Akui Sajalah, Kita Memang Kurang Mengenal Rasulullah SAW

 Akui Sajalah, Kita Memang Kurang Mengenal Rasulullah SAW
Ilustrasi Nabi. Sumber: Penulis            

Dalam sebuah seminar parenting beberapa tahun lalu di sekolah anak saya, pembicara melemparkan pertanyaan untuk kuis berhadiah door prize, “sebutkan nama-nama anak Ahmad Dhani!” Riuh jawaban peserta yang seakan disetel seragam. Dari mulut saya juga terlontar jawaban spontan: “Al, El, dan Dul.”

Lanjut pertanyaan kedua, “sebutkan nama-nama anak Rasulullah SAW!” Hening sesaat, hingga kemudian ada beberapa peserta seminar yang mengangkat tangan dan menjawab. Sedikit sekali jumlahnya dibandingkan jumlah seluruh peserta yang hadir.

“Ketahuan ya, kalau kita lebih kenal keluarga artis dibanding keluarga Rasulullah.” Demikian sindiran bapak pembicara yang makjleb banget dan membuat saya kepingin noyor kepala sendiri.

Ramadhan ini, rasanya saya kepingin sekali lagi noyor kepala sendiri. Tahun ini, keluarga kami tak lagi menonton sinetron yang bertahun-tahun selalu setia menemani sahur kami. Entah karena dorongan apa, kami lebih memilih untuk menonton serial sejarah berjudul “Omar” yang diproduksi dan disiarkan oleh MBC1. Serial ini bercerita tentang kehidupan Umar bin Khaththab RA, khalifah kedua.

Omar sendiri sebenarnya bukan serial baru, sudah beberapa tahun ini tayang di televisi kita ketika Ramadhan. Saya sendiri pun ternyata pernah membeli VCD-nya. Hanya saja, sejak membeli beberapa tahun lalu sampai sekarang, VCD itu masih setia mojok di rak lemari dan belum pernah sekali pun saya setel. Harap maklum, di dunia ini memang ada jenis manusia yang hobinya membeli ini itu untuk kemudian lupa menggunakannya.

Serial Omar mengingatkan saya pada sindiran bapak pembicara di seminar parenting beberapa tahun lalu itu. Bicara tentang Umar bin Khaththab, tentu tak lepas dari Rasulullah SAW. Lewat Omar, sedikit banyak kita belajar sejarah hidup Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Di serial ini, kemunculan tiap tokoh sering disertai penjelasan nama tokohnya. Semacam serial Detektif Conan yang setiap kali muncul tokoh baru, di bawahnya terdapat tulisan yang menjelaskan nama, umur, dan deskripsi singkat si tokoh. Penjelasan ini sangat membantu, apalagi untuk saya yang beranggapan bahwa wajah semua orang Arab itu sama saja. Masalahnya, setiap kali ada tokoh baru datang, kami sering bertanya satu sama lain. Apa bedanya Abu Lahab dan Abu Jahal? Hamzah itu siapa? Hindun itu siapa? Kenapa Hindun begitu membenci Hamzah? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu.

Duh, rasanya pengen teriak pada diri sendiri, “Wooi! Kamu ke mana ke mana saja selama ini?” Meski dengan berat hati, harus kita (eh saya) akui bahwa pengetahuan kita tentang sejarah hidup Nabi Muhammad SAW selama ini ternyata cetek sekali.

Bertahun-tahun belajar agama di sekolah formal, pengetahuan kita tentang Rasulullah SAW tak lebih dari lagu yang populer dinyanyikan anak-anak.

Abdullah nama ayahnya, Aminah ibundanya

Abdul Muthalib kakeknya, Abu Thalib pamannya

Khadijah istri setia, Fatimah putri tercinta

Berpuluh tahun kemudian, ketika saya mendampingi belajar anak saya yang masih kelas 1 SD pun, pelajaran Agama Islam ya masih begitu-begitu saja.

Sebutkan gelar Nabi Muhammad

Pada usia berapa Muhammad diangkat menjadi Rasul?

Siapa nama ibu susu Rasulullah?

Masih berkutat pada pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Di rumah, saya menyediakan buku-buku, termasuk Sirah Nabawiyah, untuk anak-anak, tapi saya belum menemukan metode yang pas agar anak-anak tertarik dan antusias membacanya.

Ngaku saja, siapa yang baru tahu kalau Rasulullah SAW ternyata punya kisah cinta romantis dengan Aisyah RA setelah mendengar lagu yang sedang booming itu, “Aisyah Istri Rasulullah”? Iya, yang di bagian main lari-lari sama cubit hidung itu. Lewat lagu itu pula, teman saya ada yang mengaku baru tahu kalau Aisyah ternyata adalah anak Abu Bakar. Di balik semua kontroversinya, lagu Aisyah Istri Rasulullah ternyata lumayan berhasil memperkenalkan sedikit narasi sejarah kehidupan Rasulullah SAW yang tak banyak orang tahu.

Serial Omar pun, di luar semua kontroversinya, buat saya cukup bagus untuk memperkenalkan kepada keluarga kami secuil sejarah hidup Rasulullah SAW. Setidaknya anak kami jadi tahu mana sahabat dan mana musuh nabi, tahu bahwa Islam di masa awal penyebarannya harus dihadapi dengan peperangan demi peperangan, dan dalam peristiwa-peristiwa itu banyak pelajaran yang bisa diambil.

Kemarin, di timeline FB saya seorang teman membagikan sebuah link Youtube bagus. Channel milik  Komika Abdur Arsyad, yang selama Ramadhan ini membahas tentang 30 tokoh jahiliyah. Setiap hari Abdur mengupas satu per satu tokoh jahiliyah secara singkat dengan gayanya yang ringan.

Di tengah konten prank dan konten sampah lainnya, konten seperti ini ibarat oase di padang pasir. Tak cuma sahabat-sahabat nabi, kita pun perlu mengenal musuh-musuh nabi untuk kemudian menyadari bahwa tipe-tipe manusia dari masa ke masa sebenarnya hanyalah bentuk pengulangan saja.

Lewat channel ini saya baru mengetahui bahwa Rasulullah SAW ternyata punya tetangga yang menyebalkan bernama Uqbah bin Abu Mu’ith. Di kolom komentarnya, saya temukan komentar yang mengharukan, “Saya 25 tahun jd muslim..baru tau kisah ini…trimakasih brother.” Sebuah pengakuan yang mewakili perasaan saya.

Di status terbaru Ustadz Mohammad Fauzil Adhim yang hari ini membahas Umar bin Khaththab saya juga menemukan fakta menarik. Sebuah lingkaran hubungan kekeluargaan yang unik dari Rasulullah, Umar, dan Ali karena Umar adalah menantu Ali bin Abi Thalib, Ali adalah menantu Rasulullah SAW, dan Rasulullah SAW adalah menantu Umar.

Banyak jalan mengenal Rasulullah SAW. Lewat buku, film, video, komik, lagu dan lain sebagainya. Meski mungkin sedikit terlambat, semoga upaya-upaya yang tak seberapa ini dihitung sebagai usaha untuk lebih mengenal Rasulullah SAW. Menyelami sejarah hidupnya dan meneladani meski hanya secuil sunnahnya, tak hanya sekedar menghapal silsilah keluarganya.

Editor: Arif


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis dan editor yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
Mandiri 137-00-5556665-3
A.n Litera Cahaya Bangsa

Fatma Ariana

Author. Kadang-kadang Auditor. Tinggal di Magetan

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lost your password? Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.