back to top
Jumat, Oktober 23, 2026

Jong Islamieten Bond dan Pekerjaan yang Belum Selesai

Lihat Lainnya

Bisakah seseorang menjadi muslim yang taat, sekaligus menjadi warga bangsa yang terbuka? Pertanyaan yang terdengar sederhana. Tapi pada awal abad ke-20, ketika Hindia Belanda mulai melahirkan generasi terpelajar dari kalangan pribumi, pertanyaan itu menjadi diskursus penting dalam gelombang pergerakan.

Pendidikan modern memperkenalkan pemuda bumiputera kepada ilmu pengetahuan, organisasi, dan gagasan kemajuan. Akan tetapi, muncul kesadaran dari para pemuda itu, untuk memastikan perubahan tak membuat mereka jauh dari agama. Dilandasi kesadaran itu, pada tahun 1925, Jong Islamieten Bond (JIB) resmi berdiri. Organisasi pemuda Islam ini berusaha mengintegasikan pendidikan modern, kesadaran keislaman, dan cita-cita kebangsaan.

JIB lahir di tengah arus deras pergerakan nasional. Kelahirannya menunjukkan bahwa kebangkitan Indonesia, terbentuk dari berbagai aliran pemikiran dan ragam bentuk pergerakan. Ada pemuda yang berhimpun berdasarkan daerah asal, ada pemuda yang bergerak melalui organisasi politik, dan ada pula pemuda yang menjadikan Islam sebagai nafas perjungannya.

Lahirnya JIB erat kaitannya dengan kelompok pemuda Islam dari perkumpulan Jong Java. Ide kelahirannya tercetus disaat, usulan anggota muslim untuk memperoleh dukungan belajar agama dengan lebih intens, tak direspon dengan baik oleh perkumpulan. Syamsuridjal (yang dalam sejumlah literatur ditulis Raden Sjam), salah seorang dari tokoh pemuda Islam dalam Jong Java, lalu mencari dukungan dari tokoh-tokoh pergerakan Islam senior untuk mendirikan JIB.

Dituliskan dalam buku Sumpah Pemuda: Latar Sejarah dan Pengaruhnya bagi Pergerakan Nasional, gagasan itu mendapat dukungan dari K.H. Ahmad Dahlan, H.O.S Tjokroaminoto, dan Haji Agus Salim. Rapat persiapan pembentukan JIB pertamakali dilaksanakan, di sebuah sekolah Muhammadiyah di Kauman, Yogyakarta. Sebelum akhirnya organisasi itu diresmikan di Jakarta pada medio 1925.

Baca Juga:  Doa Ketika Berada di Multazam dan Artinya

Hubungan JIB dengan Muhammadiyah memperlihatkan bagaimana, gerakan Islam pada masa itu dapat saling mendukung, tanpa harus melebur menjadi satu organisasi. Sebelumnya, Muhammadiyah telah menggagas pembaharuan Islam, melalui pendidikan dan kegiatan sosial secara general sejak 1912 di Indonesia. JIB yang lahir kemudian mengkhususkan diri pada pembinaan pemuda muslim terpelajar. Keduanya mempunyai ruang lingkup berbeda. Tetapi bertemu dalam satu ide, yaitu mengupayakan pendidikan dan pembentukan umat muslim, yang siap menghadapi zaman modern.

JIB pada awal kiprahnya, menjadi tempat pemuda Islam belajar dan memperdalam agama, sekaligus mengembangkan kemampuan intelektual dan organisasi. Mereka mengadakan ceramah, diskusi, penerbitan, dan kegiatan kepemudaan. Majalah Het Licht, yang dikenal pula dengan nama An Nur, menjadi salah satu sarana propaganda gagasan mereka.

Jalan yang ditempuh JIB bukan sekadar berkutat pada pengetahuan agama. Konsep yang mereka usung berupaya membentuk cara berpikir, memperluas wawasan, dan mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan sosial.

JIB menjadi tempat bernaung bagi pemuda Islam, yang tak ingin identitas keagamaannya membatasi pergaulan serta partisipasi dalam kehidupan bermasyarakat. Mereka berhasil menjadi katalisator antara pendidikan modern dengan tradisi Islam, pada masa-masa pergeraka. Sehingga, pendidikan modern yang ditempuh oleh para pemuda muslim terpelajar, tak membuat mereka jauh dari nilai-nilai keagamaan.

Sumbangan penting JIB berikutnya ialah upayanya menghimpun pemuda Islam dari berbagai daerah. Pada masa ketika identitas kedaerahan masih kuat, JIB menyediakan ruang untuk membangun persaudaraan yang melampaui batas suku.

Baca Juga:  Cara Agar Muslim Selalu Mengefektifkan Amal Saleh

JIB juga terus mendorong persatuan Indonesia. Keterlibatan anggotanya, Djohan Mohammad Tjaja, sebagai Pembantu I dalam kepanitiaan Kongres Pemuda II pada 1928 menunjukkan bahwa, JIB ikut ambil bagian dalam proses silaturrahmi berbagai organisasi pemuda. Partisipasi JIB juga menunjukkan kesadaran kebangsaan tidak hanya tumbuh di kalangan pemuda, yang bergerak lewat organisasi kedaerahan atau kelompok politik.

Bagi pemuda Islam yang berhimpun dalam JIB, identitas keagamaan dan cita-cita kebangsaan tak harus saling bertentangan. Islam dapat menjadi sumber etika dan tanggung jawab sosial, sedangkan Indonesia menjadi ruang bersama, untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih baik.

Gagasan ini tak lekang ditelan zaman. Dalam kehidupan berbangsa, persoalannya bukan memilih antara menjadi muslim atau warga Indonesia. Tantangannya adalah bagaimana keyakinan agama mendorong seseorang berbuat adil, menghormati perbedaan, dan ikut ambil bagian dalam menyelesaikan persoalan bangsa.

Perjalanan JIB berakhir pada masa pendudukan Jepang. Tahun 1942 menjadi akhir periode kiprah organisasi ini. Akhir perjalanan JIB itu, perlu dibaca dari konteks perubahan kekuasaan yang ekstrem, bukan semata-mata dari konteks kegagalan gagasan. Organisasi yang dibangun selama bertahun-tahun dapat kehilangan ruang gerak, ketika kekuasaan baru mengubah aturan kehidupan publik.

Ada perbedaan antara kelangsungan organisasi dengan keberlanjutan pemikiran. Sejumlah tokoh yang pernah bersinggungan dengan JIB, terus terlibat dalam kehidupan kebangsaan. Pada 1947, Pelajar Islam Indonesia (PII) berdiri sebagai organisasi baru, yang mengembangkan pembinaan pelajar Islam dalam konteks Indonesia merdeka.

Baca Juga:  Bahasa Nabi Tidak Selalu Bermakna Harfiah

Adanya kesamaan semangat pendidikan Islam tak  sendirinya membuktikan bahwa, PII merupakan penerus kelembagaan resmi JIB. Namun, dalam spektrum yang lebih luas, sejarah keduanya memperlihatkan bahwa kebutuhan membina generasi muda Islam, tetap hidup meskipun bentuk organisasi dan pergerakannya berubah.

Dari sini kita memperoleh pelajaran lain. Keberhasilan gerakan tak cukup diukur dari usia organisasi atau jumlah anggota. Yang tak kalah penting adalah kemampuan membangun tradisi berpikir, menghasilkan kader, dan mewariskan gagasan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Sejarah JIB bukan sekadar kisah tentang sebuah organisasi pemuda, yang lahir pada masa kolonial lalu surut pada masa pendudukan Jepang. JIB menunjukkan bahwa gerakan Islam pada masa pergerakan, tidak hanya berpusat pada politik praktis. Pembentukan manusia terdidik juga menjadi bagian penting dari perjuangan. Dan yang paling penting, sejarah JIB menandai lahirnya generasi pertama dengan dialektika, yang kemudian menjadi ciri berpikir generasi muslim Indonesia yang modern dan berpikir ke depan.

Hampir seabad setelah kelahiran JIB, ide yang mendasari pendiriannya terus menjadi dialektika, bahkan bagi pergerakan pemuda atau organisasi Islam masa kini. “Mampukah umat Islam Indonesia terus membentuk generasi muslim yang berpengetahuan, berintegritas, dan sanggup bekerja bersama seluruh elemen masyarakat, untuk kemaslahatan bangsa?”

Jawaban dari pertanyaan itu tak terletak pada romantisme sejarah. Jawabannya terletak pada kesediaan meneruskan pekerjaan yang belum selesai, yaitu mendidik umat Islam agar keyakinannya menjadi sumber kemajuan, bukan menjadihambatan yang malah menimbulkan sekat dan krisis, di tengah masyarakat yang majemuk.(aea)

Editor: Ikrima

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru