Anti-Takhayyulisme Tinjauan Manhaj Tarjih - IBTimes.ID
Moderasi

Anti-Takhayyulisme Tinjauan Manhaj Tarjih

5 Mins read

Ada tiga alasan mengapa tema takhayyul perlu ditinjau kembali dan menarik untuk didiskusikan.

Pertama karena Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi “Modernist-Reform”, istilah Reform ini dipakai Haedar Nashir dalam bukunya Muhammadiyah: A Reform Movement. Modernis artinya penganut adaptasi terhadap produk peradaban modern, yang kemudian dirumuskan sebagai kemajuan atau dinamisasi.

Adapun reform artinya memperbarui pemikiran keagamaan dengan kembali ke Al-Qur’an dan sunah, membuka pintu ijtihad dan purifikasi praktik keagamaan. Purifikasi dekat dengan gagasan puritan tapi tidak sama, sebagaimana Nurcholish Madjid membedakan sekulerisasi dan sekulerisme.

Sekulerisasi artinya tidak mensakralkan yang tidak sakral sebagai perwujudan tauhid. Contohnya adalah sistem politik. Karena sistem politik tidak sakral -buktinya pemilihan khulafa rasyidun menggunakan mekanisme berbeda-beda- harusnya masuk kategori masalah dunia, menurut Masalah Lima di Himpunan Putusan Tarjih (HPT). Agama tetap hidup sebagai nilai yang melandasi.

Tetapi, pembicaraan ini cukup riskan karena istilah sekulerisasi sendiri sudah membawa konotasi minor dan menimbulkan polemik panjang hingga melibatkan mantan menteri pertama Departemen Agama, H.M Rasjidi dan debat antara Nurcholish Madjid dengan Daud Rasyid tahun 1992-1993.

Setidaknya, purifikasi tidak sama persis dengan purtanisme meski ada elemen yang sama.

***

Kedua, kita hidup di alam peradaban modern. Ada yang mengatakan bahwa kita sudah masuk era post-modern. Tetapi, Jurgen Habermas berpendapat bahwa yang terjadi adalah revisi dari modernitas. Nyatanya, kita masih hidup dalam hegemoni budaya industri, meski perkembangan teknologi informasi melonggarkan rasionalitas instrumental yang menjadi ciri peradaban modern.

Ketiga, secara tidak langsung, Muhammadiyah juga telah merespon perubahan itu dengan adaptasi paradigma irfani. Paradigma, atau pendekatan, irfani memberi ruang bagi penghayatan lebih dalam keruhanian dan juga kebudayaan.

Tentu irfani ala Muhammadiyah tidak sama dengan gnostik atau mistisisme, tetapi menjadi pengayaan dari pikiran modern dan pembaharuan, dan sekaligus dimoderasi oleh pikiran modern dan pembaharuan. Oleh karena itu, dalam Manhaj Tarjih, irfani tidak lepas dari bayani dan burhani.

Mohammed Abid al-Jabiri menyebut proses saling mempengaruhi antarparadigma itu sebagai al-tadakhkhul al-talfiqi (rekonsiliasi atau akulturasi pardigma). Fase tersebut  adalah fase lanjut dari pertemuan paradigma dalam masa pembentukan masing-masing. Bayani, burhani dan irfani tidak mungkin berdiri sendiri-sendiri.

Takhayyul, antara Mitos dan Logos

Pengetahuan manusia terbagi menjadi dua: mitos dan logos. Keduanya, menurut F. Budi Hardiman dalam Melampaui Positivisme dan Modernisme merupakan saudara kandung cara manusia mengatasi chaos akibat ketidaktahuan. Ketidaktahuan, menurut Charles S. Pierce, menimbulkan doubt (keraguan). Pengetahuan merupakan sarana memberi ketenangan, namun sumber pengetahuan itu tidak tunggal.

Baca Juga  Islam Berkemajuan di Era Masyarakat 5.0

Dalam bahasa agama pun dinyatakan bahwa iman – sebagai perwujudan pengetahuan kita akan makna hidup – akan membawa kepada aman, tidak takut dan tidak sedih (al-An’am 82 dan al Baqarah 62). Agama menyediakan pengetahuan tentang asal dan tujuan hidup serta realitas-realitas supranatural (ghaib) yang membuat kita tenang dalam menjalani hidup.

Mitos adalah cara manusia menjawab ketidaktahuan melalui spekulasi teologis dan metafisik. Dengan definisi ini, kita harus berhati-hati dengan konotasi mitos jika disandingkan dengan agama. Terlebih Al-Qur’an banyak menekankan arti penting rasionalitas pula, yaitu agar manusia berpikir, menggunakan akal dan menjadi ulil albab.

Pengetahuan mitos itu pengetahuan tertua manusia ketika berhadapan dengan alam yang belum dikenali. Ambil contoh gerhana bulan.

***

Gerhana bulan dulu dipahami secara beragam, sehingga ada yang menjelaskan bahwa saat gerhana, matahari ditelan oleh raksasa. Agar raksasa mau memuntahkan matahari, maka penduduk memukul lesung (alat penumbuk padi) sebagai sarana agar raksasa memuntahkan matahari. Bentuk lesung mirip dengan mulut sehingga kalau mulutnya dipukuli dengan perantara lesung maka matahari akan keluar dari mulut raksasa.

Pendekatan untuk mengatasi fenomena alam ini disebut magi, yang bekerja dengan pikiran-analog-spekulati, yaitu menggunakan benda atau ritus sebagai perantara untuk mempengaruhi kekuatan alam.

Dalam pikiran modern di abad pengetahuan dan pencerahan, pikiran demikian disebut mitos atau takhayyul. Pikiran mitos dianggap sebagai pikiran manusia paling purba dan belum mengalami evolusi. Sementara logos (ilmu) menjadi protagonis alam modern.

Dengan percaya diri Auguste Comte, yang hidup sezaman dengan Charles Darwin dan sejalan gagasannya dengan evolusionisme Darwin, menempatkan logos di puncak evolusi akal budi manusia. Menurut Comte, akal budi manusia berkembang dari alam teologis, menuju alam metafisis, dan mencapai tahapan puncak dalam positif. Positivisme adalah alam sains di mana semua realitas dijelaskan melalui pembuktian saintifik agar terungkap sesuai apa adanya realitas itu. Pengetahuan yang benar adalah potret sejati dari realitas.

Modernisme Muhammadiyah dengan Modernisme Barat: Beda

Pada abad modern dan positivistik itulah Muhammadiyah berdiri. Tentu saja warga Muhamadiyah tidak mungkin menjadi penganut positivisme murni karena masalah ghaibiat agama harus diyakini. Namun, harus diakui cara pandang modernis yang sedikit positivistik itu turut membentuk sejarah pemikiran Muhammadiyah.

Baca Juga  Jihad Politik versus Jihad Literasi

Aspek agama dan keyakinan pada “Yang Ghaib” menjadi titik pembeda modernisme Muhammadiyah dengan modernisme Barat, yang melahirkan ilmuwan-ilmuwan sekuler, yang menjadi agnostik atau atheis.

Keyakinan pada sains, keterbukaan akal manusia untuk meneliti, dan berijtihad hingga meneliti agama hingga ke sumber asalnya menjadi etos modernisme Muhammadiyah. Pengetahuan semacam gerhana di atas disebut dengan takhayyul alias mitos. Kecintaan pada ilmu dan abad harapan baru pengetahuan ilmiah mendorong upaya untuk menghindari takhayyul.

Suka atau tidak suka, produk-produk industri, sistem kenegaraan, teknologi, dan kemudahan hidup kita saat ini adalah berkah dari alam modern, dari sains. Dengan hitungan yang jelas, relabilitas pegetahuan maka manusia bisa membuat prediksi dan alat-alat manufaktur. Dahulu butuh waktu berhari-hari untuk pergi ke wilayah jauh. Dengan sepeda motor, kereta, dan pesawat semuanya bisa lebih cepat dan terprediksi. Itu semua lahir dari pikiran modern dan rasionalitas. 

Itulah yang disebut dengan logos, alam rasional-ilmiah. Orang juga menggunakan sistem rasional dalam bernegara. Menjadi kepala negara didasarkan pertimbangan dan mekanisme yang disusun bersama dan dituangkan dalam undang-undang, bukan lagi atas dasar wahyu hukumah atau wangsit.

Me-Logos-kan Mitos

Mitos dan logos sebenarnya berangkat dari titik tolak yang sama, keingintahuan, dan keresahan akibat tidak tahu. Keduanya menenangkan manusia.

Orang yang percaya gerhana matahari adalah akibat matahari dimakan raksasa juga mengalami ketenangan ketika menghadapi gerhana matahari. Ia sudah merasa tahu sebab gerhana dan punya penjelasan, bahkan cara menyikapinya. Masyarakat justru semakin guyub dan rukun karena ritual pukul lesung bersama yang disertai doa bersama.

Meskipun didasarkan pengetahuan yang salah, dampaknya baik. Wajar banyak orang menyukai mitos. Ada rasa sakral dan kebersamaan yang hangat.

Sebaliknya logos menuntut usaha meneliti. Butuh teknologi. Hasilnya adalah gerhana matahari itu proses alam ketika matahari, bulan dan bumi sejajar sehingga cahaya matahari tertutup oleh bulan. Karena ada resiko, maka sebaiknya masuk rumah, menutup semua lobang cahaya di rumah, menyiapan camilan dan menonton tivi, seperti saat gerhana matahari total tahun 1983. Ketika alat-alat berkembang, orang bisa melihat gerhana itu dengan kacamata tertentu.

***

Sayangnya, situasi dalam menghadapi gerhana ala logos kurang sakral dan hangat. Bagi orang beragama, masih ada shalat gerhana. Bagi yang tidak taat agama, situasi gerhana menjadi hambar. Tidak heran jika orang menyukai takhayyul karena takhayyul itu membawa perasaan sakral dan memantik hangatnya ikatan sosial, meski manipulatif.

Baca Juga  Prof. Malik: Trendsetter Inovasi Sekolah

Sebenarnya logos dan mitos itu berangkat dari spekulasi yang sama. Namun keduanya menempuh jalan berbeda dan membawa hasil berbeda. Mitos langsung melompat pada spekulasi dan pendekatan magis, seperti ritus. Ada kalanya tampak ada dampak positif dari kondisi mental yang terbawa oleh keyakinan yang menenangkan itu.

Ada kisah kematian berturut-turut beberapa selama dua minggu di satu kampung setelah ada warga bunuh diri. Warga menduga bahwa bunuh diri menyebabkan wabah bagi yang lain. Warga memutuskan melakukan ritus keliling desa secara telanjang oleh kaum lelaki. Setelah ritus itu dijalankan, kasus kematian warga berhenti.

Tetapi pertanyaan pokok belum terjawab secara kausalitas mengapa orang-orang meninggal pada waktu berdekatan. Mengapa di tempat lain terjadi bunuh diri, tetapi tidak diikuti kasus kematian lain. Apakah ritual keliling dengan telanjang mencegah kematian beruntun dan bisa dipakai dalam kasus wabah lain.

Keterbatasan Takhayyul

Di sinilah keterbatasan takhayyul. Mitos tidak punya penjelasan valid dan reliabel, tidak terukur dan tidak terprediksi secara akurat. Hal itu tidak menafikan bahwa kebenaran ilmu pun juga relatif. Namun ilmu mampu menyediakan penjelasan terbuka dan bisa diverifikasi. Keterverivikasian inilah yang menurut Wilhelm Dilthey sebagai demarkasi ilmu.

Saat ini negara-negara dengan standar hidup tinggi dan maju adalah negara-negara dengan kultur logos yang kuat. Mereka siap dengan perangkat ilmiah untuk mengolah alam dan mengatur manusia berdasarkan riset dan ilmu. Perkembangan lembaga sosial hingga cara mengatur masyarakat sangat dinamis dan kreatif. Negara-negara yang kuat kultur mitosnya menjadi konsumen dari pengetahuan dan hasilnya yang disuplai dari negara-negara dengan kultur logos.

Namun mitos dan magisme menyediakan dampak sosial yang menentramkan dan perasaan spiritual yang dalam. Hal itulah yang membuat penganut takhayyul begitu kuat berpegang pada mitologi.

Tantangannya adalah bagaimana melakukan tadakhkhul talfiqi, dengan mengejar kemajuan ilmu, seraya tetap memegang kehangatan sosial dan spiritual yang berdasarkan keyakinan agama yang jelas.

Pada titik ini kita harus kembali pada manhaj tarjih. Bukankah aspek agama diwakili pendekatan bayani, ilmu diwakili pendekatan burhani, dan saralitas-spiritualitas diwakili pendekatan irfani? Ketiganya saling melengkapi. Inilah peluang kita mendefinisikan kembali batas takhayyul yang diterima (sahih) dan takayyul yang ditolak (fasid/ batil).

Editor: Yahya FR

Related posts
Moderasi

Menganut Agama, Memperjuangkan Kemanusiaan

6 Mins read
Kalau agama hanya dipahami sebagai “gincu”, maka jangan heran apabila pemeluk agama hanya sibuk pada ritual ibadah mahdah yang mereka rasa langsung…
Moderasi

Syiah Bukan Islam? Belum Tentu!

4 Mins read
Kepulangan Jalaludin Rakhmat membuat pedebatan soal Syiah kembali mencuat di media sosial. Perlu diketahui, eskalasi perdebatan Sunni vs Syiah di media sosial…
Moderasi

Restorasi Makna Keislaman (2): Ketulusan dalam Beragama

3 Mins read
Sebelumnya, telah dibahas restorasi makna keislaman melalui semangat Islam Wasathiyah. Jadi menurut M. Din Syamsuddin, hakikat Islam, kerahmatan, dan kesemestaan (rahmatan lil…

Tinggalkan Balasan

Mari Kolaborasi
Mari Berkolaborasi bersama kami "IBTimes.ID - Cerdas Berislam" dan para kontributor lainnya untuk memproduksi narasi Islam yang mencerahkan.
Donasi dapat melalui Bank Mandiri 137-00-5556665-3 a.n Litera Cahaya Bangsa