Perspektif

Air, Mahal dan Berharganya dalam Kehidupan Manusia

6 Mins read

Siapapun di dunia ini kenal air. Ia adalah sebuah keajaiban yang diciptakan oleh Allah untuk menambah indahnya kehidupan para makhluk-Nya. Air adalah unsur dominan dalam kehidupan.

Sejak kita lahir, tubuh kita terdiri dari milyaran sel hidup. Setiap sel mengandung banyak air dengan larutan bermacam-macam zat. Oleh karena itu, tidak aneh jika komposisi air dalam tubuh manusia mencapai 70 persen lebih. Kadar air dalam otak mencapai 74,5 persen, darah 90 persen, jantung 79 persen, ginjal 82 persen, dan paru-paru mendekati 80 persen.

Jika kandungan air dalam setiap organ mampu kita pertahankan sesuai kebutuhan, kesehatan organ-organ tersebut insya Allah akan lebih terjaga. Malah, jika kadar air menurun, dapat dipastikan fungsi-fungsi organ pun perlahan tapi pasti akan menurun. Akibatnya, tubuh akan rentan terhadap penyakit, bakteri, dan virus. Oleh karena itu, betapa besar peran air di dalam tubuh manusia.

Harga Air dalam Kehidupan Manusia

Mari kita simak satu kisah menarik tentang betapa mahalnya harga air dalam kehidupan manusia.

Suatu masa saat Harun Al-Rasyid hendak minum, seseorang bertanya, “Andai di sebuah kesempatan, Anda benar-benar mengalami kesulitan untuk mendapatkan segelas air. Padahal, kala itu situasi sangat terik dan tenggorokan Anda sangat kering karena rasa haus yang hebat. Sedemikian hausnya, jika tidak segera mendapat air minum, Anda akan meninggal. Maka, apa yang akan Anda lakukan?” tanya sang ahli hikmah.

“Akan saya umumkan, bahwa kepada yang memiliki segelas air minum, akan saya ganti air dia dengan separuh wilayah kekuasaan (kerajaan) saya. Itu, demi keselamatan saya,” jawab Harun Al-Rasyid tanpa ragu-ragu. Lalu, Harun Al-Rasyid dan sang ahli hikmah minum.

Setelah itu, sang ahli hikmah bertanya lagi: “Apa sikap Anda, andai air yang telah diminum tadi, kemudian malah mendatangkan penyakit, yaitu Anda tak mampu buang air kecil? Keadaan itu bahkan berkembang menjadi penyakit hebat yang bila tidak segera diobati Anda akan meninggal.”

“Jika keadaannya demikian, maka akan saya umumkan pula bahwa kepada dokter –atau siapapun- yang mampu membuat saya sehat seperti sediakala, yaitu bisa buang air kecil dengan mudah, akan saya hargai jasanya dengan separuh wilayah kekuasaan (kerajaan) yang tersisa,” ungkap Harun Al-Rasyid mantap.

Dari kisah di atas, cukup mudah untuk menangkap pesannya. Bahwa di keseharian kita, terdapat karunia Allah (keajaiban air). Padahal jika dirupiahkan, berbagai nikmat itu sungguh tak ternilai.

أَوَلَمْ يَرَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ أَنَّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَٰهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ ٱلْمَآءِ كُلَّ شَىْءٍ حَىٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS. Al-Anbiya : 30)

Baca Juga  Pembatalan Ibadah Haji: Pil Pahit Berbuah Manis

Arti Penting Air

Arti penting air pada kenyataannya semakin tergali dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern. Atmosfer menjadi lembap dan lapisan udaranya layak untuk dihirup oleh paru-paru juga karena peran udara. Proses metabolisme serta reaksi kimia dalam sel dapat berlangsung secara proporsional karena peran udara.

Proses fotosintesis untuk menghasilkan gula dan oksigen diawali oleh peran air. Bahkan cahaya matahari yang kita rasakan sehari-hari ternyata tidak terlepas dari peranan air pula. Cahaya matahari yang menerpa bumi, sebenarnya adalah paket foton yang terdiri atas sekumpulan elektron yang terlontar dari sebuah proses eksitasi helium dari reaksi fusi atau plasma trivalensi hidrogen (hidrogen, deterium, dan tritium). Helium sendiri adalah keluarga hidrogen alias unsur utama sebuah molekul air.

Jadi, matahari yang panas sebenarnya masih kerabat dekat air. Air tidak sekadar berfungsi sebagai media pengganti cairan tubuh atau penyempurna aktivitas wudhu. Air pun memiliki sekian banyak fungsi. Salah satunya sebagai “guru” yang bisa mengajari manusia hikmah kehidupan. Fungsi inilah yang kerap kita lupakan. Padahal dengan memikirkannya, kita akan sampai pada tingkatan ulil albab atau orang-orang berakal, yang menggunakan akalnya untuk dekat dengan Allah. Golongan inilah yang paling beruntung dalam kehidupan.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ. الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali Imran : 190-191)

Pelajaran Apa Saja yang Bisa Kita Dapatkan dari Karakteristik Air?

1. Amanah

Air mengingatkan kita kepada prinsip amanah. Allah Swt. telah menganugerahkan beragam nikmat kepada kita. Nikmat pasangan hidup, keturunan, keluarga, rekan, lingkungan yang indah dan kondusif, serta banyak lagi lainnya. Kemudian, kita mengembangkan konsep kepemilikan dan kapitalisasi.

Semua yang dititipkan, kita sertifikasi menjadi hak milik. Rasa memiliki yang sangat kuat ini biasanya beralasan karena “mencintai”. Bukankah sesuatu yang dicintai menjadi wajar apabila “dijaga” dan “dilindungi”?

Pertanyaan sesungguhnya: siapakah yang dimiliki dan memiliki? Sebenarnya, semua manusia menyadari bahwa konsep kepemilikan di alam dunia ini adalah semu belaka. Adapun yang diberikan kepada kita sekadar “hak guna pakai” dan bukan hak milik yang berkekuatan hukum tetap, hanya berdasarkan aklamasi dan konsensus, apalagi soal kepemilikan dan hak atas sesuatu yang nyata-nyata bukan milik dan ciptaan kita.

Baca Juga  Mutiara Hikmah di Balik Perkawinan Lobster

Manusia yang terjebak dalam rasa kepemilikan yang kuat, akan terbenam ke dalam sebuah lautan yang rasa “asin” garamnya memberikan dampak seperti rasa asinnya air laut. Ketika kita kehausan di tengah laut, makin banyak kita teguk air laut yang asin, akan makin hauslah kita.

Inilah contoh dari sistem Allah Swt. yang sangat seimbang. Manusialah yang mengganggu proses keseimbangan, dengan melakukan beragam tindakan tanpa dasar keilmuan. Fenomena ini menganalogikan “rasa haus” akan kebutuhan duniawi hanyalah bersifat sementara. Jiwa kita menjadi resah dan sistem tubuh kita pun akan segera berubah, kacau balau tidak tentu arah.

2. Pandai Membatasi Diri

Salah satu karakter air yang layak kita renungkan adalah sifatnya yang membatasi diri. Ia tidak sembarangan untuk berkaitan dengan unsur-unsur lain. Seandainya ia tidak membatasi diri, air akan bebas berkaitan dengan sebanyak-banyaknya molekul yang belum memiliki kaitan. Akibatnya air bisa berukuran sebesar lemari.

Kecerdasan air sebagai sesuatu “strategi bussines unit” itu dapat kita teladani dan nilainya kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Air memberi teladan indah tentang efektivitas dan kemampuan mengoptimalkan serta membatasi diri. Walau potensi yang dimiliki sangat memungkinkan, tetapi air memilih untuk membentuk unit bisnis strategis yang tidak menzalimi unsur lain di sekitarnya.

Bayangkan jika setetes air hujan berukuran sebesar lemari? Setiap kali hujan turun, akan banyak rumah sakit yang kewalahan menerima pasien, dan toko perabotan yang menjual lemari akan laris.

3. Mementingkan proses

Dalam setiap 1 km3 (kilometer kubik) air laut terdapat 50 kilogram emas (Au) dalam bentuk aslinya. Hal itu menunjukkan bahwa dibalik kesederhanannya, air menyimpan “nilai” yang sangat berharga. Tetapi air juga adalah “penjaga” yang sangat unik. Emas itu dapat diidentifikasi, diukur, serta dinilai, tetapi sangat sulit sekali untuk dipisahkan atau dimurnikan. Bayangkan di bumi terdapat 1,3 milyar kilometer kubik air laut. Namun, dengan arifnya air membiarkan emas itu tidak tersentuh.

Sebenarnya, potensi apa pun tidak akan mampu menghasilkan manfaat yang optimal tanpa proses yang benar dan sistematis. Sangat dekat dilihat, namun tidak dapat dinikmati. Dengan demikian, air mengajari kita bahwa yang namanya berproses adalah fardhu a’in, suatu kewajiban personal yang harus kita lakukan. Tampaknya, kita sebagai kaum milenial harus belajar kepada air, mengingat di sini banyak hal yang dilakukan para pemuda tanpa proses yang benar. Budaya instan semakin merajalela di hampir setiap sektor kehidupan.

Baca Juga  Perdebatan Akar Rumput Versus Elite Muhammadiyah dalam Penanganan Covid-19
4. Tidak Merasa Memiliki

Air mencontohkan pola interaksi yang tidak saling memanipulasi dan menyakiti. Ketika kita melepaskan zat lalu larut dalam dirinya, dengan ikhlas ia melepaskan sesuatu yang bukan miliknya. Rasa nirkepemilikan serta kaffah menjalankan peran tersebut yang menyebabkan air tidak pernah menyakiti mitra interaksinya.

Coba kita bandingkan dengan diri kita sendiri. Ketika berhubungan dengan orang lain, khususnya yang menyangkut cinta dan kasih sayang, dengan egoisnya kita akan segera mengubahnya menjadi sebentuk kepemilikan. Sebentuk ikatan yang tidak simetris karena telah didominasi oleh tuntuan kenyamanan sepihak. Rasa kepemilikan akan memunculkan rasa takut kehilangan.

Perpisahan bagi seorang manusia, apa pun bentuknya dan apa pun objeknya, selalu terasa menyakitkan. Mengapa? Sebab, sejak awal kita sudah berlari menghindarinya. Ketika rasa itu masih berupa riak-riak kecil, justru kita enggan menyelaminya. Air mengajari kita agar selalu siap menghadapi kenyataan. Air pun mengajari kita konsep kepemilikan, yaitu semua yang ada pada diri kita adalah pinjaman belaka.

5. Fleksibel dan Menciptakan Harmoni

Air mengajari kita fleksibilitas, sebuah molekul air dapat menjalin hubungan harmonis dengan dua jenis ion yang memiliki karakteristik berbeda. Kemampuan “merangkul” semua golongan ini tampaknya mutlak kita pelajari. Mengapa? Kita harus mengembangkan pola interaksi “melingkar” seperti air, baik ke dalam maupun ke luar dapat berjalan dalam waktu yang bersamaan.

Kepentingan internal kita dapat bersinergi dengan kepentingan unsur-unsur lain di luar kita. Ikatan ion dapat terjadi apabila air bertemu dengan sebuah molekul yang bermuatan negatif (anion) dan ion bermuatan positif (kation). Seperti dalam proses pelarutan garam dapur. Sisi positif air akan berinteraksi dengan sisi negatif ion (Cl-). Demikian pula sisi negatif air akan berkaitan dengan ion natrium.

Di sini, air berfungsi pula sebagai perekat, pemimpin, dan koordinator dari sebuah orkestrasi unik ionik. Inilah peran air yang menjadi “juru damai” kepentingan yang senantiasa menerpa dan menjadi bagian dari keseharian hidup kita. Dua hal yang semula bermusuhan dan bertolak belakang, berkat peran mediasi air akan dapat mengoptimalkan fungsinya masing-masing.

Hikmah

Kita kerap melihat sesuatu hanya dari satu sudut pandang, tanpa mau melihatnya dari sudut pandang lain. Padahal, banyak hikmah yang dapat kita petik dari sifat air. Lihatlah dari perspektif lain, niscaya kita akan mendapatkan butir-butir hikmah yang sangat membantu kita para kaum milenial dalam proses mendewasakan. Kehidupan air memberikan kita contoh yang sangat baik apabila kita mau merenungkannya.

Editor: Lely N

Print Friendly, PDF & Email
1 posts

About author
Mahasiswa ITB Ahmad Dahlan
Articles
Related posts
Perspektif

Cara Kiai Ahmad Dahlan Melatih Kepekaan Murid

4 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Salah satu ajaran Kiai Ahmad Dahlan yang kemudian menjadi inspirasi lahirnya amal usaha Muhammadiyah adalah ketika Kiai…
Perspektif

Toleransi Positif dan Negatif ala Peter L. Berger

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Negeri kita adalah negeri yang selalu bertikai mengenai konsep toleransi, khususnya perdebatan antar kelompok muslim mengenai sejauh…
Perspektif

Memimpin adalah Mengelola Perubahan

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Frasa ini acap kali penulis sampaikan ketika menyampaikan sambutan atau amanat yang mengiringi upacara pelantikan pimpinan atau…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *