Tafsir

Al-Quran Pendorong Amal, Bukan untuk Ngomel

2 Mins read

Sebelum ini, sudah diulas kiat-kiat mengaji Al-Quran yang diajarkan KH Ahmad Dahlan, pendiri Persyarikatan Muhammadiyah. Mengikutinya diharapkan Al-Quran dapat benar-benar menjadi hudan dan mendorong untuk beramal. Dengan demikian, di samping mendapat pahala, kita dapat mengasup ilmu dan hikmah dari firman-firman Allah itu, dan Islam lambat laun hadir sebagai system of belief sekaligus juga way of life.

M Quraish Shihab, dalam sebuah perbincangan bersama Najwa Shihab, menyatakan bahwa membaca dan memahami sepuluh ayat itu lebih baik daripada membaca satu surah tanpa paham isinya. Tadarus, tutur pakar tafsir itu, bukan hanya membaca bersama atau mendengar, tetapi juga menyimak apa makna dari yang dibaca.

Al-Quran terdiri atas 30 juz dan 114 surah. KH Ahmad Dahlan tentu mengimani itu. Namun, di antara semua firman Allah itu, terdapat 17 kelompok ayat Al-Quran yang kerap dibaca, dihayati, diajarkan, dan dipraktikkan KH Ahmad Dahlan. KRH Hadjid, santrinya yang termuda, mencatat 17 kelompok ayat Al-Quran yang dimaksud adalah:

  • Al-Jatsiyah ayat 23
  • Al-Fajr ayat 17-23
  • Al-Ma’un ayat 1-7
  • Ar-Rum ayat 30
  • At-Taubah ayat 34-35
  • Al-Ashr ayat 1-3
  • Al-Ankabut ayat 1-3
  • Al-Kahfi ayat 110 dan Az-Zumar ayat 2
  • Yunus ayat 108, Al-Kahfi ayat 29, Muhammad ayat 3, Al-An’am ayat 116, Al-Furqan ayat 44, Al-Anbiya’ ayat 24, Yunus ayat 32, As-Shaff ayat 9, Al-Baqarah ayat 147, Al-Anfal ayat 8, Al-Isra’ ayat 81, Al-Mu’minun ayat 70, dan Al-Jatsiyah ayat 27
  • Al-Ashr ayat 3
  • Ali Imran ayat 142
  • Al-An’am ayat 162-163
  • Ali Imran ayat 92
  • Al-Qari’ah ayat 6-11
  • As-Shaff ayat 2-3
  • At-Tahrim ayat 6
  • Al-Hadid ayat 16

Setiap pelajaran disampaikan KH Ahmad Dahlan sedikit demi sedikit. Jika satu tingkat pelajaran belum diamalkan, tidak akan dilanjutkan ke pelajaran berikutnya. Dalam pandangan KH Ahmad Dahlan, pelajaran terbagi atas dua bagian. Pertama, belajar ilmu, yang meliputi pengetahuan atau teori. Kedua, belajar amal, yaitu mengerjakan atau mempraktikkan apa yang sudah diketahui (Hadjid, 2013).

Baca Juga  Konsep Manusia dalam Al-Qur'an

Ada kisah populer. Dalam pengajian rutin, KH Ahmad Dahlan menyampaikan tafsir surah Al-Ma’un berulang-ulang selama beberapa hari. Salah satu muridnya, yaitu Syuja’, protes kenapa materi pengajian tidak ditambah-tambah. KH Ahmad Dahlan lantas bertanya,, apakah sudah benar-benar mengerti maksud surah itu? Seluruh muridnya menjawab bahwa mereka bukan saja mengerti, melainkan sudah hafal di luar kepala.

KH Ahmad Dahlan bertanya lagi, apakah isi surah Al-Ma’un sudah diamalkan? “Apanya yang diamalkan?” jawab muridnya, “bukankah surah itu sudah sering dibaca saat menunaikan shalat.”

Tetapi, rupanya bukan sekadar itu yang dimaksud mengamalkan. KH Ahmad Dahlan kemudian perintahkan para muridnya mencari orang miskin dan anak yatim di sekitar rumah masing-masing untuk dibawa pulang dan dicukupi segala kebutuhan mereka.

Begitulah setiap kali pengajian, sehingga pada urutannya, lahirlah rumah miskin, panti asuhan yatim piatu, rumah orang telantar, dan rumah sakit. Bagi KH Ahmad Dahlan, pengetahuan memang belum berarti apa-apa kecuali telah melahirkan amal nyata. Bahkan, surah Al-Ashr yang pendek itu dibaca, direnungkan, dan diajarkan KH Ahmad Dahlan hingga sekitar tujuh bulan lamanya.

KH Ahmad Dahlan adalah man of action alias manusia amal. Tidak gemar berpikir muluk-muluk tentang agama atau ngomel-ngomel kalau ternyata nol pengamalan. Ungkapannya yang viral berbunyi, “Janganlah kamu berteriak-teriak sanggup membela agama meski harus menyumbangkan jiwamu sekalipun. Jiwamu tidak usah kamu tawarkan. Kalau Tuhan menghendaki, entah dengan jalan sakit atau tidak, tentu akan mati sendiri. Tetapi beranikah kamu menawarkan harta bendamu untuk kepentingan agama? Itulah yang lebih diperlukan pada waktu sekarang ini” (Salam, 1968).

Sering KH Ahmad Dahlan mengibaratkan, orang yang mengerti betul cara mencuri tidak lantas disebut sebagai pencuri sebelum dia benar-benar mencuri. Dengan demikian, menjadi seorang Muslim sejati tidak cukup hanya dengan menguasai berbagai pengetahuan tentang Islam, tetapi harus benar-benar mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan keseharian. Karena Al-Quran itu sebenarnya pendorong bagi manusia untuk beramal, bukan untuk ngomel-ngomel.

Baca Juga  Karakteristik Tafsir At-Tanwir (3): Membangkitkan Etos

Editor: Arif

Print Friendly, PDF & Email
11 posts

About author
Kandidat Doktor di International Islamic University Malaysia (IIUM), anggota Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia
Articles
Related posts
Tafsir

Surat Al-Waqiah: Kaitan Hari Kiamat dengan Rezeki

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Memahami keterkaitan antara pengamalan surat Al-Waqiah dengan rezeki manusia Al-Waqiah, salah satu surat dalam Al-Qur’an yang sudah…
Tafsir

Gempa Cianjur adalah Sunnatullah

5 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Sebagaimana kita ketahui bersama, gempa bermagnitudo 5,6 skala Richter telah mengguncang…
Tafsir

J.M.S Baljon: Tafsir Al-Qur’an Harus Bisa Digiring ke Corak Epistemologis Zaman

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Mungkin agak asing jika kita mendengar nama J.M.S Baljon dalam studi keislaman. Nama ini tidak terbilang baru,…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *