Oleh : Nurbani Yusuf*

 

Sebagian orang Muhammadiyah boleh tak setuju dengan sosok Buya Syafi’i Maarif yang di-guru-bangsa-kan oleh banyak kalangan dan elemen masyarakat Indonesia. Orang Minang juga boleh mengambil gelar Buya pada nama depannya. Sebagian kecil pemuda Muhammadiyah juga boleh bilang bahwa Buya adalah sosok liberal pro-penista agama. Atau sebutan lainnya yang disuka. Buya tetaplah guru bangsa. Dihormati di banyak elemen bangsa karena kesantunan, integritas dan istiqamah. Tanpa Muhammadiyah pun, Buya sudah diakui sebagai guru bangsa oleh banyak elemen masyarakat di tanah air, itu yang tak bisa ditampik.

Aku malu sebagai orang Muhammadiyah. Jika tak hormat pada para sesepuh, para guru, para senior dan pendahulu. Meski tak pernah berkirim doa atau sekedar barakah Al Fatihah–setidaknya berkata santun dan ber-husnudzon sudahlah cukup. Kalau bukan kita yang menghormati, lantas siapa lagi? Ironisnya, Buya mendapatkan gelar itu semua bukan dari kita.

Kita juga boleh mengatakan apapun tentang Buya sesuka hati tak ada larangan–bahkan menyebutnya kafir sekalipun Buya tak keberatan. Dan Buya tetap konsisten di jalan kebenaran yang diyakini: jalan kemanusiaan, kebhinnekaan dan keadaban.

Kemerdekaan manusia yang sejati adalah kemerdekaan yang memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada sesama. Tanpa diskriminasi ras, agama dan latar belakang sejarah, demikian Buya berujar. Islam adalah agama humanis. Keteladanan yang diberikan oleh sang pembawa risalah cukuplah jelas. “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak,” kata Nabi Muhammad saw. Tata laku sebagai poin dasar peradaban kemanusiaan. Ahklak Nabi saw. adalah Alquran. Jika kalian berhati keras lagi kasar pasti mereka akan menjauh darimu. Dakwahmu bakal gagal.

 

^

Buya seakan sendirian melawan radikalisasi agama, menjadi benteng terakhir kemanusiaan dan kebhinekaan. Dia bukan saja dihujat tapi juga direndahkan “kaumnya” yang gagal paham, dengan berbagai fitnah dan sebutan. Buya terus istiqamah mengingatkan betapa bahayanya memperalat Tuhan untuk tujuan politik praktis. Bangsa ini harus dijaga dari syahwat sektarian dan budaya Arab jahiliyah yang di-agamakan.

Terlalu mahal bila masa depan bangsa dipertaruhkan oleh kepentingan para pemimpin agama yang tak bisa menahan diri dari syahwat berkuasa. Sebagai guru, Buya terus memberi nasehat dan mengingatkan. Dan kita tahu bagaimana reaksi yang diingatkan tanpa menyebut nama.

Yang harus dipahami adalah bahwa Buya bukan saja milik orang Minang meski lahir dan besar di Sumpur Kudus. Bukan hanya milik orang Muhammadiyah meski pernah menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah. Bukan milik jamaah masjid Nogotirto tempat dimana Buya selalu berjamaah shalat dan hadir lima menit sebelum adzan berkumandang. Buya milik semua orang yang punya komitmen luhur tentang kemanusiaan, kebhinekaan dan akhlaqul karimah, siapapun itu.

 

^

Buya telah melampaui ruang dan waktu. Berkunjung dan berbagi kabar pada sesama agamawan yang dirundung musibah. Bukan kunjungannya yang disoal, tapi kecemasannya tentang konflik antar agama yang menjadi ancaman stabilitas, itu yang dipikirkan.

Tak urung Presiden pun harus menuntun dan memapah orang sepuh ini menuruni tangga, sebagai tanda ta’dzim. Juga menjadikannya salah satu saksi pada pernikahan putrinya. Para politisi dan negarawan datang dan hadir meminta nasehat. Panglima TNI, Kapolri, Ketua Parlemen, anggota kabinet, sampai Ketua Umum PP Muhammadiyah pun berkali sowan, para saudagar kaya, gubernur, dan cagub. Bahkan uskup dan bantey berta’dzim dan meminta nasehat kepada orang yang dianggapnya sebagai guru.

Grha Suara Muhammadiyah pun ramai mendapatkan berkahnya. Jadi jujugan negarawan dan politisi elite yang hanya sekedar ingin berjabat tangan dan mendapat dua atau tiga patah petuah gurunya. Sebuah kebiasaan di luar kelaziman dan tradisi Muhammadiyah yang biasa egaliter dan abai pada senior.

 

^

Guru Bangsa itu tetap saja bersahaja. Terus produktif berkarya dan menulis setiap hari di berbagai media nasional. Buya tidak minta pengawalan karena takut diteror dan tetap jalan kaki saat ke masjid atau ke pasar. Naik kereta dan antre di rumah sakit sesuai nomor urut. Tak punya sekretaris apalagi bodyguard. Mudah ditemui di masjid ketimbang di rumahnya. Ngopi, mbakmi atau beli gorengan bersama tetangga dan jamaahnya. Banyak yang mengaku betah berlama-lama ngobrol dengan Buya.

Semoga karamah dan ma’unah, keberkahan dan ridha selalu diberikan untuk Buya.

 

*) Komunitas Padhang Makhsyar

Tinggalkan balasan

mohon berikan komentar anda
mohon untuk menuliskan nama anda