back to top
Rabu, Oktober 28, 2026

Ketika Saham Jatuh, Emas Melemah, dan Bunga Tak Lagi Menjaga Daya Beli

Lihat Lainnya

Zulfikar Adib Agamawan
Zulfikar Adib Agamawan
Mahasiswa Manajemen Universitas Muhammadiyah Gombong

Ada masa ketika nasihat investasi terdengar sederhana, “sebagian uang ditempatkan di saham untuk pertumbuhan, deposito untuk keamanan, dan emas untuk menjaga nilai kekayaan”. Namun, ketika pasar bergerak penuh ketidakpastian, nasihat tersebut tidak lagi sesederhana itu. Di Indonesia, IHSG hingga akhir September 2026 berada di level 6.071,14, turun sekitar 29,79 persen dibandingkan akhir 2025. Pelemahan bahkan terjadi di seluruh sektor saham di BEI.

Emas yang selama ini dianggap sebagai safe haven juga tidak selalu mampu menjadi pelindung ketika pasar bergejolak. Setelah mencapai titik tertinggi pada awal 2026, harga emas dunia dan lokal mengalami tren penurunan dari puncaknya hingga Oktober 2026. Sementara itu, menyimpan uang di perbankan menghadapi persoalan lain. Inflasi Indonesia pada September 2026 mencapai 3,28 persen secara tahunan, sedangkan suku bunga deposito satu bulan pada Juni 2026 sekitar 4,76 persen. Secara nominal memang lebih tinggi dari inflasi, tetapi setelah memperhitungkan pajak dan karakteristik produk, keuntungan riil yang diperoleh tidak selalu besar.

Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan lagi “aset apa yang paling aman?”, melainkan “bagaimana membangun kekayaan yang tetap bertahan ketika salah satu jenis aset mengalami tekanan?”

Jangan Mencari Satu Aset yang Menyelesaikan Semua Masalah

Dalam manajemen keuangan, tidak ada aset yang kebal terhadap semua risiko. Saham menghadapi risiko pasar, obligasi menghadapi risiko suku bunga dan kredit, deposito menghadapi inflasi, emas menghadapi volatilitas harga, sedangkan properti menghadapi persoalan likuiditas dan biaya transaksi. Bahkan uang tunai pun kehilangan daya beli ketika inflasi meningkat.

Karena itu, hedging tidak seharusnya dipahami sekadar mencari aset yang naik ketika aset lain turun. Yang lebih penting adalah membangun kombinasi aset dengan sumber risiko yang berbeda.

Baca Juga:  Sektor Pariwisata: Devisa Menurun Akibat Pandemi COVID-19

Pertama, aset likuid. Sebagian kekayaan perlu ditempatkan pada instrumen yang mudah dicairkan. Tujuannya bukan mengejar keuntungan tertinggi, tetapi agar kita tidak terpaksa menjual saham, emas, atau aset produktif ketika nilainya sedang turun hanya karena membutuhkan uang. Dana darurat, misalnya, memiliki fungsi berbeda dengan dana investasi. Likuiditas dengan demikian merupakan bagian dari perlindungan kekayaan.

Kedua, aset yang menghasilkan arus kas. Dalam ketidakpastian, kita sering terlalu fokus bertanya apakah harga suatu aset akan naik atau turun. Padahal pertanyaan yang tidak kalah penting adalah apakah aset tersebut mampu menghasilkan pendapatan. Usaha, properti produktif, kebun, peralatan produksi, atau kepemilikan pada bisnis yang sehat dapat menjadi sumber arus kas. Tentu semuanya memiliki risiko, tetapi sumber risikonya berbeda dari sekadar fluktuasi harga saham.

Ketiga, aset riil yang memiliki manfaat ekonomi. Pangan, tempat tinggal, energi, dan lahan produktif berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Namun, tidak setiap tanah atau properti otomatis menjadi investasi yang baik. Properti dapat tidak produktif, sulit dijual, atau membutuhkan biaya perawatan yang besar. Karena itu, yang dicari bukan sekadar aset fisik, melainkan aset yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat produktif.

Keempat, instrumen pendapatan tetap dan syariah. Ketika pasar saham bergejolak, sebagian kekayaan dapat ditempatkan pada instrumen dengan karakter risiko berbeda, termasuk sukuk atau instrumen pasar uang syariah yang sesuai dengan profil risiko dan kebutuhan likuiditas. Namun, instrumen tersebut juga tidak boleh dianggap selalu naik ketika saham turun. Penelitian IMF menunjukkan bahwa hubungan saham dan obligasi tidak selalu stabil. Karena itu, diversifikasi harus didasarkan pada pemahaman terhadap sumber risiko, bukan sekadar memperbanyak jenis produk.

Baca Juga:  Islam dan Budaya Lokal; Bedanya Salafi dan Muhammadiyah!

Ada satu aset lain yang sering terlupakan, yaitu human capital. Kemampuan untuk bekerja, membangun usaha, meningkatkan keahlian, memperluas jaringan, dan menghasilkan pendapatan merupakan aset ekonomi yang sangat penting. Pendidikan, keterampilan, kesehatan, dan reputasi profesional juga merupakan investasi. Sebab, kekayaan bukan hanya apa yang kita miliki hari ini, tetapi juga kemampuan menghasilkan nilai pada masa depan.

Belajar Mengelola Surplus dari Kisah Nabi Yusuf

Menariknya, Al-Qur’an telah memberikan gambaran mengenai pengelolaan sumber daya dalam menghadapi ketidakpastian. Dalam QS Yusuf ayat 47–49, Nabi Yusuf menjelaskan bahwa setelah tujuh tahun masa subur akan datang tujuh tahun masa sulit. Solusinya bukan menghabiskan seluruh hasil panen ketika keadaan sedang baik, melainkan menyimpan sebagian hasil tersebut untuk menghadapi masa sulit.

Jika dibaca dari perspektif manajemen keuangan, terdapat pesan yang kuat, ketika kondisi sedang baik, jangan habiskan seluruh sumber daya untuk konsumsi saat ini. Sebagian perlu disiapkan untuk menghadapi ketidakpastian masa depan. Al-Qur’an tentu tidak sedang memberikan formula investasi tertentu, tetapi mengajarkan prinsip mengelola surplus untuk menghadapi risiko.

Prinsip tersebut sejalan dengan QS Al-Hasyr ayat 18:

“…hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok…”

Ayat ini mengingatkan bahwa keputusan hari ini memiliki konsekuensi bagi masa depan. Dalam bahasa keuangan, kita menyebutnya financial planning. Sederhananya, kita perlu menentukan berapa yang dikonsumsi, disimpan, dan diinvestasikan, sekaligus memahami risiko yang sanggup kita tanggung. Prinsip ini semakin penting ketika budaya self reward membuat kita mudah mengeluarkan uang lebih banyak untuk memenuhi keinginan saat ini.

Baca Juga:  TradeAI dan Babak Baru Transformasi Fiskal Indonesia

Kekayaan sebagai Sebuah Ekosistem

Kita perlu mengubah cara memandang investasi. Ketika saham turun, kita beralih ke emas. Ketika emas terkoreksi, kita melirik deposito. Saat bunga deposito dianggap tidak cukup, perhatian berpindah ke properti atau aset digital. Siklus tersebut tidak akan pernah selesai jika kita terus mencari satu aset yang dianggap mampu menyelesaikan seluruh persoalan keuangan.

Masalahnya bukan pada saham, emas, deposito, properti, atau aset digital. Masing-masing memiliki fungsi dan risiko yang berbeda. Masalah muncul ketika kita mengharapkan satu aset sekaligus memberikan pertumbuhan, keamanan, likuiditas, perlindungan terhadap inflasi, dan pendapatan.

Karena itu, kekayaan yang sehat lebih tepat dipandang sebagai sebuah ekosistem. Ada aset yang diharapkan tumbuh, ada yang menghasilkan arus kas, ada yang mudah dicairkan, dan ada yang melindungi dari risiko tertentu. Ada pula aset yang tidak tercantum dalam laporan portofolio, tetapi sangat menentukan kemampuan kita bertahan, yaitu pengetahuan, keterampilan, kesehatan, jaringan, reputasi, dan kemampuan menghasilkan pendapatan.

Dengan cara pandang ini, investasi bukan lagi perlombaan mencari aset yang harganya paling cepat naik. Tujuannya adalah membangun struktur kekayaan yang mampu menopang kehidupan ketika keadaan berubah. Kita tidak perlu mencari aset yang tidak pernah turun; kita perlu membangun kekayaan yang tidak mudah runtuh ketika salah satu bagiannya mengalami tekanan.

Editor: Ikrima

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru