PUBLISHER

PT Litera Cahaya Bangsa Jalan Nanas 47B, Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta

Kanal Moderasi Islam. Hubungi Kami.

Makan adalah kegiatan rutinitas yang dilakukan oleh semua makhluk di muka bumi ini. Aktivitas memakan makanan dilakukan sebagai pengisi energi bagi tubuh. Baik tubuh hewan maupun manusia. Makan pun tidak terbatas pada urusan perut kenyang.

Dalam ilmu fisika, ada suatu bab yang menjelaskan tentang ilmu gerak. Gerak ini akan berjalan manakala ada energi yang menyokongnya. Begitu juga dengan tubuh manusia, jika tubuh manusia ini tak ada energi maka gerak pun tak akan terwujud.

Untuk menyuplai energi ini, manusia membutuhkan makan. Makanan yang dianjurkan dalam agama Islam adalah makanan yang tidak hanya baik tapi juga halal.

Makan Tidak Harus Mahal

Banyak yang berpikir ketika makan banyak akan menjadi kuat namun ternyata tidak semudah itu. Kebanyakan makan dapat menyebabkan kegemukan dan susah gerak. Sebaliknya, kurang makan juga dapat menyebabkan lemah tak berdaya dan tubuh menjadi kurus kering.

Islam telah memberitahu perihal memilih makanan. Makanan yang paling lezat adalah makanan ketika kita makan dalam kondisi tidak kenyang. Jika tidak percaya boleh dicoba.

Sebagaimana Rasul menganjurkan umatnya untuk membagi porsi di perut yaitu sepertiga untuk makan, sepertiga untuk air, dan sepertiga lagi untuk udara.

Bukan tanpa alasan, karena menurut ilmu kesehatan hal tersebut sangat membantu melancarkan metabolisme tubuh. Seperti kelihatan remeh, tapi makan kalau tidak diperhatikan akan menjadi masalah serius.

Ada ungkapan bahwa semua berawal dari hal kecil. Kita tahu bahwa masalah kecil itu ada dan berubah menjadi besar manakala kita tidak pandai dalam mengatasinya. begitu pula makan, makanan yang tidak baik dan juga tidak halal pasti lambat laun akan mengganggu kondisi kesehatan.

Dengan demikian, memakan makanan yang baik lagi halal adalah keharusan bagi umat manusia, lebih-lebih bagi kaum muslim. Makanan itu tidak harus mahal karena banyak juga makanan-makanan cepat saji yang mahal namun tidak baik untuk kesehatan.

Baca Juga  Khutbah: Akhlak Khalifah Allah Terhadap Alam

Mungkin kita perlu menegok ke belakang mengenai para nenek moyang kita dahulu yang banyak memakan makanan yang langsung dari alam. Mereka makan tanpa bahan-bahan sintetis seperti sekarang ini sehingga tubuh mereka kuat dan sehat.

Ibarat seseorang tersesat di tengah hutan dan sangat kelaparan lalu kemudian menemukan makanan yang paling sederhana sebut saja umbi-umbian, maka makanan itu akan terasa istimewa dan semakin lezat.

Sejatinya makanan adalah kebutuhan bagi setiap manusia bukan keinginan. Andaikan makan dijadikan keinginan bukan tidak mungkin dunia ini akan segera musnah dengan eksploitasi manusia yang tiada henti.

Jika kita melihat lebih dalam lagi, masih banyak orang yang kesusahan hanya sekedar mendapat makanan dalam sehari. Namun di sisi lain banyak juga yang selalu kenyang, bahkan menghambur-hamburkan makanan. Padahal jelas Allah tidak menyukai hambanya yang mubazir (berlebih-lebihan) sebagaimana firmanya dalam QS Al-A’raf ayat 31.

Makan dengan Penuh Rasa Syukur

Semua yang berlebih-lebihan akan menghasilkan ketidakseimbangan dalam kehidupan. dengan demikian, batasan sangat diperlukan karena dalam tubuh ini sudah di desain dengan kadarnya masing-masing.

Batasan dalam konteks ini adalah rasa bersyukur. Segala apa yang kita jalani dalam hidup ini, entah bahagia atau sedih nyatanya berlalu begitu saja dan seharusnya kita menerima dengan lapang dada.

Mungkin makanan yang kita makan hari ini kurang lezat di lidah kita, namun kita perlu sesekali menengok mereka yang kesusahan hanya untuk makan, pasti banyak kenikmatan-kenikmatan yang hanya terlihat oleh mata biasa tapi tidak dengan mata batin kita.

Kembali lagi bahwa dalam perihal makan sudah dianjurkan dengan makan secukupnya, yaitu makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. Di sinilah Islam sangat menganjurkan keseimbangan sejak dalam hal yang remeh yaitu makan.

Baca Juga  Penyakit Wahn dan Kesalehan-Kesalehan Semu

Jika saja tidak ada keseimbangan dalam hal kecil seperti pola memilih makanan, akibatnya bisa besar sebagaimana masalah kecil yang dapat berubah menjadi besar. Semua menjadi mungkin, tinggal bagaimana manusia sebagai sutradara kehidupan menjalani ceritanya.

Sutradara yang baik pasti akan memilah mana cerita yang bagus dan mana cerita yang jelek. Sehingga jika dalam hal makanan, ketika seorang memasukkan apa-apa yang baik lagi halal, dengan sendirinya hasilnya akan baik dan dapat memberi manfaat. Entah besar atau kecil baik bagi diri sendiri ataupun orang lain.

Namun juga sebaliknya, jika yang dimakan adalah apa-apa yang buruk, secara otomatis hasilnya akan buruk juga entah kecil atau besar, baik bagi diri sendiri ataupun orang lain. Sehingga, memilih makanan akan berpengaruh juga pada pembentukan karakter kepribadian seseorang.

Dengan demikian, Tentunya kita tidak ingin mati konyol hanya disebabkan oleh salah dalam memilih makanan, karena bisa jadi makanan itu merusak tubuh sendiri.

***

Walhasil, bukan hanya barang-barang mewah saja yang mahal harganya. Kesehatan lebih mahal lagi harganya jikalau seseorang menderita sakit. Apalagi di tengah pandemi yang tidak menentu ini. Jadi, memilih makanan yang baik lagi halal menjadi prioritas semua orang untuk menunjang kualitas hidupnya.

Editor: Nabhan

Share Artikel

contributor

Mahasiswa Sekolah tinggi ilmu al-Qur'an dan sains Al-ishlah Sendangagung Paciran Lamongan

Tinggalkan Balasan