Apakah Muhammadiyah Bisa Membenahi Gaya Sepak Bola Indonesia?

 Apakah Muhammadiyah Bisa Membenahi Gaya Sepak Bola Indonesia?
Foto: Republika            

Siapa warga Indonesia, khususnya kaum adam, yang tidak suka pada urusan si kulit bundar? Beragam usia dan profesi tak ketinggalan menjadikan obrolan seputar sepak bola di warung kopi dan kantor-kantor tempat mereka bekerja. Memang tak ada habisnya, terus bergulir seperti bola yang disepak oleh pemain sesuai yang mereka inginkan.

Kemudian kita tahu bahwa sepak bola adalah olahraga yang membutuhkan banyak keterampilan dasar. Kemampuan tersebut antara lain passing, sprint, lompat, kelenturan tubuh dan tak ketinggalan intelegensi.

Intelegensi dan Muhammadiyah

Menurut David Wechsier dalam ilmu psikologi integensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional dan menghadapi lingkungan secara efektif. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa intelegensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Tentu seorang pemain sepak bola perlu memiliki intelegensi, karena berpengaruh terhadap pergerakannya di lapangan.

Seperti misal Andreas Iniesta, jenderal lapangan tengah saat timnas Spanyol berjaya, memiliki penempatan yang cerdik sehingga mudah mengirimkan umpan pada penyerang. Selain itu, kita mengenal Deco, pemain legendaris kelahiran Portugal ini sedikit berlari namun bisa mengirim bola ke seluruh penjuru lapangan dengan akurat.

Paling fenomenal adalah Fillipho Inzaghi. Penyerang yang mengawali karirnya bersama Piacenza ini dikenal sebagai pemain yang “terlahir offside” dan minimin pergerakan di lapangan. Dengan skill yang biasa-biasanya saja sebagai striker, namun Inzaghi diberkahi kemampuan analisisnya yang cerdik. Sehingga dirinya sering mencetak gol dari sudut yang tidak diperkirakan oleh bek lawan. Ketiga pemain ini membuktikan bahwa sepak bola adalah olahraga yang membutuhkan intelegensi sebagai pelengkap kemampuan fisik.

Nah kemudian kemampuan intelegensi biasanya didapat seorang pemain sepak bola saat menempuh pendidikan formal. Maka dari itu perihal sepak bola dan pendidikan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Dalam tulisan ini, saya ingin membahas kaitan gaya permainan sepak bola yang banyak diterapkan di Indonesia dengan fenomena pendidikan Indonesia hingga membentuk para atlet sepak bola seperti yang kita lihat sekarang. Juga bagaimana peran Muhammadiyah mengaitkan perihal pendidikan dan sepak bola.

Meski Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi Islam sosial kemasayarakatan yang bergerak di bidang pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial namun Muhammadiyah meyakini bahwa dari sepak bola lah bangsa ini bisa bersatu. Melihat fakta yang dinilai jauh dari harapan, seperti halnya kerusuhan antar supoter dan prestasi sepak bola Indonesia yang tak kunjung membaik, Muhammadiyah ingin mengedukasi masyarakat lewat sepak bola.

Warna Sepak Bola Indonesia

Ada beberapa “warna” khas sepak bola Indonesia, antara lain:

(1) Kurang efisien. Seorang anak yang menempuh pendidikan di Indonesia diharuskan mempelajari berbagai macam ilmu yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Hasilnya disaat anak-anak tamat dari sekolah, mereka bingung ilmu mana yang harus mereka dalami. Dengan kata lain bahwa pendidikan di Indonesia kurang efisien.

Hal ini pun berimbas pada permainan sebagian besar tim di Indonesia. Selalu mengandalakan long ball, padahal pemain-pemain Indonesia tidak memiliki tubuh yang jangkung. Hasilnya saat bermain untuk timnas pemain-pemain Indonesia tidak bisa menguasai bola dengan lama. Hal tersebut membuat permainan timnas tidak efisien.

(2) Tidak bisa memaksimalkan potensi. Setiap anak terlahir dengan potensinya masing-masing, namun kerap kali sekolah-sekolah di Indonesia tidak bisa menampung potensi yang dimiliki oleh anak dan bahkan membunuh potensi anak. Fenomena ini terjadi karena kurangnya apresiasi terhadap anak yang memiliki kemampuan di luar akademik. Begitu pula pelatih-pelatih di Indoesia, tidak bisa memaksimalkan potensi para pemainnya.

Sebenarnya ciri khas pemain Indonesia adalah kecepatan, seperti kita tahu banyak sprinter andal semacam Andik Vermasyah, Terens Puhiri, Rico Simanjuntak, M Rahmat, Sadil Ramdani, Asnawi Mangkualam, dan masih banyak lagi. Namun tim-tim Indonesia masih saja bermain dengan umpan jauh. Sebenarnya jika potensi ini dimaksimalkan permainan Indonesia bisa lebih simpel dan pemain akan lebih enjoy dalam pertandingan.

(3) Kurang menghargai proses. Dengan sistem ujian yang diterapkan di pendidikan Indonesia, banyak anak-anak yang kurang menghargai proses karena kita tahu dianggap wajarnya budaya mencontek. Selain itu dari pihak guru juga kerapkali membuat nilai “palsu” karena dituntut oleh pemerintah agar memberikan nilai bagus. Padahal, dalam proses belajar-mengajar, anak kurang bisa mengikuti dengan baik. Begitu juga persepak bolaan Indonesia yang hanya mau hasil instan saja tanpa menghargai suatu proses.

Kerapkali PSSI selaku badan otoritas tertinggi dalam sepak bola Indonesia mendepak pelatih timnas yang hanya kalah dalam beberapa pertandingan saja. Juga praktik naturalisasi pemain yang menurut saya mematikan bakat-bakat pemain muda Indonesia.

Sekarang sulit kita jumpai penyerang lokal sekelas Kurniawan Dwi Yulianto, Ilham Jayakusuma atau Bambang Pamungkas. Karena PSSI memang menginginkan hasil instan dengan menaturalisasi pemain.

Padahal jika kita amati Indonesia tidak kekurangan penyerang lokal yang berbakat. Namun, karena mereka tidak diberi ruang untuk berproses akhirnya “mati” dengan perlahan. Melihat fenomena tadi kita harus mengakui bahwa sedikit banyak pola pendidikan di Indonesia berpengaruh terhadap gaya maupun regulasi di sepak bola Indonesia. Entah saat mereka menjadi pemain, pelatih, atau pengurus PSSI.

Kebutuhan Edukasi

Antara sepak bola  Indonesia dan Muhammadiyah sebenarnya memiliki hubungan yang erat. Bahkan diantara pendiri PSSI adalah anggota Muhammadiyah yaitu Soeratin Sosrosoegondo dan Abdul Hamid BTN (Sumber: Suara Muhammadiyah). Maka dari itu dakwah Muhammadiyah tidak sebatas di mimbar saja, melainkan masuk ke dalam ranah sepak bola. Pada musim ini khususnya PWM Jatim mengakuisisi PS Lumajang dan berganti nama PS HW yang akan berkompetisi di Liga 2.

Dalam pengamatan saya dengan banyaknya mafia bola atau pengaturan skor, Muhammadiyah dengan PS HW nya ingin mengedukasi bahwa dalam olahraga-lah kejujuran yang diutamakan. Selain itu ada pula kerjasama yang dilakukan antara Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dengan klub Persebaya. Seperti kita tahu Koko Ari Araya yang akhir-akhir ini bersinar dengan Persebaya adalah salah satu mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.

Dengan hal ini diharapkan akan mencetak pemain yang tidak hanya berkarakter ketika di lapangan saja, melainkan juga di luar lapangan. Menarik menantikan peran Muhammadiyah terhadap gaya sepak bola Indonesia.

Editor: Nabhan


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis dan editor yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
Mandiri 137-00-5556665-3
A.n Litera Cahaya Bangsa

Romiz Alam

Romiz Alam

Alumnus Mu'allimin Aktif di PDPM Wonosobo

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *