Kaunia

Betapa Tidak Pentingnya Reuni 212

3 Mins read

Novel Bamukmin, Wakil Sekretaris Jenderal Persaudaraan Alumni 212 menggulirkan wacana Reuni 212 yang rencananya akan dilaksanakan pada 2 Desember 2021 mendatang. Tidak tanggung-tanggung, ia mengklaim reuni tersebut akan diikuti 7 juta massa yang akan menuntut pemerintah Indonesia agar membebaskan Habib Rizieq Shihab. Lebih dari itu, para massa tersebut akan mendesak pemerintah untuk mengusut tuntas pembantaian 6 anggota FPI.

Reuni 212 Tidak Penting

Agaknya segelintir pihak di tubuh umat Islam memiliki kegemaran merawat emosi kolektif umat. Amarah itu menerus diternak untuk kemudian menjadi senjata membunuh lawan politik tanpa memikirkan dampak panjang dari laku tindakannya. Jadilah internal ummat Islam sibuk mengembangbiakkan amarah daripada bertindak menyelesaikan masalah.

Amarah yang meluap-luap itu mengalahkan akal sehat dan nurani yang jernih. Sialnya amarah tersebut berbarengan dengan sikap mendaku diri sebagai kelompok paling benar dan selamat. Tak ayal, ummat terbiasa dalam sikap ekslusif dan tertutup dengan komunitas keagamaan yang lain.

Dalam segala alasan yang rasional, penulis memandang bahwa rencana reuni 212 merupakan kegiatan yang tidak penting setidaknya karena beberapa hal:

Pertama, esensi utama gerakan 212 silam untuk menjebloskan Basuki Tjchaya Purnama (Ahok) ke penjara sudah tunai. Ahok sudah menjalani hukuman. Kedua, bila argumennya adalah soal pembebasan Habib Rizieq Shihab dan pengusutan mengenai 6 anggota FPI yang terbunuh, seharusnya kasus ini dibawa dan dikawal ke ranah hukum agar tidak kembali memantik emosi kolektif. Ketiga, banyak hal-hal penting dan produktif lain yang seharusnya diurusi umat Islam. Produktivitas tersebut tentu akan mendapatkan gangguan bilamana segelintir kelompok umat Islam masih sibuk mengaduk emosi umat.

Apa yang Lebih Penting?

Lalu pertanyannya kemudian, apa yang lebih penting dari reuni 212?: pertama, perlunya keterlibatan ummat Islam dalam menyelesaikan masalah di internalnya sendiri. permasalahan itu misalnya ialah perpecahan dan konflik di lingkungan umat Islam, persoalan ketertinggalan umat Islam di bidang ekonomi, pendidikan dan penguasaan ilmu pengetahuan dan tekonologi serta problem lain yang selalu menjadi batu sandung bagi kemajuan umat Islam.

Baca Juga  Sikap Politik Komikus dan Islamisme

Umat Islam harus punya tradisi mengukur diri sendiri alih-alih menembak kelompok yang lain. Inilah yang di dalam ummat Islam disebut muhasabah. Seperti sering kita amati, di bidang ekonomi umat Islam masih tertinggal jauh bila dibandingkan dengan komunitas agama lain di dunia. Di bidang politik, umat mengalami krisis ketokohan setelah banyak elit politik umat Islam yang justru terjebak dalam budaya politik serba boleh (permisif), serba menerabas (pragmatis), dan serba uang (materialis).

Penyakit politik demikian juga menempa partai-partai Islam yang kebingungan arah dalam menerapkan ajaran agama Islam secara subtansial di ranah politik. Di bidang pendidikan, kualitas umat agaknya masih tertinggal, produksi pengetahuan oleh intelektual muslim masih mengalami hambatan serius dalam usaha bersaing dengan intelektual dari komunitas lain. Apalagi di bidang teknologi, umat Islam masih menenmpatkan diri sebagai konsumen teknologi alih-alih menjadi produsen/pencipta teknologi.

Kedua, pentingnya peran strategis Ummat Islam dalam menyelesaikan masalah global dan masalah kebangsaan seperti korupsi, oligarki ekonomi, rentetan kasus pelecehan seksual, masalah ekploitas alam, kesenjangan sosial-ekonomi, kemiskinan dan paket persoalan yang lain. Sebagai komunitas keagamaan terbesar di Indonesia, di pundak umat Islam ada beban moral untuk menyelesaikan sekelumit persoalan kebangsaan tersebut.

Beban masalah yang mendera dinamika kebangsaan tersebut seharusnya menuntut umat Islam untuk tampil di garda depan menyelesaikan konflik struktural maupun kultural. Proses penyelesaian masalah demikian tidak dimungkinkan bilamana ummat masih sibuk dengan penistaan agama dalam makna paling sempit. Umat harus berfokus menyelesaikan masalah penistaan agama yang lebih kontekstual dan luas, yakni korupsi, nepotisme, oligarki, pelecehan seksual, dan sebagainya—persoalan yang sialnya banyak dilakukan justru oleh umat beragama.

Reuni 212 hanya menunjukkan budaya bergerombol yang kontraproduktif, tradisi yang selalu menggunakan dalih demokrasi untuk membenarkan sikap-sikap emosional, perilaku yang justru kian menambah daftar masalah penerapan demokrasi di negara ini.

Baca Juga  UEA: Penjelajahan Antariksa dan Misi Suci Umat Islam

Transformasi Umat Islam

Islam harus diletakkan dalam esensinya yang hakiki: menjadi solusi bagi seluruh persoalan di muka bumi (rahmatan lil ‘alamin). Aneka ragam persoalan dan watak buruk yang kini menggelayuti ummat Islam harus diubah (transformasi). Agenda transformasi tersebut setidaknya menyangkut beberapa hal:

Pertama, transormasi dari pemahaman normatif ajaran agama Islam menuju pemahaman subtantif. Islam jangan diletakkan sekadar sebagai aturan aturan formal-normatif, melainkan pula sebagai sebuah ajaran agama yang subtantif. Kedua, transformasi dari Jihad Lil Muaradhah ke Jihad Lil Muwajahah, jihad dari reaktif menuju proaktif dan produktif. Islam jangan sampai memiliki budaya mengurai masalah tapi tak mampu menyelesaikan masalah.

Ketiga, transformasi dari budaya verbalistik menuju budaya bertindak. Ajaran-ajaran agama jangan sampai mandeg di aras ujaran belaka tapi kalah dalam perilaku. Islam harus ditunjukkan bukan saja sebagai akumulasi wacana-wacana ideal, ia harus dipraktikkan dalam laku faktual di masyarakat—sebagaimana esensi islam sebagai agama pembuktian.

Keberadan umat Islam hingga kini masih seperti genangan yang beku, bukan seperti gelombang deras yang berarti bagi perubahan sosial. Umat agaknya masih berhenti seperti buih di lautan, banyak secara kuantitatif tapi nihil secara kualitatif, ada tapi tidak bermakna. Kuantitas ummat Islam sudah saatnya menjadi gelombang pemecah masalah. Dimulai dari saat ini, sesaat setelah kita putuskan untuk menghentikan wacana reuni 212.

Editor: Nabhan

Print Friendly, PDF & Email
8 posts

About author
Ketum DPD IMM Daerah Istimewa Yogyakarta
Articles
Related posts
Kaunia

Ru'yat Ta'abbudi dan Penyatuan Kalender Islam

2 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Perkembangan pemikiran tentang kalender Islam di kalangan ormas Islam mengalami kemajuan baik dari segi pemikiran maupun instrumentasi…
Kaunia

Menaksir Berat Sapi Secara Cepat

1 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Facebook Telegram Twitter Linkedin email Baca Juga  Sikap Politik Komikus dan Islamisme
Kaunia

Moderasi dalam Sidang Isbat

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Di Indonesia kehadiran sidang Isbat sudah lama diperdebatkan keberadaannya. Di satu sisi dianggap sebagai jembatan untuk mempertemukan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *