Bersama Pak AR, Semuanya “Serba Kebetulan”

 Bersama Pak AR, Semuanya “Serba Kebetulan”
Ilustrasi: Republika            

Adab bertamu adalah menghormati tuan rumah. Sebaliknya, tuan rumah akan memuliakan sang tamu semampunya. Kadang tidak semua orang, khususnya warga Muhammadiyah, bisa memuliakan tamu dengan standar umum atau layaknya menjamu tamu. Ada yang hanya mampu menjamu tamu sekedarnya. Bahkan, ketika sang tamu menginap, tuan rumah hanya mampu memberikan fasilitas yang amat sederhana. Tetapi bagi Pak AR, itu semua tidak jadi masalah. Malah Pak AR menganggap itu semua “serba kebetulan.”

Apa yang maksud serba kebetulan?  

Seperti biasa, dikisahkan oleh Syukriyanto AR dalam buku Anekdot dan Kenangan Lepas Tentang Pak AR (2005), kali ini cerita ketika Pak AR diundang untuk mengisi pengajian oleh ranting Muhammadiyah di Desa Krendetan, Purwodadi, Jawa Tengah, pada tahun 1963-an. Konon, perjalanan dari Yogyakarta ke Purwodadi memakan waktu cukup lama. Maklum, Pak AR pakai kendaraan umum (bus) yang kadang ‘ngetem’ lama di suatu tempat, sehingga ketika sampai di Desa Krendetan waktu sudah sore. Oleh panitia setempat, Pak AR langsung diantar ke salah satu keluarga Muhammadiyah sebagai tempat transit. Nah, dari sinilah kisah “serba kebetulan” itu dimulai.

Sampai di rumah milik keluarga Muhammadiyah yang jadi tempat transit, Pak AR disuguhi teh. Tapi menurut kesaksian Syukriyanto AR, konon tehnya kurang manis. Lalu terjadilah percakapan antara Pak AR dengan tuan rumah.

“Maaf Pak AR, tehnya kurang manis”

“Tidak apa-apa, malah kebetulan. Kata dokter, kalau kebanyakan gula kita bisa kena penyakit kencing manis….”    

Di rumah tempat transit tersebut, Pak AR istirahat sebentar. Tidak lama kemudian waktu Maghrib tiba, Pak AR shalat berjamaah di masjid. Pulang dari masjid kembali lagi ke rumah tersebut dan Pak AR diajak makan malam.

Baca Juga  Islam Enteng-entengan (12): Bolehkah Ziarah Kubur Membawa Bunga?

“Maaf Pak AR, masakannya terasa kurang  asin,” kata tuan rumah sembari memanggil istrinya minta garam.

“Tidak apa-apa, tidak usah repot-repot. Kata dokter, kalau kebanyakan garam, bisa cepat kena darah tinggi,” jawab Pak AR spontan.  

Tuan rumah jelas merasa tidak enak karena suguhan untuk Pak AR dirasa kurang istimewa. Tapi penerimaan dan pengertian Pak AR telah membesarkan hati tuan rumah.

“Terima kasih Pak AR,” kata tuan rumah menyampaikan penghormatan atas sikap Pak AR.

Konon, sehabis makan bersama Pak AR bersama pengurus ranting lainnya pergi ke tempat pengajian sampai larut malam, kira-kira jam 23.00. Selesai pengajian, Pak AR dipersilahkan istirahat menginap di rumah tempat transit tadi. Tetapi tidak ada tempat tidur yang tersedia, hanya kasur tipis yang digelar di atas tikar di lantai. Tuan rumah mempersilahkan Pak AR beristirahat sambil bilang, “Maaf Pak AR, tidak pakai dipan.”

Nah, mau tahu apa jawab Pak AR ?

“Terima kasih, tidak apa-apa. Malah tidak akan jatuh. Kalau pakai dipan kadang-kadang bisa jatuh” jawab Pak AR.

Tuan rumah mengucapkan terima kasih atas penerimaan dan pengertian Pak AR sambil sekali lagi memohon maaf.

“Maaf Pak AR, lampu di kamar wattnya kecil. Suasananya jadi redup.”

“Tidak apa-apa, kalau redup malah cepat tidur…”

Tuan rumah pun tersenyum lega mendengar jawaban Pak Ar. “Wah, bersama Pak AR ini semuanya serba kebetulan…”

Editor: Arif


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis dan editor yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
Mandiri 137-00-5556665-3
A.n Litera Cahaya Bangsa

Avatar

RedaksiIB

https://ibtimes.id

IBTImes.ID - Beyond the Inspiration: Keislaman, Kemodernan, dan Keindonesiaan

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *