Falsafah

Al-Ghazali & Kekuasaan (2): Kewajiban dan Pembagian Waktu Kepala Negara

3 Mins read

Dalam kitab Al-Tibr al-Masbuk fi Nashihat al-Muluk diceritakan tentang seorang penguasa yang telah kehilangan kekuasaannya pernah ditanya, “Apa sebab kekuasaanmu lenyap dan berpindah ke orang lain? Aku tertipu oleh kekuasaan, kekuatan, dan kesenanganku akan pendapat dan pengetahuanku. Aku melupakan musyawarah dan menyerahkan kekuasaan kepada para petugas yang tak berpengalaman, melupakan petugas senior dan berpengalaman.”

“Aku telah menyia-nyiakan peluang dan kesempatan yang tepat, tidak banyak berpikir tentang peluang itu, dan tiada pula melaksanakan pada saat yang diperlukan. Aku kurang tanggap pada tempat yang harus siap segera, dan kurang cepat menggunakan kesempatan dan kesibukan untuk memenuhi segala keperluan.”

Ditanyakan pula, “Apakah yang paling menimbulkan keburukan?” Para utusan (delegasi) yang tidak jujur, yaitu orang-orang yang berkhianat dalam menyampaikan risalah, hanya karena kepentingan perut mereka. Betapa banyak kerajaan yang menjadi hancur karena ulah mereka.”

Sebaik-baik penguasa adalah orang yang pandangannya tajam bak burung rajawali. Sedangkan, orang-orang yang berada di sampingnya memiliki kecerdasan serupa. Bagaikan banyak burung rajawali, bukan seumpama bangkai. Artinya, jika seorang penguasa memiliki pandangan cemerlang dan dapat mengetahui segala hal, sementara para pendampingnya dan para pejabat teras kerjaan memiliki pandangan serupa, maka sempurnalah segala urusan pemerintahannya, dan tegaklah segala urusan penduduk negeri.

Tanda-Tanda Kekalnya Sebuah Kekuasaan

Beberapa tanda penguasa yang akan kekal kekuasaannya: pertama, menghidupkan akal dan agama dalam hatinya. Supaya rakyat menaruh simpati kepadanya.

Kedua, pemikirannya logis dan realistis. Ketiga, cinta ilmu pengetahuan, sehingga dikenal di kalangan kaum cerdik pandai. Keempat, memiliki keutamaan dan rumah yang besar, sehingga mendapat penghormatan dari orang-orang yang memiliki keutamaan.

Kelima, mendidik orang-orang yang suka membesar-besarkan kelemahan orang lain dari

Baca Juga  Relasi Agama dan Negara Menurut Imam Al-Ghazali

pemerintahannya. Sehingga, ia terhindar dari caci maki. Setiap penguasa yang tidak memiliki beberapa kriteria di atas. Ia tidak akan memperoleh kebahagiaan dalam pemerintahannya. Sebaliknya, berbagai kendala dan hambatan akan meruntuhkan kekuasaannya.

Tanda seorang yang berjaya dan dapat mengalahkan musuh ialah seorang raja yang fisiknya kuat, diamnya bermakna, pendapatnya selalu direnungkan, dan dipertimbangkan dengan hati, bersikap rasional dalam pemerintahannya, hatinya mulia, dicintai rakyatnya, sayang terhadap para pegawainya, belajar dari sejarah, dan konsisten terhadap agama dan keputusannya.

Setiap penguasa yang memiliki sifat-sifat di atas dan direalisasikan dalam kenyataan. Ia akan berwibawa dan ditakuti oleh semua musuh dan tak seorang pun dapat menemukan peluang untuk mengkritik atau memakinya.

Jika seorang raja memandang segala daya dan upayanya bergantung kepada kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa, dia akan memperoleh kemenangan. Kendati pun musuhnya kuat. Contohnya adalah kisah yang diabadikan oleh Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 249.

Empat Kewajiban Para Penguasa

Syahdan, ada empat hal yang merupakan kewajiban para penguasa. Pertama, menjauhkan orang-orang bodoh dari pemerintahannya. Kedua, membangun negeri, merekrut orang cerdas dan potensial. Ketiga, menghargai orang tua bijak. Keempat, melakukan uji coba dan meningkatkan kemajuan Negara dengan melakukan penertiban dan pembersihan terhadap segala tindakan kejahatan.

Seorang penguasa tidak dibenarkan menyerahkan jabatan menteri maupun jabatan penting lainnya kepada orang yang bukan ahlinya. Jika ia meyerahkan, maka ia telah menghancurkan pemerintahannya. Orang yang shiddiq ada tiga: para nabi, para raja, dan orang-orang yang gila (sakr).

Sakr diartikan dengan gila, padahal yang sesungguhnya takut mabuk. Sebab mabuknya orang gila bersifat batin. Sedangkan gilanya orang yang mabuk bersifat lahir. Sungguh celaka bagi orang yang selalu dalam keadaan mabuk dan lalai.

Baca Juga  Al-Madinah Al-Fadhilah, Filsafat Tata Negara Al-Farabi

Pembagian Waktu Kepala Negara

Para kepala negara terdahulu membagi waktunya siang hari menjadi empat jadwal. Pertama, dipergunakan untuk kebaktian dan menyembah Allah. Kedua, dipergunakan untuk memberikan pelayanan kepada rakyat, memberikan perlindungan dan keadilan kepada orang-orang yang teraniaya, juga dipergunakan untuk berbincang-bincang dengan ulama dan kaum cerdik pandai, dipergunakan pula untuk mengatur segala hal yang berkaitan dengan siasat negara. Seperti merealisasikan program dan pelbagai ketetapan pemerintah, menulis buku-buku, dan mengirimkan utusan diplomatik.

Ketiga, dipergunakan untuk makan, minum, mencari bekal dunia, dan rekreasi. Keempat, dipergunakan untuk berolah raga, seperti main catur, bola, dan lainnya.

Aristoteles berpendapat, pengayoman Tuhan tertuang dalam 16 hal. Yaitu, akal, ilmu, kecerdasan dan ketajaman analisis, rupa yang sempurna, keahlian menunggang kuda, keberanian, kemajuan, sikap tenang, berbudi luhur, adil kepada orang yang lemah, cinta rakyat, kepemimpinan yang menonjol, ulet, disiplin, banyak ide, bisa mengatur segala macam persoalan, banyak membaca kisah-kisah kehidupan dan perjalanan para raja, dan meneliti sifat-sifat dan perbuatan yang menjadi pegangan para raja.

Tentunya, etika politik menuntut kepada pemegang kekuasaan, agar pemerintahan dijalankan sesuai dengan hukum yang berlaku (legalitas), disahkan secara demokratis dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar moral.

Ketiga tuntutan itu dapat kita sebut sebagai normatif atau etis, karena berdasarkan keyakinan bahwa, kekuasaan hanya sah secara etis dalam artian kekuasaan hanya sah apabila dijalankan sesuai dengan tiga tuntutan tersebut. Proses legitimasi etis menuntut ketaatan nyata dari pihak pemegang kekuasaan, maka sistem politik yang berdasarkan paham legitimasi etis kekuasaan mengembangkan berbagai pengontrol secara nyata menunjang tuntutan legitimasi etis.

Print Friendly, PDF & Email
22 posts

About author
Santri/Mahasiswa Fakultas Hukum Islam, Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo
Articles
Related posts
Falsafah

Bagaimana Filsafat Membicarakan Pendidikan?

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Pendidikan adalah proses pembentukan cara berpikir, karakter, dan mental manusia. Di mana setiap peserta didik memiliki kognisi…
Falsafah

Bagaimana Kahlil Gibran Menjelaskan Eksistensialisme Romantik?

4 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Kajian sastra dan filsafat merupakan dua kajian yang saling berkesinambungan dalam hal penafsiran realitas. Dalam buku “Filsafat,…
Falsafah

Kenapa Gerakan Sosial Profetik Susah Gapai Tujuannya?

4 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Diskursus mengenai Ilmu Sosial Profetik masih belum mendapatkan benang merah yang terang baik pada persoalan relevansi maupun…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *