back to top
Rabu, Oktober 28, 2026

Ambisi Seleksi Masuk PTN Menurut Pandangan Strukturalisme dan Eksistensialisme

Lihat Lainnya

Sayra Emily Sitorus
Sayra Emily Sitorus
Mahasiswa Jurusan Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia

Rutinitas setiap tahun yang dialami remaja di Indonesia dalam siklus kecemasan massal untuk memperjuangkan diri lulus ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Banyak beredar juga di media sosial, influencer atau selebgram memamerkan rutinitas belajar, cara lulus seleksi Perguruan Tinggi Negeri, hingga cara menentukan skala prioritas untuk belajar dan organisasi. Bahkan beberapa orang juga mengemukakan statement “sebenernya gua cari apa sih di hidup ini” akibat tidak lulus ke universitas yang diinginkan. Mengapa penerimaan PTN bisa berubah dari standar tahapan pendidikan menjadi krisis hidup dan mati bagi remaja?

Di balik pembelajaran siswa di ruang kelas dan di bimbel, yang terjadi bukan hanya mempelajari hal akademik saja, tetapi juga krisis identitas yang mendalam.  Para calon mahasiswa mengalami tekanan mental akibat ketakutan, kecemasan, dan khawatir tidak lulus di PTN. Kegagalan masuk PTN juga sering diartikan sebagai kegagalan menjadi manusia yang sukses. Maka dari itu, kita perlu melihat fenomena ini menggunakan analisis yang bertolak belakang dari Strukturalisme Marxis oleh Louis Althusser dan Psikologi Eksistensial oleh Viktor Frankl.

Apakah ambisi untuk lolos PTN ini merupakan cita-cita mendalam bagi calon mahasiswa atau hal tersebut merupakan penyerahan kedaulatan jiwa remaja kepada sistem ideologis yang merampas hidup mereka?

Dari sisi Strukturalisme Louis Althusser, ambisi ini sama sekali tidak lahir dari keinginan bebas individu. Althusser memperkenalkan konsep Ideological State Apparatuses (ISA) atau Aparatus Ideologi Negara, yaitu lembaga seperti sekolah, keluarga, media sosial, dan industri bimbingan belajar. Pendidikan Indonesia juga membuat narasi tunggal dimana : “Lolos PTN sama dengan masa depan terjamin, gagal PTN sama dengan masa depan suram.” Sekolah dan bimbingan belajar mempresepsikan bahwa nilai ujian adalah ukuran tunggal kualitas diri.

Baca Juga:  Memuliakan Guru untuk Pendidikan Bermutu

Proses dari sisi Althusser ini disebut sebagai interpelasi atau pemanggilan subjek. Dimana saat siswa melihat baliho bimbel terpajang foto siswa yang diterima PTN favorit atau orang tua secara tidak sadar menutut almamater tertentu, siswa tersebut juga terpanggil untuk identifikasi diri sendiri sebagai peserta seleksi. Kehendak bebas siswa terampas oleh struktur kapitalisme, mereka merasa mengiginkan PTN atas kemauan sendiri padahal mereka hanya menjalankan pola yang dijalani setiap tahunnya. Secara tidak sadar mereka sudah mengikuti pola tersebut tanpa mempertanyakannya lagi.

Saat siswa gagal dalam memenuhi struktur tersebut, timbullah rasa yang sangat hampa. Dalam psikologi eksistensial Viktor Frankl, kondisi tersebut merupakan Existensial Vacuum (kehampaan eksistensial). Frankl merupakan psikiater survivor Holocaust dan pencipta logoterapi menegaskan bahwa dorongan paling dasar dari manusia adalah pencarian makna hidup. Saat calon mahasiswa gagal lolos PTN atau gagal menemukan makna hidup dalam proses belajar, mereka melarikan diri menuju Will to Power (pencarian status, kekuasaan, dan pengakuan).

Pengejaran almamater PTN sering berubah menjadi obat bius (sedative) untuk menutup kepalsuan makna tersebut. Banyak siswa tidak peduli mengenai substansi ilmu yang akan dipelajari di bangku kuliah, mereka hanya terobsesi pada label, gengsi sosial, dan validasi publik. Keinginan menggunakan jaket almamater merupakan kebanggaan yang sebetulnya hal tersebut merupakan upaya untuk menutupi ketakutan bawah sadar bahwa tanpa almamater tersebut mereka bukanlah siapa-siapa. Keberadaan mereka terasa sangat hampa jikalau tidak ditopang legitimasi institusional.

Baca Juga:  Karbala: Kekuasaan dan Legitimasi

Di saat itulah terjadi benturan yang sangat tajam antara Strukturalisme dan Eksistensialisme. Althusser menggambarkan manusia sebagai entitas yang sepenuhnya pasif subjek yang selalu terjebak dan dikendalikan oleh struktur tanpa ada jalan keluar. Sebaliknya, Frankl menolak tegas determinisme radikal tersebut. Frankl membuktikan bahwa ditempat paling menindas manapun, manusia tetap akan memiliki satu hal yang tidak bisa dirampas oleh sistem apapun yaitu kebebasan untuk menentukan sikap (Freedom of Attitude).

Nilai raport, skor hasil ujian, dan algoritma seleksi, bahkan tuntutan dari lingkungan tidak memiliki kekuatan mutlak untuk menentukan nilai keberadaan seseorang. Jika Althusser membantu untuk menyadari seberapa masifnya jebakan struktur di luar kendali kita, sebaliknya Frankl memberi kunci untuk seseorang tidak terjebak dalam struktur tersebut. Seseorang tidak perlu menjadi korban pasif dari sistem tersebut, ia selalu memiliki agensi untuk menentukan bagaimana ia dapat merespons setiap tekanan yang ada.

Untuk mengurangi kecemasan tersebut, diperlukan kebebasan eksistensial yang disebut Frankl sebagai Self-Transcedence (pelampauan diri). Langkah pertama dalam skeptisisme Althusserian ini dengan menyadari doktrin “PTN merupakan satu-satunya jalan menuju kesuksesan” hanyalah struktur buatan yang ada dari lingkungan kita. Siswa juga perlu menyadari dan melepaskan keterikaatan eksistensial mereka pada status alamamater dan bimbel.

Langkah berikutnya dengan menyadari arti belajar. Belajar harus dikembalikan pada hakikatnya yaitu proses memperluas wawasan, mengasah nalar kritis, dan memanusiakan manusia, bukan sekadar hasil nilai dari apa yang ada di otak kita. Ketika calon mahasiswa sadar bahwa dirinya lebih bermakna daripada hasil sebuah seleksi atau pengumuman, ia tidak lagi memiliki kecemasan atau ketakutan yang berlebihan atas sebuah penolakan, tetapi sadar akan potensi yang dimiliki.

Baca Juga:  Buka MPLS Ramah 2026, Mendikdasmen Minta Sekolah Bebas Perpeloncoan dan Senioritas

Kampus seperti Perguruan Tinggi Negeri hanya sebuah media belajar dan menambah wawasan, PTN bukanlah penentu kesuksesan ataupun kegagalan hidup kita. Kebebasan dan kedewasaan yang remaja miliki bukan dihitung dari warna alamamater yang dikenakan saat kuliah, tetapi keberanian untuk percaya diri pada diri sendiri bahwa “Eksistensiku lebih berharga daripada aturan manapun yang mencoba mengukurnya.” Dan proses lebih berarti daripada hasil yang ada. Karena proses menentukan hasil yang akan kita dapatkan.

Editor: Ikrima

Peristiwa

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru