Mentarbiyah Anak di Masa Bayi - IBTimes.ID
Perspektif

Mentarbiyah Anak di Masa Bayi

4 Mins read

Anak adalah Amanah Allah

Anak dalam perspektif Islam adalah amanah dari Allah SWT. Dengan demikian, semua orang tua berkewajiban untuk mendidik anaknya agar dapat menjadi insan yang sholeh-sholeha dan berilmu yang dilandasi dengan ketaqwaan kepada Rabb-nya.

Hal ini merupakan suatu wujud pertanggungjawaban dari setiap orang tua kepada Khaliknya. Jika demikian, maka pada hakikatnya, pelaksanaan pendidikan anak merupakan amanat besar dari Allah.

Karenanya, kelalaian dan penyelewengan pendidikan dari manhaj yang telah ditentukan merupakan penghianatan terhadap amanat besar itu. Mengingat besarnya tanggung-jawab atas pelaksanaan pendidikan, maka Allah dan Rasul-Nya telah memberikan pertunjuk-petunjuk dalam mendidik anak sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah SAW.

Proses Pendidikan Anak

Rasulullah SAW bersabda: Dari Abi Hurairah r.a, Rasulullah SAW bersabda: Setiap anak lahir dalam keadaan fiitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak itu beragama Yahudi, Nasrani atau Majusi. (HR.  al-Bukhari, Jami’ Shahih al-Bukhari, Juz I, Beirut: Dar al-Fikri, h. 297.

Agar fitrah berkembang tidak menyimpang dari asalnya, maka dalam proses pengembangannya ia memerlukan bimbingan dan arahan yang itu semua dapat berjalan dengan baik melalui proses pendidikan dan pengajaran. Orang tua yang dalam hadits itu disebut berperan membentuk anak.

Dalam arti luas, tentu dalam hal ini tidak hanya sebatas orang  tua yang dapat mempengaruhi perkembangan jiwa anak akan tetapi mencakup seluruh apa yang ada di luar diri anak, seperti lingkungan sekitar, pengetahuan yang ia peroleh melalui indra pendengaran, penglihatan dan lainnya yang diterima anak sejak ia lahir.

Periodisasi Perkembangan Anak

Secara periodesasi perkembangan anak dilihat dari segi keperluan/materi apa kiranya yang tepat diberikan kepada anak pada masa tertentu, serta memikirkan tentang kemungkinan metode yang paling efektif untuk diterapkan di dalam mengajar dan mendidik anak pada masa tertentu atau disebut dengan istilah “didaktis”, masa bayi dimulai dari 0 hingga 2 tahun.

Baca Juga  Spirit Profetik dan Transformasi Pendidikan

Periode ini disebut juga masa asuhan (Nursery) atau masa vital. Pada masa ini, meski belum bisa bicara, namun sebagaimana telah dijelaskan hadis tentang fitrah, anak yang baru lahir telah memiliki potensi akal dan qalb (perasaan) yang siap menerima “materi pengajaran”  melalui indra pendengaran (al-sam’u) dan penglihatan (al-abshar). Berdasarkan hadis-hadis Nabi SAW, berikut ini dikemukakan beberapa hal terkait mendidik anak pada masa bayi.

Pertama, Mengadzankan Anak Ketika Baru Lahir

Dalam sebuah hadis disebutkan: Dari Ubaid Allah bin Abi Rafi’, dari ayahnya berkata, aku melihat Rasulullah SAW melakukan adzan di telinga Hasan bin ‘Aliy ketika Fatimah melahirkannya, dengan adzan sholat (HR. al-Turmudzi, Sunan al-Turmudzi, Juz III, h. 173.

Menurut Kohnstamm, manusia selalu dalam proses pembentukan dan perkembangan, selalu ”menjadi” dan dia tidak akan kunjung selesai terbentuk. Ia tidak akan pernah selesai, walaupun dengan bertambahnya usia ia justru semakin sulit dibentuk dan dirubah.

Maka, proses “menjadi seorang pribadi” itu merupakan tugas yang tidak kunjung selesai dalam kehidupan manusia. Pernyataan ahli psikologi di atas, secara tersirat setidaknya mengandung dua makna penting.

Pertama, betapa urgennya pendidikan dan pengajaran untuk membentuk watak kepribadian seseorang.

Kedua, proses pendidikan dan pengajaran harus dilakukan sejak dini. Sebab semakin betambah usia, watak yang telah terbentuk semakin sulit untuk diubah.

Menurut Islam, proses pendidikan dan pengajaran sudah dapat dimulai sejak lahir. Sebagaimana Nabi SAW memberi contoh melakukan adzan di telinga kanan dan iqamat di telinga kiri pada cucunya Hasan saat baru lahir.

Hal demikian dilakukan oleh Nabi SAW karena anak yang baru lahir fungsi indra pendengaran telah berfungsi. Telah berfungsinya indra anak yang baru lahir ini dinyatakan oleh Al-Qur’an dan terbukti pula secara ilmiah.

Baca Juga  Kritik RUU Cipta Kerja Liberal, Darmaningtyas: Mas Nadiem Tidak Pantas Menjadi Menteri Pendidikan

Allah SWT berfirman: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (Q.S al-Nahl/16: 78)

***

Dari pernyataan Al-Qur’an dan yang dilakukan oleh Nabi SAW dalam hadits di atas, tersirat bahwa pendidikan dan pengajaran dilakukan orang tua dengan melalui metode memperdengarkan sesuatu yang baik pada anak di usia bayi.

Apa yang didengar si bayi, maka itulah yang mulai membentuk jiwa dan mempengaruhi proses potensi fitrah yang terdapat pada dirinya. Islam mengajarkan agar anak yang baru lahir perdengar-kan adzan dan iqamat.

Karena pada keduanya, terdapat kalimat ”syahadatullah” yang seakan-akan mengingatkan kembali akan sumpah dan janji yang telah diikrarkannya sebelum lahir yaitu berjanji akan menyembah dan mentauhidkan Allah SWT.

Di samping itu, dalam hadis lain, hikmah diadzankannya anak yang baru lahir agar terlindungi dari pengaruh kejahatan iblis (setan) yang akan memalingkannya dari fitrah.

Rasulullah SAW bersabda: Dari Husain, Rasulullah SAW bersabda: Siapa yang lahir baginya seorang bayi, kemudian ia azan di telinga kanannya dan beriqamat di telinga kirinya, maka pengikut jin (setan) tidak akan membahaya-kannya. (HR, Abu Ya’la dalam CD Maktabah al-Syamilah, Juz 14, h. 20)

Kedua, Memberi Nama yang Baik dan Mengakikahkan Anak

Tentang memberi nama yang baik bagi anak Rasulullah SAW bersabda: Dari Abi Darda`, Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya kamu pada hari kiamat akan dipanggil dengan nama-nama kamu dan nama bapak kamu, maka bagus (baik)kanlah nama-nama kamu. (HR. Ahmad dalam Al-Musnad, Juz. XVI, h. 63-64).

Memberi nama yang baik, mencukur rambut dan melak-sanakan akikah merupakan bagian lain yang diajarkan oleh Islam pada anak usia bayi. Memberi nama yang baik, karena nama menurut ajaran Islam adalah sebuah panggilan yang mengandung makna doa atau pengharapan.

Baca Juga  Uswah Hasanah Sebagai Falsafah Pendidikan

Dengan demikian pada nama yang baik terdapat harapan dan doa agar si anak menjadi anak yang baik sesuai dengan namanya. Itu berarti sejak bayi, sudah ditanamkan dan menguatkan jiwanya bahwa ia akan menjadi orang yang baik. Demikian pula mencukur sebagian rambut, memberikan pelajaran kebersihan pada anak usia dini.

Ketiga, Mengakikahkan Anak

Adapun tentang melaksanakan akikah, Nabi SAW ber-sabda:  Dari Sulaiman bin ‘Amir al-Dhabiyyi berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: Hak bagi bayi adalah aqiqah. Alirkan darah baginya dan hilangkan penyakit darinya (khitan) (H.R Bukhari dan Ahmad, Juz XIII, h. 533).

Adapun akikah (‘aqiqah/ عقيقة), menurut terminologi Islam adalah memotong atau menyembelih hewan tertentu untuk kepentingan anak yang dilahirkan. Dilihat dari penger-tian ini maka akikah semakna dengan kurban yang tujuannya untuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT.

Selain merupakan bentuk pendekatan (taqarrub) kepada Allah, akikah juga merupakan gambaran kesyukuran dan kegembiraan atas lahirnya bayi yang diisi dengan ketaatan. Ia juga merupakan suatu bentuk solidaritas sosial, karena kaum fakir miskin mendapat jatah dari hewan yang diakikahkan.

Hal demikian untuk memperkokoh tali cinta dan sayang di antara sesama masyarakat. Dengan keberkahannya Allah menghindarkan bayi dan keluarganya dari malapetaka. Tentunya dengan pengharapan semoga Allah menumbuhkannya dengan baik.

Demikian, meski anak di usia bayi belum dapat berfikir dan berbicara tapi secara psikologis anak di usia bayi telah dapat merasakan segala sesuatu yang barasal dari luar dirinya, termasuk apa yang dilakukan orang tuanya.

Memberi nama yang baik, mencukur rambut dan mengakikahkannya secara implisit mengajarkannya untuk menjadi anak yang baik, suka kebersihan, bersyukur dengan ketaatan serta memiliki sifat kepedulian sosial dan kasih sayang kepada orang lain. Wallahu a’lam bishawab.

Editor: Yahya FR

Ali Ridho
7 posts

About author
Penggiat Literasi dan Pendidik
Articles
Related posts
Perspektif

Inside Out: Diri Sendiri yang Nggak Sendirian

4 Mins read
Pernahkan pembaca sekalian mendengar ungkapan “be yourself” atau “ikuti kata hatimu”? Ternyata, ungkapan sederhana ini nggak sesederhana kedengarannya. Bukan karena kita sulit…
Perspektif

Bagaimana Cara Menjadi Kritis Sekaligus Humanis?

4 Mins read
Kritis adalah kata yang semakin sering kita dengar dalam beberapa waktu terakhir. Di media massa, dalam retorika politisi, pada ceramah guru, dan…
Perspektif

Masa Depan Rekomendasi Jakarta 1438/2017

3 Mins read
Rekomendasi Jakarta 1438/2017 – “𝘉𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘳𝘦𝘬𝘰𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘴𝘪 𝘑𝘢𝘬𝘢𝘳𝘵𝘢 2017 𝘪𝘯𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘳𝘪𝘯𝘴𝘪𝘱𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘶𝘱𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯/𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘦𝘮𝘱𝘶𝘳𝘯𝘢𝘢𝘯, 𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘭𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱 𝘬𝘳𝘪𝘵𝘦𝘳𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩…

Tinggalkan Balasan