Beranda Report Abdul Mu'ti: Sinergi PTM dan Persyarikatan: Ideologi, Politik dan Pelayanan Sosial

Abdul Mu’ti: Sinergi PTM dan Persyarikatan: Ideologi, Politik dan Pelayanan Sosial

IBTimes.ID – Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengadakan “Leadership Training” untuk Pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) Angkatan ke-4 di Yogyakarta. PTM merupakan amal usaha Muhammadiyah. Secara ideologis, AUM merupakan institusionalisasi, aktualisasi, universalisasi dan obyektivikasi amal shalah.

Adalah Abdul Mu’ti (Sekretaris Umum PP Muhammadiyah) dalam satu sesi menyampaikan materi pentingnya PTM untuk bersinergi dengan Persyarikatan Muhammadiyah. Menurut Mu’ti ada tigal hal yang perlu disinergikan.

Pertama,Sinergi Ideologi. Peneguhan manhaj gerakan Muhammadiyah menjadi masalah tersendiri mengingat posisi PTM sebagai Amal Usaha Muhammadiyah. Sinergi ideologi menjadi penting karena anggota PTM adalah kaum terdidik yang memiliki tingkat heterogenitas yang tinggi. Mahasiswa PTM juga sangat beragam baik dari segi sosial, ekonomi maupun ideologi.

Perguruan tinggi sebagai institusi akademik yang membangun budaya ilmiah, sehingga pemikiran apapun dapat masuk di PTM baik mahasiswa maupun para dosennya. Hal ini menjadi masalah mengingat intensitas pertemuan mahasiswa dan dosen terbatas, sehingga pertukaran intelektual kurang. Dosen kurang melakukan dialog intelektual dengan mahasiswa.

Meskipun demikian, Mu’ti juga mengatakan Muhammadiyah juga mendapatkan pemikiran-pemikiran maju sangat diperlukan dari perguruan tinggi. Akan tetapi pemikiran-pemikiran itu, harus tetap inline dan inheren dengan Muhammadiyah sebagai organisasi dakwah. Keterbukaan memang perlu tetapi tetap dalam konteks manhaji.

Kedua,Sinergi Pelayanan Sosial.Muhammadiyah memiliki kekuatan dari segi pelayanan sosial. Muhammadiyah menonjol dalam bidang pelayanan seperti respons terhadap kebencanaan. Tetapi karena justru kita kuat pelayanan sosial, seakan-akan Muhammadiyah hanya sebagai gerakan sosial. Akhirnya Muhammadiyah kurang dimensi dakwahnya (pengajian).

Selain itu, karena Muhammadiyah terlalu berorientasi institusi, menjadikan kurang responsif terhadap persoalan sosial. Selama ini pelayanan sosial lebih bersifat santunan dan bersifat charity, bersifat berkelanjutan. Artinya pelayanan sosial Muhammadiyah masih karitatif. Akan bisa lebih maksimal jika terjadi sinergi antara semangat pelayanan, semangat bisnis dan pengembagan gagasan-gagasan baru melalui PTM.

Ketiga,Sinergi Politik. Muhammadiyah perlumemperkuat peran-peran kebangsaan, misalnya PPM kekurangan resource persondengan gagasan-gagasan untuk memberi pemikiran kepada negara. PTM perlu menyediakan orang-orang yang pendapatnya quotable atau influencerdi ruang publik. Selain itu, distribusi kader-kader yang mengisi ruang publik di berbagai level harus dimainakn PTM sebagai gudang intelektual. Pengerahan opini publik lewat berbagai media juga penting ditopang oleh SDM dari PTM.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Must Read

Prawoto Mangkusasmito: Guru Muhammadiyah Menjadi Ketum Partai Masyumi

Oleh: Mu'arif*   Lahir di Tirto, Grabag, Magelang, pada 4 Januari 1910, Prawoto Mangkusasmito adalah putra dari Supardjo Mangkusasmito dan Suendah. Menempuh Pendidikan dasar di Hollands...

“Islam Berkemajuan” ala Buya HAMKA

Oleh: Mu’arif Buya HAMKA merupakan ulama Muhammadiyah yang berhasil meninggalkan warisan intelektual Islam yang besar berupa tafsir Alqur’an, yaitu Tafsir Al-Azhar. Selain itu memiliki gagasan...

Manusia Angka

Oleh: Faris Ibrahim*   Cukup aneh bukan? Manusia bisa memprediksi dengan tepat kapan Mars akan berada di langit‒ bahkan untuk seratus tahun ke depan. Namun, lucunya,...

MDMC Sampaikan Strategi Kebijakan Penanggulangan Bencana di Forum ASEAN

IBTimes.ID - Singapura (21/08) – Setelah Juni lalu diminta berbicara di PBB, pada tanggal 21 Agustus 2019, Dr. Rahmawati Husein, Wakil Ketua Lembaga Penanggulangan...

Kompleksitas Papua I: Adakah Faktor Amerika?

Oleh: Hasnan Bachtiar Masalah konflik Papua sebenarnya rumit. Lebih rumit dari bayangan kita selama ini. Karenanya, hal ini tidak bisa didudukkan sebagai sekedar masalah pelanggaran...