PUBLISHER

PT Litera Cahaya Bangsa Jalan Nanas 47B, Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta

Kanal Moderasi Islam. Hubungi Kami.

AI Fatimah Nur Fuad menjelaskan bahwasannya di agama yang dipahami atau dipraktikkan oleh orang-orang Eropa, mengalami pergeseran dari publik menjadi privat. Hal ini disampaikannya dalam pengajian umum PP Muhammadiyah yang bertajuk “Islam dan Islamofobia di Eropa”, pada Jum’at (11/9) via Zoom.

Menurutnya, terdapat diskursus mengenai posisi agama di tengah masyarakat Eropa yang semakin sekuler akibat dari adanya modernitas. Sebagian sosiolog atau juga teolog banyak mengatakan bahwa modernisasi yang semakin kuat seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan akan mengakibatkan peran agama menjadi terpinggirkan.

“Hal-hal yang suci atau sakral, itu tidak lagi dipandang penting oleh masyarakat industri. Lalu, moralitas publik itu tidak selalu ditopang oleh nilai-nilai spiritualitas atau kesalehan tradisional. Maka, sebagian sosiolog agama mengatakan bahwa fenomena seperti itu sebagai the decline of religion atau teolog mengatakan, bahkan the death of god (kematian Tuhan)”, paparnya.

Namun, ia menambahkan, ada sebagian sosiolog lainnya yang mengatakan bahwa agama itu masih ada dan bahkan memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat sekuler. Akan tetapi, agama yang dipahami oleh orang-orang Eropa mengalami transformasi dan lebih menguat ke arah yang lebih privat (private religion). Kendati demikian, hal tersebut telah menunjukkan bahwa agama masih berperan penting dan masih memiliki nilai di dalam kehidupan masyarakat sekuler.

“Oleh Buya Hamka hal ini disebut sebagai kebosanan. Kebosanan orang Eropa dengan sekularitasnya, dengan modernitasnya, dan lalu kembali kepada agama. Dalam bahasa sosiolog agama, itu dikatakan sebagai religious return to the secular city atau religious return to the secular society. Jadi, kembalinya nilai-nilai agama kepada masyarakat yang sekuler,” jelasnya.

Islam dan Islamofobia di Eropa

Adapun terkait perkembangan Islam di Eropa, Wadek 1 FAI UMJ itu mengatakan Islam yang berkembang di Eropa bukan semata-mata hanya dipengaruhi oleh mualaf. Migrasi atau perpindahan penduduk muslim dari berbagai negara juga turut mempengaruhi perkembangan Islam di Eropa. Hal ini dikarenakan para imigran tersebut tentunya juga akan membawa atau menggunakan bahasa, etnik, agama, budaya, bahkan mazhabnya masing-masing sebagai identitasnya.

Baca Juga  Kemanusiaan Barometer Keislaman

Menurutnya, ada tiga kelompok muslim dalam menyikapi negara Eropa yang sekuler. Pertama, muslim modernis. Kelompok yang mau berbaur dengan sistem negara di Eropa. Kedua, muslim tradisionalis. Kelompok yang mengisolasi atau membatasi dirinya terkait sistem yang dianut oleh negara-negara di Eropa. Ketiga, radikal-islamis. Kelompok yang menolak sistem yang dianut oleh negara-negara di Eropa.

Dengan semakin berkembang atau bertambahnya jumlah populasi umat Islam di Eropa, hal ini justru menimbulkan ketakutan yang berlebihan dari warga Eropa itu sendiri. Ketakutan semacam ini lazim dikenal dengan Islamofobia.

Ai Fatimah menyatakan bahwa Islam sebagai agama dengan penganut terbesar ke-2 di dunia yang populasinya di Eropa sekitar 42, 1 juta jiwa. Dengan pertumbahan seperti itu, tentunya akan berimplikasi pada ruang-ruang publik di Eropa. Ia mencontohkan, restoran halal semakin marak di Eropa. Selain itu, simbol-simbol Islam atau lembaga-lembaga Islam juga menjamur di negara-negara Eropa.

Hal inilah yang menimbulkan kekhawatiran sekaligus ketakutan bagi warga Eropa. Mereka merasa identias Eropa yang asli atau murni sudah tercerabut seiring dengan berkembangnya Islam di negara-negara Benua Biru tersebut.

“Di situlah kemudian islamofobia muncul dari gesekan-gesekan, dari konflik akibat belum menerima sepenuhnya keberadaan muslim,” ujarnya.

“Islamofobia memang ada, riil terjadi dalam berbagai ekspresi yang beragam. Ada pelarangan cadar, pelarangan jilbab di sekolah, lalu kemudian penyerangan masjid atau ancaman berbentuk lisan,” lanjutnya.

Ia menilai saat ini sudah ada upaya dari pemerintah negara-negara di Eropa dalam menangani hal-hal yang bernada rasial dan kebijakan yang bias sebagaimana telah disebutkan di atas. Hal itu dapat dilihat dari kebijakan-kebijakan yang sudah direvisi, sehingga saling menguntungkan.

“Kebijkan multikulturasime sebetulnya mengarah kepada dua pihak, satu kepada pihak warga Eropa agar bisa menerima pendatang dengan baik dan kepada muslim agar bisa berintegrasi dg nilai-nilai sekuler,” pungkasnya.

Baca Juga  Lima Pelajaran dari Din Syamsuddin

Reporter: Nirwansyah

Editor: Yahya FR

Share Artikel

editor