Insight

Alhambra, Borobudur, dan Doktrin “Love for All, Hatred for None”

7 Mins read

Ketika penulis datang mengunjungi Alhambra, ada ketakjuban, kebanggaan, tapi juga kesedihan. Takjub akan keindahan karya seni dan keahlian arsiteknya dalam membangun istana dan benteng itu. Bangga akan kontribusi peradaban yang dulu pernah diberikan oleh umat Islam di Eropa.

Namun ada rasa sedih melihat kodisi umat Islam saat ini dan juga fakta bahwa umat ini terusir dari Spanyol setelah berada di sana lebih dari 700 tahun lamanya. Kok bisa, setelah berada di Eropa dalam waktu yang sepanjang itu kemudian kalah dan tersingkir.

Namun demikian, Alhambra bukanlah satu-satunya kisah pergantian caretaker peradaban, kota, dan negara. Apa yang terjadi dengan Taj Mahal di India dan Hagia Sophia di Turki adalah kisah yang mirip dengan Alhambra, meski dinamika dan afiliasi keagamaan para pelakunya berbeda-beda.

Dari Spanyol Hingga Indonesia

Kisah dan refleksi seorang pemeluk agama yang mirip dengan perasaan penulis ketika berkunjung ke Alhambra, misalnya, pernah diungkapkan seseorang dari India ketika ia melihat Borobudur. Pendeknya, ia meratapi perkembangan dan nasib Hindu dan Buddha di Indonesia.

Dua agama ini pernah menjadi agama yang dominan di Nusantara. Namun kini keduanya merupakan agama minoritas, kecuali di Bali. Pada masa Sriwijaya, Majapahit dan Kediri, peradaban Nusantara adalah peradaban Hindu-Buddha. Borobudur sendiri merupakan salah satu warisan terbesarnya. Kini, itu semua hanya cerita masa lalu.

Cerita lain tentang perubahan fungsi dan caretaker bangunan monumental dari satu agama ke agama lain terjadi pada Hagia Sophia di Istanbul Turki. Tempat ini sebelumnya merupakan Gereja Kristen Ortodoks Yunani yang berubah fungsi menjadi masjid dan kini menjadi museum. Reliks dan mosaik Bunda Maria, Jesus, beberapa orang suci di Kristen bisa ditemukan di berbagai sudut bangunan tersebut, bersandingan dengan kaligrafi Islam.

Bangunan dengan arsitektur Bizantium ini tidak lagi dipakai sebagai masjid sejak 1931. Turki membangun Masjid Sultan Ahmed atau lebih dikenal dengan sebutan Blue Mosque (Masjid Biru) tak jauh dari Hagia Sophia.

Apa yang bisa kita pelajari dari fenomena peralihan kekuasaan terhadap bangunan-bangunan sejarah yang agung itu? Bagaimana menghilangkan kesedihan ketika melihat kejayaan masa lalu yang terenggut dan kini heritage-nya berada di tangah caretaker yang berbeda?

Tulisan ini akan sekilas akan mendeskripsikan secara perbandingan antara Alhambra dan Borobudur. Di bagian akhir kita belajar dari Ahmadiyah tentang bagaimana menghilangkan sakit hati. Motto “Love for All, Hatred for None” yang menjadi slogan gerakan ini pada awalnya dimunculkan sebagai cara untuk mengobati sakit hati, menerima sejarah, memaafkan diri sendiri dan orang lain, dan terutama mentransformasikan kesedihan menjadi sesuatu yang positif.

Istana Alhambra

Alhambra atau al-hamra (Yang Berwarna Merah) adalah bangunan bersejarah yang terdiri dari kompleks istana dengan dikelilingi oleh benteng kokoh. Bangunan ini terletak di sebuah bukit di Granada, Andalusia, Spanyol.

Tempat ini dinamakan Alhambra karena mengacu kepada tiga hal: Pertama, batu-batuan yang dipakai untuk lantai dan dinding yang berwarna kemerah-merahan. Kedua, pendiri dari bangunan ini dikenal dengan sebutan Al-hamra karena memiliki jenggot yang kemerah-merahan, yaitu Muhammad bin al-Ahmar. Dirinya merupakan Amir Granada pada masa kekuasaan Dinasti Bani Nasr di Spanyol.

Baca Juga  Majelis Tarjih dan Tantangan Artificial Intellegent

Ketiga, istilah ini bisa juga mengacu kepada Dinasti Bani Nasr atau Nasrid Dynasty sebagai penguasa yang membangun tempat ini. Di kalangan suku-suku Arab, Bani Nasr dikenal dengan sebutan Bani al-Ahmar. Kelompok ini merupakan bagian dari orang Arab Qahtani (berasal dari Yaman) dari suku Bani Khazraj.

Alhambra ini memiliki beberapa bagian, seperti Palaces of the Ambassadors, Palace of the Lions, dan Mexuar. Bagian utama dari tempat ini selesai dibangun pada abad ke-14 Masehi oleh Yusuf I (1333–1353) dan Muhammed V (1353–1391). Seperti umumnya bangunan Islam di daratan Iberia, konsep dasar dari arsitektuk Alhambra berbentuk segi empat atau quadrangles. Ini yang membedakannya dari bangunan dengan arsitektur Romawi atau Byzantium.

Istana ini banyak dihiasi kaligrafi di dinding-dindingnya. Salah satu yang menonjol adalah kalimat la ghaliba illallah, There is no victor but God” (tidak ada pemenang kecuali Allah). Dalam buku-buku, kaos, dan souvenir yang dijual di sekitar Alhambra, kalimat ini banyak diterjemahkan, yang menurut penulis terasa tidak pas, menjadi “There is no conqueror but God” (tidak ada penakluk kecuali Allah).

Setelah jatuh ke tangah Kristen, ada beberapa penambahan dari Alhambra. Seperti Courtyard of the Palace atau halaman istana yang dibangun oleh Charles V dengan model Romawi.

Proses Pergantian Kekuasaan dan Agama

Meski Alhambra dibangun oleh kerajaan Islam ketika Islam berjaya di Spanyol, namun kini Islam di Negeri Matador hanya masa lalu. Masyarakat sekitar Alhambra tentu saja bukan lagi orang Islam. Sementara itu jumlah umat Islam di Spanyol sangatlah kecil, sekitar dua juta atau empat persen dari total penduduk Spanyol.

Mereka bukanlah sisa-sisa dari umat Islam dari masa kejayaan Islam di sana pada abad pertengahan. Mereka adalah orang-orang baru yang berpindah dari berbagai negara, terutama Maroko, pada masa setelah penjajahan.

Sebelum Reconquista pada 1492, tentu saja Islam merupakan agama yang dominan di Spanyol. Namun setelah Reconquista, sebagian besar dari mereka diusir atau dibunuh atau dipaksa berpindah agama.

Sekitar 100 tahun setelah Reconquista, kembali terjadi pengusiran besar-besaran, mencapai ratusan ribu orang, terhadap keturunan bangsa Arab dan Yahudi yang sudah berpindah agama ke Kristen. Peristiwa yang terjadi pada tahun 1602 dan dikenal dengan sebutan Expulsion of the Moriscos (Spanyol: Expulsión de los moriscos, Catalan: Expulsió dels moriscos) ini merupakan perintah dari King Philip III.

***

Borobudur adalah simbol kebesaran agama Buddha di Indonesia pada masa lampau. Ia adalah monumen Buddha terbesar dan paling menonjol di Asia Tenggara. Candi ini dibangun di Jawa Tengah pada abad ke-7 dan didasarkan pada rencana lantai geometris yang ketat.

Meski dibangun oleh kerajaan Buddha dan ketika Buddha (dan Hindu) dominan di Indonesia, namun kini masyarakat sekitar Candi ini bukanlah pemeluk Buddha. Secara nasional, Buddha merupakan agama minoritas di Indonesia. Hal yang membedakan antara Spanyol dan Indonesia adalah proses bagaimana Islam hilang dari Spanyol dan bagaimana Buddha berubah menjadi agama minoritas di Indonesia.

Berbagai buku sejarah tentang Indonesia tidak ada yang mencatat tentang adanya pengusiran, pembunuhan, dan pemaksaan pindah agama terhadap umat Hindu dan Buddha sebelum penduduk negeri ini menjadi Islam. Catatan-catatan sejarah menunjukkan perpindahan agama itu lebih banyak terjadi secara kultural dan damai. Ini yang membedakan Indonesia dan Spanyol.

Baca Juga  Wajah Ekonomi dan Politik Kini

Hal yang menarik untuk dicatat adalah bahwa tahun jatuhnya tiga tempat itu (Alhambra, Borobudur, dan Hagia Sophia) ke caretaker yang berbeda hampir bersamaan. Hagia Sophia jatuh ke kekuasaan Islam ketika Konstantinopel berhasil direbut oleh Mehmed the Conqueror (Muhammad Sang Penakluk) tahun 1453. Sejak tahun itu Hagia Sophia berubah fungsi dari gereja menjadi masjid. Selanjutnya, sejak 1935 diubah fungsinya oleh Ataturk menjadi museum.

Berbeda dari Turki Usmani, umat Islam menjadi penguasa di Spanyol sejak abad ke-8. Mereka berhasil membangun peradaban di daratan Iberia, terutama di Cordoba, Toledo, Seville dan Granada. Namun kekuasaan umat Islam di daratan Eropa ini akhirnya runtuh.

Harapan Setiap Agama

Satu-persatu kekuasaan dan kesultanan Islam jatuh. Kesultanan yang paling akhir takluk ke tangan Ferdinand dan Isabella adalah Granada. Terkhusus benteng dan istananya yang terkenal dengan nama Alhambra. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1492, 40 tahun setelah Konstantinopel ditaklukkan oleh tentara Islam.

Di Indonesia, Majapahit sebagai kerajaan Hindu-Buddha terbesar mulai pudar pada abad ke-15. Kemudian digantikan oleh kerajaan Demak Islam yang berdiri tahun 1475. Sebelum Majapahit, Hindu dan Buddha telah mewarnai peradaban Nusantara dengan berbagai kerajaan besar seperti Mataram, Kediri, dan Sriwijaya.

Sebagian umat Islam berharap, atau bahkan berupaya, agar Masjid Cordoba, dan sebagian bangunan Alhambra yang sebelumnya berfungsi sebagai masjid, dikembalikan fungsinya menjadi masjid. Seperti terlihat di film 99 Cahaya di Langit Eropa (2013), ada umat Islam yang beradzan di Masjid-Katedral Cordoba yang kini menjadi museum. Tentu sekadar untuk mengekspresikan romantisisme masa lalu dan harapannya.

Tak berbeda dari umat Islam, umat Kristen, terutama dari Yunani, berkali-kali berusaha dan menuntut agar Hagia Sophia dialihfungsikan menjadi gereja. Pada tahun 1919, misalnya, diadakan upacara penyucian di tempat ini dengan dipimpin oleh seorang pendeta militer dari Yunani.

Masjid Ahmadiyah

Doktrin atau motto “Love for All, Hatred for None” (cinta kasih untuk semua, kebencian tidak untuk siapapun) diperkenalkan untuk pertama kalinya oleh khalifah Ahmadiyah yang ketiga, Mirza Nasir Ahmad. Doktrin ini disampaikan pada saat peletakan batu pertama Masjid Basharat di Pedro Abad, Cordoba, Spanyol, pada 9 Oktober 1980 (Lajna Imaillah 1996, 100; Haddad dan Smith 1993, 49; The Review of Religions 2008, 52-3). Ini adalah masjid pertama yang berdiri di Negeri Matador. Terjadi setelah kekuasaan Islam jatuh ke tangan Ferdinand dan Isabella tahun 1492 atau lima abad yang lalu.

Sehari sebelum meletakkan batu fondasi, Nasir Ahmad berefleksi tentang kondisi umat Islam di Spanyol. Dalam sejarahnya, umat Islam telah berada dan memerintah negara itu selama lebih dari tujuh ratus tahun. Tetapi kemudian mereka disapu bersih dari sana.

“Saya merasa mengalami siksaan mental yang luar biasa ketika berkunjung ke sana… Ketika saya pergi ke Granada, apa yang terbersit dalam pikiran saya yang paling dalam adalah bahwa pada masa lalu doa-doa yang dipanjatkan untuk Rasulullah (saw) bergema dari dinding-dinding dan pilar-pilar tempat ini. Sekarang, yang ada justru kutukan-kutukan kepada beliau. Suatu waktu sholawat untuk Nabi (saw) bergema dari dinding dan portal dan sekarang ada kutukan sebagai gantinya. Saya mengalami tekanan yang luar biasa [merasakan kejadian ini],” ungkap Nasir Ahmad.

Baca Juga  Jelang 100 Tahun Majelis Tarjih (Bagian 1)

Untuk menghilangkan tekanan batin yang dirasakannya dan untuk menghentikan kebencian, Nasir Ahmad lantas membangun masjid pertama di Spanyol setelah Reconquista.

Dalam pidatonya, seperti ditulis dalam artikel “’Love for all, hatred for none’: Historical trip to Spain” yang dimuat di The Review of Religions 103 (3/2008): 52, ia menyampaikan, “Islam mengajarkan kita untuk hidup dengan saling mencintai dan kasih sayang, serta untuk selalu bersikap dengan kerendahan hati. Islam mengajarkan kita bahwa tidak ada perbedaan antara seorang Muslim atau non-Muslim. Pesan saya kepada semua orang adalah bahwa kalian harus selalu “Love for All, Hatred for None” (cinta kasih untuk semua, kebencian tidak untuk siapapun)”.

Masjid Basharat ini diresmikan oleh Mirza Tahir Ahmad, khalifah keempat Jemaat Ahmadiyah pada 10 September 1982. Masjid kedua yang dibangun di Spanyol adalah Masjid King Abdul Aziz atau Masjid Marbella yang terletak di Marbella, Malaga yang mulai dibangun tahun 1981. Sekarang, selain kedua masjid tersebut, ada lagi Masjid Abu-Bakr di Madrid, Masjid Umar di Madrid, Masjid al-Andalus di Malaga, Masjid al-Morabito di Cordoba, Masjid Fuengirola di Malaga, dan Mezquita Mayor de Granada di Granada yang terletak di kota tua tak jauh dari Alhambra.

Love for All, Hatred for None

Kembali ke doktrin “Love for All, Hatred for None”, pesan perdamaian dan cinta yang awalnya digunakan sebagai cara untuk mengatasi memori pengusiran umat Islam dari Spanyol ini terus digunakan oleh para pengikut Ahmadiyah untuk merespons diskriminasi dan persekusi yang sering mereka alami. Mereka mengkampanyekan pesan ini melalui berbagai cara seperti situs web, selebaran, kampanye di berbagai transportasi umum, dan sebagainya.

Di Pakistan dan Indonesia, Ahmadiyah telah menggunakan pesan ini sebagai cara dan spirit untuk tetap bersabar dalam menghadapi diskriminasi dan penganiayaan. Mereka juga menekankan untuk tidak melakukan pembalasan terhadap berbagai tindakan tersebut. Pelajaran dari doktrin “Love for All, Hatred for None” adalah bahwa saling menaklukkan dan menghancurkan tempat ibadah itu memang harus diakhiri.

Selain Masjid Cordoba, ada belasan atau bahkan puluhan masjid besar di Spanyol yang berubah fungsi menjadi gereja sejak kekuasaan Islam ditaklukkan oleh kekuasaan Kristen. Sebagian masih mempertahankan bangunan masjid dan hanya diganti beberapa elemen dari tempat ibadah itu, sebagian dari gereja yang lain dibangun di tempat yang sama setelah masjid itu terlebih dahulu diruntuhkan.

Kalau keinginannya ingin menguasai kembali dan saling meruntuhkan, maka aksi saling berbalas ini akan menjadi evil cycle (lingkaran setan) yang tidak memiliki ujung. Jadi, solusinya adalah memang saling memaafkan, Love for All, Hatred for None (cinta kasih untuk semua, kebencian tidak untuk siapapun).

Print Friendly, PDF & Email
7 posts

About author
Profesor Riset di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) | Sejak 2014 menjadi anggota Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) dari Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI). Saat ini mendapat amanah sebagai Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah 2015-2022
Articles
Related posts
Insight

Kesalehan Hibrid: Berislam Gado-Gado ala Milenial

4 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Revolusi industri 4.0 telah mendorong percepatan inovasi teknologi yang mengakibatkan perubahan dahsyat (disrupsi) terhadap kehidupan masyarakat. Masifnya…
InsightPerspektif

Bonus Demografi: Berkah atau Musibah?

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Berdasarkan hasil penelitian terbaru yang dilakukan oleh lembaga pemerhati pertumbuhan beragama dunia yang berpusat di Amerika, yakni…
InsightPerspektif

Wajah Ekonomi dan Politik Kini

4 Mins read
*Diambil dan diolah dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *