Mitos Stagnasi Hukum Syariah

    Satu warisan bias kolonial yang paling mengakar adalah anggapan bahwa hukum Islam bersifat kaku dan pintu ijtihad telah tertutup sejak abad pertengahan. Narasi menyesatkan ini ditentang oleh Prof. Rob Gleave, Direktur Centre for Shari’a Studies di University of Exeter.

    Lewat penelusuran mendalam terhadap manuskrip-manuskrip Ushul Fiqh kuno, beliau medapati bahwa hukum Islam adalah sebuah sistem yang dinamis. Hukum Islam terus beradaptasi menghadapi tantangan zaman, melalui perdebatan metodologis yang rumit di kalangan fukaha dari abad ke abad. Dengan hasil risetnya, beliau meruntuhkan superioritas hukum positif Barat, yang selama ini menganggap syariah sebagai sistem hukum kelas dua.

    4. Pemurnian Linguistik dari Bias Orientalisme

    Dari SOAS University of London, ada sosok terkemuka, Prof. Muhammad A. S. Abdel Haleem. Beliau adalah penerjemah Al Qur’an ke dalam bahasa Inggris yang paling berpengaruh saat ini. Terjemahannya yang diterbitkan oleh Oxford World’s Classics adalah wujud dekolonisasi dalam aspek bahasa.

    Baca Juga:  Rizal Sukma: Internasionalisasi Gerakan Muhammadiyah adalah Keniscayaan

    Beliau dengan jeli mengkritisi terjemahan-terjemahan Al Qur’an dari era kolonial yang kerap salah kaprah, berorientasi politik terselubung, atau menggunakan padanan kata biblikal yang tak tepat. Beliau mengembalikan pemahaman ayat suci ke dalam struktur kebahasaan (balaghah) dan konteks budaya Arab asli, sehingga keindahan dan pesan asli Al Qur’an dapat ditangkap secara objektif oleh masyarakat pengguna bahasa Inggris di seluruh dunia.

    Gerakan Dekolonisasi Studi Islam di Inggris memberi kita dua pelajaran berharga. Pertama, ia mengingatkan para akademisi/pelajar muslim agar tidak inferior atau silau terhadap metodologi ilmiah Barat. Tak perlu menelan mentah-mentah teori sosiologi atau antropologi Barat sekuler, untuk membedah realitas keberagamaan kita.

    Kedua, dekolonisasi bukan berarti kita wajib anti Barat secara membabi buta, menolak modernitas, atau terjebak dalam romantisme kejayaan masa lalu yang utopis. Dekolonisasi, sebagaimana ditegaskan oleh Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Muhamad Rofiq Muzakkir, adalah sebuah kerja panjang mengidentifikasi bias epistemik, mengeluarkan unsur kolonial yang merusak, lalu menyaring dan mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan fondasi tradisi Islam sendiri.

    Bagi warga persyarikatan, nafas dekolonisasi ini sejatinya sebangun dengan etos Islam Berkemajuan Muhammadiyah. Sejak awal berdiri, K.H Ahmad Dahlan telah mencontohkan gerakan dekolonisasi ini secara konkret. Beliau mendobrak tradisi taklid buta, melawan hegemoni budaya kolonial, namun di saat yang sama bersikap adaptif, dengan mengambil sistem sekolah modern untuk memajukan umat. Tugas generasi muda islam adalah melanjutkan ikhtiar ini. Dengan merawat keilmuan turats (klasik), mempelajari metodologi modern secara kritis, dan mengemasnya menjadi solusi bagi kemanusiaan universal.

    Editor: Anas Nashuha

    Peristiwa

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini

    Terbaru